
| Mata Uang | Jual | Beli |
|---|---|---|
| USD | 9,082.00 | 8,932.00 |
| SGD | 6,690.42 | 6,681.42 |
| HKD | 1,159.50 | 1,158.00 |
| CHF | 8,986.85 | 8,811.85 |
| GBP | 14,029.45 | 13,744.45 |
| AUD | 8,264.55 | 8,092.55 |
| JPY | 108.33 | 105.52 |
| EUR | 11,660.55 | 11,440.55 |
Biennale Jogja X – 2009 :
OLEH: YUYUK SUGARMAN
Yogyakarta - Kota Yogya hari itu menunjukkan jati dirinya sebagai kota budaya. Di banyak sudut kota, di ruang publik, terpampang karya seni para perupa. Mereka merayakan perhelatan akbar seni rupa Biennale Jogja X yang dibuka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Jumat (11/12) malam.
![]() |
Bahkan, sehari sebelumnya, mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, secara mendadak pula mengunjungi panitia Biennale Jogja X yang tengah mempersiapkan acara terbesar perhelatan seni rupa tersebut. Kalla tak hanya menengok, namun juga memberikan sumbangan sebesar Rp 10 juta.
Suasana pembukaan Biennale Jogja X yang berlangsung Jumat malam kemarin sangat meriah. Ribuan warga Yogya berkumpul di Taman Budaya Yogya. Mereka menyaksikan karya-karya puncak prestasi para perupa Yogya.
Acara pembukaan ini juga dimeriahkan wayang milenium, arak-arakan Ogoh-Ogoh oleh kelompok Sanggar Dewata Indonesia, Jathilan Ciak Geni, dan penampilan Kua Etnika yang dipimpin Djaduk Feriyanto.
Salah satu adegan yang menarik dan sangat menjadi perhatian adalah tampilnya patung Barack Obama, presiden Amerika Serikat (AS) yang tengah naik becak yang dikemudikan oleh si pembuatnya, Wilman Syahnur. Jero Wacik begitu terkesima dan langsung berdiri dan mendatangi Wilman seraya memuji.
“Jika malam ini kita semua berkumpul di sini dalam Peresmian Biennale Jogja X–2009, sesungguhnya kita sedang melakukan “jamming”, menciptakan keriuhan kultural secara bersama-sama dengan penuh improvisasi, sebagaimana tema yang memayungi hajatan Biennale Jogja X-2009 kali ini: Jogja Jamming!” tegas Butet Kartaredjasa, Direktur Biennale Jogja X ini.
Inilah “jamming” yang sesungguhnya. Seni rupa, kata Butet, tidak lagi dikonsumsi sebagian kecil masyarakat dan diperlakukan secara elitis dengan dipingit di ruang-ruang sepi. Tapi, seni rupa menjelma menjadi sebuah tindakan kebudayaan dan mampu menggerakkan partisipasi masyarakat secara langsung. “Seni rupa singgah di hati masyarakat, kembali kepada habitat aslinya,” tambahnya.
Situasi ini, lanjut Butet, kiranya bisa diibaratkan dalam sebuah idiom jawa, gugur gunung, di mana gotong-royong, kebersamaan, masih kental dalam proses sosial berkesenian di Yogyakarta.
Dinamika ini bisa juga dilukiskan sebagai jam session tempat masing-masing seniman saling berdialog, berbagi, serta menciptakan kreasi dalam harmoni.
Butet juga mengatakan, Biennale Jogja X ini nantinya juga akan memberikan penghargaan “Lifetime Achievement Award” kepada dua seniman yang telah mengabdikan hidupnya secara total dalam dunia seni rupa. Selain itu, khusus pada Biennale kali ini, panitia juga akan memberikan penghargaan Respect Award dengan hadiah uang tunai, kepada tiga lembaga atau sanggar yang dinilai mempunyai kontribusi besar dan siginifikan bagi pertumbuhan dan perkembangan seni rupa di Yogyakarta.
“Penghargaan dan hadiah ini dipersembahkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. Siapa mereka, nanti akan diumumkan di acara penutupan sebulan lagi,” tutur Butet.
Direktorat Seni Rupa?
Sementara itu, Jero Wacik mengaku sangat bangga ada perhelatan Biennale Jogja X kali ini. “Suasananya sangat merakyat dan dekat sekali dengan rakyat,” katanya. Bahkan, Jero Wacik, sehari sebelumnya di sebuah pertemuan di Jakarta, mengumumkan tentang adanya perhelatan Biennale Jogja X. Tujuannya agar mereka bisa berkunjung ke Yogya dan melihat karya puncak prestasi para perupa Yogya. “Yang menjadi kekecewaan saya, mengapa tak ada hotel-hotel yang mensponsori acara seperti ini. Ini kan bisnis yang bisa menghadirkan tamu di hotel mereka,” ujar Jero Wacik.
Menurut Jero Wacik, seni rupa haruslah diurus dengan baik. Terkait dengan ini, Jero Wacik juga mengungkapkan tengah menyusun dan mengevaluasi struktur organisasi yang ada di naungannya, apakah sudah pas saat ini membuat direktorat baru.
Saat ini ada Direktorat Jenderal Nilai budaya, seni, dan film. Film menjadi satu direktorat, namun seni rupa masih masuk dalam direktorat seni. Inilah yang lantas ditimbang-timbang apakah sudah saatnya membuat direktorat seni rupa sehingga ada lembaga yang mengurusi secara fokus mengenai seni rupa.
“Ini yang masih terus saya kaji,” tuturnya.
Perlu diketahui, karya-karya yang digelar dalam Biennale Jogja X kali ini terbagi dua bagian. Yaitu yang dipajang di ruang-ruang, di empat gedung utama Taman Budaya Yogyakarta, Gedung Bank Indonesia, Jogja National Museum dan Sangkring Art Space), diikuti 126 seniman perupa dan 6 kelompok seni.
Dan selebihnya adalah karya 197 orang/komunitas menggelar karya-karyanya di tengah kehangatan masyarakat. Karya-karya di ruang-ruang publik ini berupa karya instalasi, mural kampung, dan seni jalanan (street art). Selain itu mereka juga melukisi tanki air, memamerkan karya para master seni rupa tradisonal berusia sepuh, performance, art project, respons kios PKL, melukisi toilet mobil, patung publik, banner, billboard, dan videotronik.
Perhelatan Biennale Jogja X akan berlangsung hingga 10 Januari 2010. n