Teropong

Kurs

12-Mar-2010 / 15:57 WIB
Mata Uang Jual Beli
USD 9,250.00 9,100.00
SGD 6,639.25 6,508.25
HKD 1,193.15 1,171.85
CHF 8,704.65 8,540.65
GBP 14,009.00 13,727.00
AUD 8,500.60 8,326.60
JPY 102.70 100.12
EUR 12,711.65 12,477.65
Senin, 19 Oktober 2009 14:12

Pemerintah dan Warga Paling Bertanggung Jawab


JAKARTA – Hingga kini, aksi preman di Ibu Kota masih saja mudah ditemukan. Mengapa preman-preman ja­lan­an tersebut masih saja ada? Lalu, apa yang harus dilakukan? Siapa yang paling bertanggung jawab dengan masalah premanisme jalanan di Jakarta ini? Berikut wawancara SH dengan kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Drs Josias A Simon, M.Si di Depok baru-baru ini.


Berikut kutipannya.

Apa penyebab munculnya ­preman?
Sejarah panjang Indonesia mencatat masalah premanisme dapat dilihat dari masalah akar budayanya. Dahulu kita mengenal ada istilah jagoan, jawara, dan centeng. Itulah akar dari preman yang saat ini ada. Para preman menjustifikasi tindakan yang mereka lakukan semata-mata sebagai upaya bertahan hidup. Namun pertanyaannya, bukankah masih banyak orang yang bertahan hidup, tetapi tidak harus menjadi preman?
Jadi, masalah preman bukan hanya karena ekonomi, tetapi ju­ga melibatkan unsur-unsur lain, seperti masalah sosial, bu­da­ya, agama, dan ketegasan pe­me­rintah dalam melakukan upaya munculnya preman jalanan.

Siapa pihak paling ­bertanggung jawab?
Masyarakat dan pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Saat ini sulit menyalahkan salah satu pihak saja karana masyarakat harus mau melaporkan tindak kriminal yang menimpa mereka. Contohnya, masalah peme­rasan yang dilakukan ke­pa­da para sopir ang­kutan kota. Secara tidak sadar, dengan melayani keinginan preman tersebut, kami telah menyebabkan situasi ekonomi “biaya tinggi” karena harus menambah pengeluaran “uang keamanan” untuk para preman.
Cara yang paling mudah adalah dengan melakukan pelaporan kepada aparat terkait, baik pihak kepolisian maupun pemerintah daerah (pemda) dari tingkat atas hingga tingkat yang paling rendah. Selain itu, ma­sya­rakat juga dapat me­lakukan pembinaan langsung kepada anggota masyarakatnya. Rang­kul para preman tersebut, dekati dengan cara yang baik, libatkan mereka dalam setiap kegiatan-kegiatan yang positif di ling­kung­annya sendiri. Ja­ngan jauhi, apalagi memusuhi para preman tersebut.
Masyarakat sendiri tanpa sadar melakukan tindakan upa­ya pembiaran kepada para preman, “Selama preman itu tidak mengganggu, biarkan saja daripada repot.” Prinsip tersebut ten­tunya salah,dan dapat membuat preman semakin ber­mun­culan tidak terkendali. (cr-9)