C  E  O  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Siti Hartati Murdaya, Presiden Direktur PT Jakarta International Expo (JIE)
PRJ 2004 Akan Lebih Bernuansa Internasional


ilustrasi: Gandjar Dewa

JAKARTA – Warga Jakarta sudah pasti sangat akrab dengan salah satu
pameran terbesar yang berlangsung setiap tahun, yakni Pekan Raya Jakarta (PRJ). PRJ ini digelar
pertama kali tahun 1968 dari tanggal 5 Juni hingga 20 Juli dan dibuka atau diresmikan oleh Presiden Soeharto waktu itu dengan melepas merpati pos.

Pekan raya di kawasan Monas. PRJ ini pertama disebut DF, singkatan dari Djakarta Fair. Namun kemudian ejaan tersebut menjadi Jakarta Fair sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia saat ini dan kemudian lebih beken dengan Pekan Raya Jakarta.
Ide penyelengaraan PRJ muncul atau digagas pertama kali oleh Pemerintah DKI yang kala itu dipimpin oleh Gubernur Ali Sadikin atau Bang Ali pada 1967.
Gagasan atau ide ini, karena Pemerintah DKI waktu itu ingin membuat suatu pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama.
Pemerintah DKI waktu itu juga ingin menyatukan berbagai ”pasar malam” yang ketika itu masih menyebar di sejumlah wilayah Jakarta.
Pasar Malam Gambir yang tiap tahun berlangsung di bekas Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), juga merupakan inspirasi dari pameran yang diklaim sebagai ”Pameran Terbesar” ini.
Pemerintah DKI karena terinspirasi oleh Pasar Malam Gambir yang dari dulu sudah ramai dikunjungi dan menjadi ajang ”nongkrong” dan ingin membuat gebrakan, langsung membentuk panitia sementara yang dipercayakan kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Agar lebih sah atau resmi, Pemerintah DKI mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 8 tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.
Sebuah yayasan yang diberikan nama Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta juga dibentuk sebagai badan pengelola PRJ. Sesuai Perda Nomor 8/1998 tersebut tugas yayasan ini bukan hanya menyelenggarakan PRJ saja tetapi juga sebagai penyelenggara Arena Promosi dan Hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun.
Penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair ini, dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan. Pengunjung dan pesertanya bertambah dan bertambah. Dari sekedar pasar malam, ”bermutasi” menjadi ajang pameran Modern yang menampilkan berbagai produk. Areal yang dipakai juga bertambah
luas. Dari hanya tujuh hektare di kawasan Monas kini semenjak tahun 1991 dipindah ke kawasan Kemayoran Jakarta Pusat yang menempati area seluas 44 hektare.
Penyelenggaranya pun ikut berubah. Mulai tahun 1991, penyelenggara dipercayakan kepada PT Jakarta International Trade Fair (JITF). PT JITF menyelenggarakan PRJ hingga tahun 2003 atau PRJ yang ke 36.
Mulai PRJ ke 37 tahun 2004 ini dan pada masa-masa mendatang, penyelenggaraan dipercayakan kepada PT Jakarta International Expo (JIE), yang berkolaborasi dan menggandeng BUMD milik Pemerintah Daerah DKI Jakarta yakni Jakarta Propertindo. PT JIE ini juga menjadi pengelola Arena PRJ yang berada di Kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

China Town
Berubah penyelenggara maka berubah juga visi dan konsep PRJ. PRJ ke 37 yang akan digelar mulai 17 Juni hingga 18 Juli 2004 nanti. Kemasannya sudah mulai berbeda dengan yang sudah berlangsung sebelumnya. Visi PRJ 2004 akan lebih menjadi Fair dan bukan hanya sekedar “Pasar Malam”. Fair tersebut juga akan dibuat go international atau bertaraf internasional.
“PRJ 2004 akan dikemas berbeda. Bukan hanya sekedar malam saja tetapi sudah akan menjadi ajang perkenalan, promosi hingga transaksi bisnis para pengusaha dalam negeri,” ungkap Presiden Direktur PT Jakarta International Expo yang mengelola Arena PRJ dan menjadi penyelenggara PRJ 2004, Siti Hartati Murdaya memulai perbincangan dengan SH di ruangVIP Pusat Niaga Arena PRJ beberapa waktu lalu.
Agar lebih internasional Murdaya menuturkan, pada PRJ 2004 nanti penyelenggara akan menyediakan Paviliun Internasional. Tak cukup hanya membuka Paviliun Internasional, penyelenggara juga akan mengundang negara-negara sahabat untuk membuka stan di arena PRJ 2004 nanti. Bukan hanya dari kedutaan negara-negara sahabat saja tetapi perusahaan-perusahaan multinasional dan internasional diharapkan berpartisipasi dalam event ini.
Wanita pengikut Buddha ini mengungkapkan, PRJ 2004 akan dibuat menjadi pusat promosi dan perdagangan produk dan kerajinan Indonesia dalam upaya menggerakkan roda perdagangan yang mampu bersaing di pasar Internasional.
“Pasar Gambir Kemayoran yang masih berada di Arena PRJ Kemayoran akan disulap menjadi pusat promosi dan perdagangan produk dan kerajinan Indonesia tersebut,” katanya.
Untuk lebih memberikan warna yang lebih khas, selama penyelenggaraan PRJ 2004, Pasar Gambir Kemayoran tersebut akan dirancang dan dibuat menjadi seperti Pecinan (China Town) Jakarta Tempo Dulu.
“Ini dilakukan untuk memeriahkan dan memberikan warna tersendiri penyelenggaraan Jakarta Fair 2004 serta mempromosikan kebudayaan Cina kepada masyarakat,” ungkapnya.
Alasan Pasar Gambir Kemayoran dibuat seperti China Town tempo dulu, menurut Murdaya, penyelenggara Jakarta Fair 2004 ingin mengulang sukses Suzhou Lantern Festival yang digelar di tempat sama tahun 2003 lalu.
“Suzhou Lantern Festival yang diselenggarakan bersamaan dengan Jakarta Fair 2003 sukses dan kami ingin mengulang,” katanya.
Namun, penyelenggara PRJ 2004 lanjut Murdaya, tidak hanya ingin memajang lentera dan lampion berbagai ukuran dan bentuk seperti tahun lalu. Selain memajang lampion dan lentera yang jumlahnya mencapai ratusan dan diimpor langsung dari Suzhou, Cina, penyelenggara ingin memberikan nuansa China Town lebih mendalam dengan mendesain toko dan kios-kios di Pasar Gambir Kemayoran layaknya China Town Tempo Dulu
Gerbang Pasar Gambir Kemayoran hingga Shelter-shelter atau tempat pengunjung untuk sekedar berteduh atau bersantai juga akan diberikan aksen China Town. Tak ketinggalan juga papan petunjuk menuju Pasar Gambir Kemayoran. “Pokoknya akan diberikan kesan China Town mendalam sehingga ketika pengunjung datang ke Pasar Gambir Kemayoran serasa berada di China Town Jakarta Tempo Dulu,” jelas Murdaya.
Kios-kios di Pasar Gambir Kemayoran nanti menjual barang-barang yang berbau Cina seperti asesoris dari batu giok hingga barang-barang keramik seperti guci dan lainnya. Makanan khas Cina juga akan dijual di kios-kios makanan di Pasar Gambir Kemayoran seperti nasi ayam Hainan.

Ditata Rapi
Acara-acara pendukung juga disiapkan untuk mendukung nuansa China Town di Pasar Gambir Kemayoran. Acara pendukung tersebut di antaranya atraksi Barongsai dan Naga Liong serta sejumlah atraksi lain.
Tak cuma itu saja, agar penyelenggaraan PRJ 2004 lebih sukses, Murdaya mengungkapkan, pengaturan Zona akan lebih ditata rapi sesuai dengan kebutuhan. Misalnya stan di Hall A2 dan A3 akan diperuntukkan bagi berbagai jenis produk (multi produk).
Stan di Hal A1 untuk ruang pamer dan penjualan produk elektronik, asesoris dan perlengkapan mobil (car accessories), B khusus untuk produk furniture.
Pembenahan sejumlah prasarana yang selama ini dianggap kurang, juga dilakukan oleh penyelenggara. Pembenahan sarana tersebut seperti penerangan, pagar, open space, dan toilet akan diperbaiki, sehingga memberikan kenyamanan kepada pengunjung dan peserta.
Manajemen lalu lintas yang selama ini menjadi permasalahan karena sering macet, juga akan diperbaiki. “Kemacetan ini kerap menjadi kendala pengunjung untuk datang ke PRJ. Karena itu lalu lintas menjadi bagian penting dari pembenahan PRJ 2004 ini,” katanya.
Area parkir yang mampu menampung 7000 kendaraan juga akan dikelola lebih profesional, sehingga tidak akan terkesan berantakan. Manajemen tiket juga menjadi bagian dari pembenahan dan dibuat on-line, sehingga jumlah pengunjung yang masuk bisa diketahui langsung.
Belum puas sampai di situ, zona pedagang kaki lima (PKL) juga akan lebih ditata rapi. “Kami juga ingin menampung pedagang kaki lima seperti penjual kerak telor yang menjadi ciri khas PRJ. Agar mereka lebih rapi akan ditata sedemikian rupa,sehingga tidak mengganggu kenyamanan pengunjung,” ungkap Murdaya.
Dengan pembenahan seperti ini, Murdaya sangat optimis target 1000 eksibitor atau peserta akan ikut dalam event besar ini. Dia juga optimis, dua juta pengunjung akan berbondong-bondong menuju arena PRJ dari awal hingga akhir penyelenggaraan.

MICE
Mega event tahunan ini sesuai dengan obsesi dan keinginan Murdaya, di masa yang akan datang diharapkan menjadi venue yang potensial untuk mendongkrak bisnis MICE (Meeting Intensive Conference Exhibition) di Indonesia.
Selain penyelenggaraan PRJ, wanita yang super sibuk ini mengungkapkan bahwa di arena PRJ pada masa mendatang akan menjadi arena pertemuan, konferensi serta eksibisi pengusaha domestik maupun internasional. Bukan hanya pengusaha tetapi event-event seperti konferensi menteri atau kepala Negara ASEAN, APEC dan lain-lain juga diharapkan akan berlangsung di Arena PRJ.
Menurut Murdaya, visi dari PT JIE karena Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang dan merupakan pasar domestik yang cukup besar, beserta produk barang dan jasa yang tidak kecil, sudah sepantasnya memiliki industri MICE
Misi yang diemban perusahaan ini ungkapnya, adalah mengajak berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Pusat dan masyarakat luas untuk lebih bergairah dalam melakukan promosi dan produksi barang dan jasa oleh para pelaku ekonomi nasional dan internasional, demi kemajuan ekonomi bangsa Indonesia.
Selain itu, dia ingin mengajak semua pihak secara kompak dan serentak membangun sarana umum yang menunjang industri MICE di Indonesia, terutama menciptakan keamanan dan menegakan kepastian hukum yang merupakan unsur vital bagi kemajuan kehidupan masyarakat Indonesia di masa mendatang.
Arena PRJ Kemayoran memiliki kelebihan dari sisi lokasi. Lokasi Arena PRJ sangat strategis, karena selain terletak di tengah wilayah Kota Bandar Baru Kemayoran, Arena PRJ juga mudah dicapai karena letaknya tidak berjauhan dengan Pintu Tol Kemayoran. Akses jalan menuju Pasar bisa dari mana saja, baik dari arah Pademangan, Senen, Gunung Sahari dan Sunter.
Arena PRJ juga lokasinya berdekatan dengan sejumlah kompleks lain seperti Pasar Mobil Kemayoran, Dukuh Golf Jakarta, Apartemen Taman Kemayoran, Apartemen Istana Kemayoran, Blossom Residence, Universal School, Gandhi Memorial School dan Rumah Sakit Mitra Kemayoran.
Guna mendukung pengembangan konsep MICE Pasar Gambir Kemayoran yang merupakan bagian dari Arena PRJ dijadikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dan saling terkait dengan setiap kegiatan di Arena PRJ. Pasar Gambir Kemayoran juga menjadi sarana penunjang maupun pendukung pengemÍbangan konsep tersebut.
Pasar Gambir Kemayoran sebagai bagian dari pengembangan konsep MICE tersebut akan menjadi tempat berkumpul dan bersantai para peserta konvensi dan eksebisi serta international expo yang kerap diselenggarakan di Arena PRJ, baik pengunjung, buyer maupun supplier. Karena itu, pengelola Arena PRJ terus menerus melakukan pembenahan Pasar Gambir Kemayoran
Pembenahan yang dilakukan oleh pengelola PRJ dengan merenovasi kembali 157 Bangunan Kios Permanen yang berada di Pasar Gambir Kemayoran dan melakukan pengaturan lalu lintas pengunjung, baik yang menuju maupun yang meninggalkan Pasar Gambir Kemayoran. Selain itu, juga pengelola tengah membangun gedung multi fungsi.
Penambahan fasilitas di PGK juga terus dikerjakan oleh Pengelola Arena PRJ, terutama fasilitas yang berkaitan dengan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Beberapa shelter atau tempat berteduh dan bersantai pengunjung maupun peserta konvensi, eksibisi serta internasional expo, dibangun di beberapa titik di area PGK.
(SH/thomas jan bernadus)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003