C  E  O  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Dirut PT Indosat Tbk, Widya Purnama
Berobsesi Membawa Indosat Menjadi FNSP Kelas Dunia

JAKARTA – Awal Mei 2002 lalu, perusahaan publik PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) Tbk bersama enam anak perusahaan, masing-masing Satelindo, Indosat Multimedia Mobile (IM3), Lintasarta, Indosat Mega Media (IM2), Sisindosat, Indosatcom meluncurkan brand Indosat Group dan mengumumkan pendekatan bisnis yang lebih berorientasi pada kebutuhan pelanggan, yakni melalui sinergi sumberdaya dan layanan, serta konsolidasi. 



Istimewa
Gedung PT Indosat. 


Sejalan dengan restrukturisasi bisnis Indosat, yakni sebagai penyelenggara binis mobile communications, fixed communications, MIDI (Multimedia, Datacom and Internet), serta backbone network services, maka Indosat Group melakukan trasformasi bisnis yang semula mengandalkan pada jasa SLI menjadi penyedia solusi telekomunikasi yang bersifat menyeluruh, atau lazim disebut sebagai Full Network and Service Provider (FNSP).
Khususnya di sektor jaringan, Indosat akan melakukan pembangunan jaringan dengan menggunakan teknologi yang paling optimal agar tercapai kualitas yang lebih baik dengan biaya yang lebih efisien.
Prioritas akan diberikan pada area-area yang berpotensi memberikan tingkat pengembalian investasi yang maksimal. Untuk keperluan tersebut, Indosat telah mengundang partisipasi investor, baik dari dalam maupun luar negeri melalui program Indosat Partnership Program (IPP).
Misalnya, sejak 1 Agustus 2002 lalu, Indosat meluncurkaan Indosat Phone, jasa telepon tetap. Untuk penyediaan jasa ini, Indosat akan menggelar secara bertahap jaringan tetap lokal, mengikuti permintaan, diawali dari dua wilayah utama, yakni Jakarta dan Surabaya.
Rencananya, hingga akhir 2002 ini, Indosat akan membangun 20.000 satuan sambungan telepon (SST), bahkan hingga tahun 2010, memproyeksikan akan membangun 750.000 sst, 600.000 – 700.000 di antaranya akan dibangun melalui IPP.
”Khususnya untuk mengoptimalkan Capex, kami akan menjajaki gabungan dari jaringan kabel dan nirkabel,” ungkap Direktur Utama (Dirut) PT Indosat Tbk, Widya Purnama, pekan lalu.
Soal persaingan dengan Telkom, dengan tegas Widya menjelaskan, meski sebagai pendatang baru dalam penyelenggaraan jasa telepon tetap, tapi pihaknya siap bersaing dengan Telkom. ”Meski kami pendatang baru, tapi kami siap berkompetisi dengan Telkom, khususnya di bidang pelayanan. Sebaiknya, antara Indosat dan Telkom tidak perlu saling mematikan, tapi bersaing dalam bidang pelayanan saja,” tandasnya.

”Revenue Sharing”
Menurut Widya, karena untuk pengembangan jasa telepon tetap memerlukan investasi besar, maka manajemen Indosat akan membuat revenue sharing. Siapa saja yang akan terlibat dalam revenue sharing diumumkan secara terbuka.
”Kami menginginkan Indosat ke depan harus menjadi perusahaan yang bersih dari berbagai macam tudingan negatif. Saya sudah ingatkan berulang kali di depan karyawan Indosat, agar karyawan Indosat jangan coba-coba main-main, baik dalam penentuan tender dan lain sebagainya. Kalau terbukti, kami tak ampun lagi,”tegasnya.
Menurut Widya, salah satu misi dari manajemen baru Indosat, yakni ingin menjadikan Indosat menjadi penyelenggara jaringan dan jasa terpadu berfokus selular. Langkah ini akan diimplementasikan melalui re-engineering fokus bisnis dan reorganisasi struktur korporat. Satu contoh, di bidang selular, menindaklanjuti langkah strategis dalam akuisisi 100 persen kendali di Satelindo dan tumbuhnya bisnis IM3, setelah implementasi sinergi, seperti ko-lokasi dan jelajah nasional antara kedua operator selular ini, perseroan bermaksud mempercepat restrukturisasi bisnis selularnya.
Ke depan bisnis selular di Indosat Group, akan berada dalam satu manajemen dan keputusan finansial terpadu. Langkah ini dimaksudkan untuk memusatkan pengambilan kebijakan mengenai Satelindo dan IM3 melalui komite manajemen yang akan dibentuk dan akan terdiri dari Direktur Niaga dan Direktur Pengembangan Perusahaan Indosat, serta Direksi Satelindo dan IM3.
Komite manajemen selular ini kelak, menurut Widya, akan bertanggung jawab untuk menentukan prioritas pengeluaran modal dan kebutuhan pendanaan secara kombinasi buat Satelindo dan IM3. Dengan menerapkan kebijakan pengambilan keputusan keuangan terpusat ini, Indosat berharap mencapai suatu sinergi yang maksimal dalam pengeluaran modalnya, menghindari duplikasi biaya dan menghilangkan persaingan dalam pencarian dana antara Satelindo dan IM3.

Satu Jaringan
Ditambahkan, agar Indosat Group menjadi perusahaan yang efisien, pihaknya telah menempuh jalan, antara lain, dengan menyatukan jaringan terpadu antara Satelindo dan IM3. ”Kami berharap, dapat menyelesaikan proses integrasi ini dalam kurun waktu sekitar 24 bulan. Selanjutnya, komite manajemen selular akan menjamin, bahwa Indosat tetap mempertahankan brand Satelindo dan IM3
Sementara itu, untuk manajemen brand terpusat, tambahnya, perseroan akan mempromosikan berbagai macam di bawah kendali kebijakan manajemen terpusat untuk memaksimalkan daya saingnya dan para saat sama berupaya menghindari persaingan yang tidak perlu di antara brand atau jasa Indosat. ”Intinya, salah satu misi dari manajemen baru Indosat, yakni ingin menjadikan Indosat menjadi penyelenggara jaringan dan jasa terpadu yang berfokus kepada jasa selular,” tandasnya.
Untuk bisnis jasa selular, kini perseroan memiliki dua anak perusahaan, masing-masing PT Satelindo dan PT IM3.
Jumlah pelanggan selular Satelindo, menurut Widya, tumbuh 48,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, antara lain, karena disebabkan dari bertambahnya pelanggan Mentari dan kartu prabayar Satelindo. Untuk perbandingan triwulanan, tambahnya, selama triwulan II, tercatat terjadi peningkatan jumlah pelanggan Satelindo sebanyak 204.000 pelanggan.
Sedangkan jumlah pelanggan IM3, hingga saat ini tercatat mencapai 285.000 pelanggan atau terjadi peningkatan 99.000 pelanggan selama triwulan II 2002. Khususnya Satelindo, kata Dirut PT Indosat lagi, sekarang hampir berada pada tingkat kapasitas penuh.
Guna mempertahankan kualitasnya yang maksimum, Satelindo sedikit menurunkan upaya penjualannya. Untuk periode yang sama Satelindo telah dapat mempertahankan tingkat ”churning” hanya sebesar 1 persen s/d 2 persen. ”Satelindo bermaksud menggunakan aliran kasnya untuk mengejar ketertinggalan Capex selama semester II, sejalan dengan telah dihilangkannya pembatasan Capex di Satelindo.

Kinerja
Tentang kinerja BUMN telekomunikasi ini, tercatat termasuk bagus. Artinya, pendapatan dan laba yang berhasil dibukukan terus meningkat. Per akhir Juni 2002, tercatat pendapatan usaha semester 2002 (belum diaudit) mencapai sebesar Rp 3,2 triliun dan laba operasi sebesar Rp 896,3 miliar. Sementara itu, laba bersih setelah memperhitungkan hak untuk pemegang saham minoritas di anak-anak perusahaan dilaporkan mencapai sebesar Rp 535,5 miliar, atau laba bersih per saham sebesar Rp 517,2 atau US $ 0.6.
Pada semester pertama 2002, tambah Widya lagi, jasa selular, jasa telephone international, jasa MIDI dan jasa-jasa lain terhadap total pendapatan usaha. Sedangkan periode sama tahun 2001, jasa dari anak-anak perusahaan menjadi, masing-masing sebesar 30,5 persen, 47 persen, 21 persen dan 1,5 persen.
Hal ini mengisyaratkan bahwa jasa selular telah dan akan menjadi penyumbang terbesar terhadap pendapatan usaha perseroan. ”Kami yakin, bahwa bisnis selular ke depan masih menjanjikan, karena penetrasi telepon di Indonesia masih tergolong rendah,” tandasnya.
Per 30 Juni 2002, pendapatan dari telepon internasional mencapai sebesar Rp 1,082 triliun atau memberikan kontribusi sebesar 33,8 persen terhadap total pendapatan usaha perseroan.
Dilaporkan manajemen Indosat, trafik secara keseluruhan dari telepon internasional menurun 5,8 persen dari 360,1 juta menit pada semester I 2001 menjadi 339,3 juta menit pada periode sama tahun 2002. Hal ini, lanjut Dirut Indosat lagi, antara lain, disebabkan agresifnya penyelenggaraan jasa Voice Over Internet Protocol (VoIP).
Ditambahkan, pihaknya percaya bahwa bisnis VoIP akan mengambil pangsa pasar yang lebih tinggi untuk segmen pelanggan yang sensitif terhadap harga. Indosat dan Satelindo, berencana meluncurkan jasa VoIP pada triwulan II 2002 mendatang. Untuk mewujudkan ini, Indosat telah membuka interkoneksi dengan IM3 dan Satelindo, yang memungkinkan pelanggan IM3 dan Satelindo mampu melakukan percakapan melalui VoIP
Jasa lain yang tercatat mampu memberikan kontribusi besar, yakni multimedia, datacom dan internet (MIDI). Selama semester I 2002, 19,3 persen pendapatan usaha perseroan dikontribusikan dari jasa MIDI. Padaa akhir 2002, Indosat berharap bahwa jasa MIDI akan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi sejalan dengan meningkatnya permintaan kepada komunikasi data.
Pada semester I 2002, BUMN telekomunikasi tersebut mampu mencatat laba operasi sebesar Rp 896,3 miliar. Pada periode sama, EBITDA (earning before interest tax depreciation and amortization) tercatat sebesar Rp 1,718 triliun. Sementara itu, pendapatan (biaya) lain-lain sebesar Rp 421 miliar, terdiri atas pendapatan (biaya) bunga netto sebesar Rp 198,6 miliar, laba (rugi) selisih kurs sebesar Rp 502,6 miliar, amortisasi goodwill sebesar Rp 276,2 miliar dan pendapatan lain sebesar Rp 4 miliar.
Sedangkan total aktiva, seperti diumumkan BUMN telekomunikasi ini, mengalami penurunan dari Rp 22,348 triliun pada 31 Desember 2001 menjadi Rp 21,624 triliun pada 30 Juni 2002.
Penurunan ini, menurut Dirut Indosat, terutama disebabkan adanya pembayaran pajak selama semester I 2002. Dijelaskan, pembayaran utang, khususnya atas utang pajak dan realisasi pengeluaran modal dari aktivitas investasi telah menurunkan aktiva lancar perseroan dari Rp 6,424 triliun pada 31 Desember 2001 menjadi Rp 4,693 triliun pada 30 Juni 2002.
Penurunan juga terjadi pada kas dan ekuivalen kas. Pada pos ini, telah terjadi penurunan dari Rp 4,643 triliun pada 31 Desember 2001 menjadi Rp 2,744 triliun pada 30 Juni 2002.
Menurut Dirut Indosat, penggunaan kas direalisasikan, utamanya untuk akuisisi 25 persen saham Satelindo dari Deutsche Telecom dan pembayaran pajak. Perseroan mendanai akuisisi strategis ini, tambahnya, dari dana internal dan dari fasilitas pembiayaan yang diberikan Bank Mandiri sebesar Rp 1,5 triliun. Dari proses akuisisi ini, perseroan mengakui adanya tambahan goodwill sebesar Rp 2,1 triliun.
Begitu juga kewajiban lancar, mengalami penurunan dari Rp 5,640 triliun pada 31 Desember 2001 menjadi Rp 4,001 triliun pada 30 Juni 2002. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya kewajiban pajak dari sebesar Rp 2,898 triliun pada 31 Desember 2001 menjadi Rp 910 miliar pada 30 Juni 2002.
Sejak diterbitkan surat persetujuan dari Dirjen Pajak, terkait dengan beban pajak dan jadwal pembayaran pajak perseroan terkait dengan transaksi silang dengan Telkom, menurut Dirut Indosat, pihaknya telah membayar kewajiban pajak sebanyak 5 kali dari jadwal dan cicilan yang disetujui, masing-masing sebesar Rp 210,4 miliar untuk setiap cicilan. Saldo tersisa untuk pokok utang pajak sebesar Rp 803 miliar akan dibayarkan dalam 4 kali cicilan lagi sampai dengan cicilan 25 Oktober 2002 mendatang.
Khususnya kewajiban tidak lancar, tambahnya, mengalami kenaikan dari Rp 5,731 triliun pada 31 Desember 2001 menjadi Rp 6,788 triliun pada 30 Juni 2002. Kenaikan ini, tambahnya lagi, disebabkan adanya fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp 1,5 triliun.
Sementara itu, ekuitas bersih pemegang saham, juga mengalami penurunan dari sebesar Rp 10,740 triliun akhir 2001 menjadi Rp 10,693 triliun per akhir Juni 2002. Penurunan ini, terutama disebabkan adanya pengumuman rencana pembayaran deviden sebesar Rp 581,1 miliar untuk tahun buku 2001 yang di ”offset” oleh laba bersih pada semester I 2002 sebesar Rp 535,5 miliar.
(SH/ignatius gunarto)
 

 


 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2002