|
Membawa
Suzuki Menjadi Pemain Utama
di Indonesia
JAKARTA – Sukses yang diraih produk-produk Suzuki tidak lepas dari
tangan dingin Subronto Laras, Presiden Direktur PT Indomobil Suzuki
Internasional. Meski tak selamanya berjalan mulus, Suzuki bisa
dikatakan meraih sukses dengan pangsa pasar yang cukup besar di
Indonesia.
Berbicara tentang jatuh-bangunnya industri otomotif di Indonesia,
mau tak mau, kita harus menyebut Soebronto Laras (61), tokoh yang
membesarkan merek Suzuki di sini. Namanya kini bahkan identik dengan
Suzuki, atau sebaliknya Suzuki adalah Soebronto Laras. Dua nama yang
tak terpisahkan.
Obsesi Soebronto untuk memberikan kontribusi bagi negeri ini, sudah
banyak diwujudkannya. Yang terakhir adalah sebuah produk terbaru
yang telah menjadi impian lamanya, yakni Suzuki APV, kendaraan
multiguna (Multi Purpose Vehicle, MPV).
Soebronto tampak bersemangat sekali jika disinggung soal impiannya.
Ketika ditanya mengapa Suzuki APV memakai mesin 1.500 cc dan bukan
yang lebih besar dari rata-rata pesaingnya, dengan enteng dia
menjawab bahwa mesin berkapasitas 1.500 cc adalah batasan minimum
dari aturan pajak 20 persen. Kalau lebih dari itu maka pajaknya
lebih tinggi.
”Suzuki APV bisa saja memakai mesin 1.600 cc, tapi harganya jadi
lebih mahal sepuluh jutaan,” jelasnya di sela acara peluncuran buku
biografi Soebronto Laras–Meretas Dunia Automotif Indonesia, Minggu
(15/5), di Grand Ballroom, Hotel Hilton.
Mobil, menurutnya, memang telah menjadi kebutuhan hidup di kota. Tak
heran jika bisnis otomotif tetap bergairah. Cuma, sebagian besar
harga mobil sudah tak terjangkau oleh segmen menengah ke bawah.
Oleh sebab itu, wajar jika mobil-mobil yang harganya tak begitu
mahal jadi alternatif konsumen. Suzuki APV diharapkan bisa menjawab
kebutuhan masyarakat. ”Apalagi jika mobil tersebut menjanjikan
kenyamanan sekelas sedan,” ujarnya.
Suzuki APV kini tidak hanya menjadi produk kebanggaan Suzuki, tapi
juga kebanggaan bangsa Indonesia. Pasalnya, mobil keluarga yang
dibuat di pabrik perakitan Suzuki di Tambun ini pada April 2005 lalu
menjadi produk yang dapat dinikmati konsumen otomotif dunia alias
telah diekspor.
”Dalam kurun waktu hampir mendekati tiga dasawarsa, kami tak kenal
lelah bekerja keras dan dijiwai oleh semangat yang tinggi untuk
mempersembahkan produk yang terbaik bagi para pecinta mobil di Asia,
khususnya Indonesia,” jelasnya pada kesempatan lain.
Memenuhi Permintaan Pasar
Penganekaragaman produk untuk memenuhi permintaan pasar pun terus
dilakukan mengiringi meningkatnya pendapatan perusahaan. Sebagai
konsekuensinya, pada tahun 2004, PT Indomobil Suzuki International
dipercaya menjadi mother plant (pabrik induk) untuk memproduksi
Suzuki APV yang dipasarkan ke pasar global dengan variasi mesin
1.600 cc dan 1.500 cc.
”Kepercayaan yang diberikan Suzuki Motors Corporation (SMC) Jepang
kepada kami merupakan kebanggaan tersendiri untuk bisa memproduksi
produk Suzuki dengan sasaran ekspor ke mancanegara,” ujarnya. Pabrik
Suzuki di Tambun, Bekasi telah disulap menjadi manufaktur berkelas
dunia, setelah disuntik dana segar sebesar 11,5 miliar yen Jepang.
”Saya sangat bangga dengan apa yang telah berhasil dikembangkan
bersama putra-putri bangsa Indonesia seperti yang saya cita-citakan
30 tahun yang lalu, pada waktu mulai mengembangkan industri otomotif
Suzuki di Tanah Air. Ibaratnya seperti dreams come true, mewujudkan
impian menjadi kenyataan,” paparnya.
Pada ekspor perdana April lalu, yang dituju barulah kawasan ASEAN,
seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Sampai dengan
April 2005, PT Indomobil Suzuki International sudah mengekspor 1.000
unit.
”Untuk di luar ASEAN, pemasaran ke Timur Tengah, Amerika Latin,
Afrika, dan Oceania, juga sudah kami agendakan. Tahun 2005 kami
menjadwalkan produksi Suzuki APV mencapai angka 70.000 unit. Dari
sejumlah ini, sekitar 25.000 unit untuk ekspor dan sisanya untuk
pasar dalam negeri,” ucapnya.
Model Baru
Suzuki APV, seperti yang diutarakan Soebronto, merupakan model baru.
Desainnya mengikuti karakter negara-negara di ASEAN walau cocok pula
untuk negara di belahan benua lain. Untuk bisa bersaing, empat
kriteria harus menjadi dasar pembuatan mobil ini. Keempat hal
tersebut antara lain, kualitas, harga bersaing di pasar global,
ramah lingkungan, dan memperhatikan aspek keselamatan.
Pada tahun 1979, kenangnya, dia dianggap mustahil untuk
mengembangkan pasar mobil Suzuki. Suzuki kala itu sudah telanjur
dikenal sebagai produsen sepeda motor. Di era itu, orang hanya
mengenal dua merek mobil; Mitsubishi dan Toyota. Pada waktu itu,
Mitsubishi sudah mampu memasok 7.000 unit mobil per bulan, sementara
kemampuan Suzuki baru 100 unit.
Pada 1978, terjadi panen cengkeh di Manado. Ketika merek-merek lain
sibuk di Jakarta dan Jawa, mereka tak memikirkan daerah, Soebronto
masuk ke Sulawesi Utara. Tanpa disadarinya, kendaraan ST20 yang
menjadi andalan terjual 3.000 unit. ”Waktu itu cengkeh mahal di
sana. Satu mobil hanya ditukar dengan beberapa karung cengkeh,”
kenangnya.
Soebronto tak mengingkari jika kebangkitan Suzuki berawal dari
Sulawesi Utara, khususnya Manado. Langkah selanjutnya adalah
menembus pasar Sulawesi, Surabaya, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan
terakhir Jakarta. Penjualan yang semula hanya 1.500 unit per bulan,
kini mencapai 6.000 unit. ”Saya berarti berhasil menjual mobil
terbanyak di Indonesia di antara merek lainnya,” ujarnya bangga.
Tentang produk sepeda motor Suzuki, Soebronto juga antusias
bercerita. Bagaimana dia memutuskan untuk membuat sebuah model
setelah membaca dan menganalisis pasar. ”Bisa dibayangkan bagaimana
kalau kita salah menganalisis pasar dan kecenderungannya, bisa
fatal,” ucapnya.
Ia mencontohkan kini di seluruh dunia sedang terjadi pergantian
karakter motor bebek menjadi skuter. Bagi Subronto, ini menjadi
tanda tanya terus, apakah Indonesia sewaktu-waktu akan kembali ke
skuter.
Dia belajar dari kasus Vespa yang eksis namun hilang diganti motor
bebek. Untuk Indonesia, menurutnya, dia melihat ada constrain secara
teknik. Jenis motor itu memiliki ban kecil, sementara jalan-jalan di
sini rata-rata berlubang, tanjakan, dan banyak polisi tidur sehingga
menjadi kendala untuk pengembangannya.
”Kami berpikir, apakah sudah waktunya untuk berubah. Kalau sekarang
membuat skuter, kami harus memastikan semuanya karena investasinya
tidak kecil. Selain itu, kami melihat jika pasar berkembang dalam
different way, tahu-tahu jenis skuter yang dibutuhkan, mati kami
karena tidak punya produk itu. Jadi untuk itu harus investasi ganda.
Ini berisiko besar, tapi musti dilakukan. Bisa benar, bisa juga
tidak,” jelasnya.
Banyak Aspek
Tapi Soebronto mengamati kompetitor juga telah membuat scootic. Dia
melihat satu bulan hanya terserap 5.000 unit ketimbang kebutuhan
motor secara nasional yang mencapai 350.000–400.000 unit per bulan.
”Artinya, jenis motor itu belum cocok, namun siapa tahu pasar
berkembang, berarti analisis kami salah,” tuturnya.
Menurutnya, dalam mengembangkan produk memang harus melihat banyak
aspek. Kini mengapa ada motor bebek padahal sebelumnya tidak ada.
Ketika Suzuki memulai bisnis jenis motor ini, pasarnya sangat kecil.
Tapi karena multiguna di mana wanita, ibu dan bapaknya memakai,
pasar berkembang pesat.
Di bagian lain Soebronto bercerita, Suzuki kini sedang membangun
sebagai citra motor 4-tak. Usaha keras itu berhasil lewat Smash yang
dibuat untuk menghambat penetrasi motor Cina dengan harga di bawah
Rp 10 juta. Juga Shogun yang bahkan kini sudah dilakukan pergantian
model yang lebih sempurna dengan mesin 125 cc, yang sebelumnya 110
cc. ”Saya bermaksud mematikan pelan-pelan yang 110 cc dengan Shogun
One Two Five,” jelasnya.
Salah satu yang berkesan, menurutnya, Suzuki Shogun 125R yang
mengusung mesin keluaran terbaru yang irit dan tangguh. Dalam
memilih kendaraan, setiap orang pasti menghendaki jenis yang
berkualitas terbaik, desain yang mewah, sporty, serta mudah
perawatannya.
”Secara garis besar, konsep yang melatarbelakangi produk ini adalah
penciptaan sepeda motor bebek 4 tak yang tangguh. Dalam produk ini,
banyak yang kami pertaruhkan demi kepuasan konsumen,” ucapnya.
Diakuinya, penggunaan mesin yang lebih besar pada motor ini
ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan performa di kelasnya. Di
samping itu, desainnya yang ramping menjadikan kendaraan ini lincah
di berbagai kondisi jalanan.
Motor itu merupakan kendaraan yang mengutamakan tenaga, nilai
ekonomis dengan harga yang kompetitif dan irit bahan bakar, serta
kenyamanan berkendara. Performa mesinnya menawarkan torsi yang lebih
baik dalam kecepatan rendah, maupun torsi paling besar dalam
kecepatan sedang.
Rancangan ini ditujukan untuk mengurangi pemborosan yang diakibatkan
oleh mechanical losses. Unsur itulah yang membuat kendaraan tersebut
irit bahan bakar dan nyaman dalam berkendara.
(SH/gatot irawan)
|
|