|
Poeng Wiyata Lubis, Wakil Presdir
Hyundai Mobil Indonesia
Kiat Merebut Pasar Otomotif
Sejak tiga tahun terakhir ini, tampaknya mobil produksi Korea
Selatan semakin memantapkan posisinya di pasar otomotif Indonesia.
Kalau sebelum reformasi, konsumen Indonesia hanya disuguhi
mobil-mobil minibus seperti Toyota Kijang, Suzuki Carry, Daihatsu,
dan Panther yang umumnya dikenal sebagai produk Jepang, kini
konsumen lebih bebas memilih.
Oleh Audrey G. Tangkudung
Kalau dulu pasar otomotif dikuasai oleh Jepang, kini tampaknya Korea
Selatan sedikit demi sedikit mulai merebut pasar otomotif Indonesia.
Sejumlah merek yang kini sedang populer antara lain Hyundai, Kia,
dan Daewoo.
Belum lama ini, sekitar 1999 hingga 2000 lalu, Kia Mobil Indonesia
berhasil dengan spektakuler menjual sekitar 5.000 unit mobil dengan
merek Kia Carnival, mobil keluarga yang mewah, baik dari segi desain
maupun interiornya.
Harga ketika diluncurkan dimulai dari sekitar Rp 175 juta hingga Rp
250 juta. Kendati Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi yang
parah, namun sangat mengejutkan, Kia Mobil Indonesia berhasil
menjual Carnival dengan jumlah sangat fantastis. Padahal mobil merek
lain seperti Kijang, Honda, BMW, setahun bahkan ada yang tidak
mencapai angka 1.000 unit.
Sementara itu, saudara dekat Kia Mobil, yakni Hyundai Mobil tak mau
ketinggalan. Dengan mengandalkan tiga tipe, yaitu Trajet, Atoz, dan
Accent, Hyundai merambah pasar otomotif nasional. Dengan
berkonsentrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi,
Hyundai mulai memperkenalkan keunggulan tiga tipe tersebut.
Tak begitu lama menunggu, mobil-mobil yang ditawarkan ternyata
mendapat sambutan hangat dari konsumen yang sedang jenuh dengan
mobil-mobil merek Jepang. Hyundai pun berhasil menjual sekitar 3.500
unit tahun 1999, 7.245 unit tahun 2000, dan 9.000 unit pada 2001.
”Kami perkirakan tahun ini penjualan kami akan meningkat sekitar 25
persen,” kata Poeng Wiyata Lubis, Wakil Presiden Direktur PT Hyundai
Mobil Indonesia. Dengan beberapa keunggulan dan taktik pemasaran
yang sedang ia susun, ia optimis kalau penjualan bakal naik menjadi
11.000 unit mobil tahun ini.
Dari hasil penyelidikan sendiri, apa gerangan yang membuat konsumen
membeli mobil Hyundai ini, menurut Poeng Lubis, antara lain adalah
karena mobil Hyundai memiliki desain yang cantik dan unik. Tampaknya
konsumen sedang jenuh dengan disain yang lama dan kalau ada yang
unik itu lebih menarik perhatian mereka. Barangkali pemikiran itu
ada benarnya. Saat ini, industri mobil dunia, apakah Mercedez, BMW,
VW, General Motor, semua sedang mencoba dengan desain-desain baru
yang lebih modern.
Dua tahun lalu, trend mobil kecil sedang melanda Jakarta. Hyundai
lebih dulu memasarkan tipe Atoz. Tak lama kemudian Kia meluncurkan
tipe Visto. Dua mobil ini mendapat sambutan yang hangat di pasar
otomotif. Selain disainnya yang unik dan menarik, interiornya yang
mewah, dan konon sangat hemat bahan bakar minyak.
Sebelumnya Indomobil telah meluncurkan Karimun, namun penjualannya
tidak seperti Atoz dan Visto. Mobil-mobil lain juga ikut meramaikan
pasar mobil mini, seperti Peageot 206, VW Beetle, dan Daihatsu
Ceria.
Empat Kiat Hyundai
Poeng Lubis yang telah bergabung sekitar 10 tahun dengan grup
Hyundai ini memiliki empat kiat agar produk-produk Hyundai lebih
digemari konsumen. Yang pertama, menurut Poeng Lubis, produk-produk
Hyundai harus lebih kompetitif dari produk otomotif yang lain.
Saat ini misalnya, Hyundai sedang meluncurkan Atoz tipe GL dengan
harga di bawah Rp 90 juta. ”Harganya bisa kompetitif karena kami
telah mengasembling Atoz ini di pabrik kami di sini,” kata Poeng.
Sejumlah komponen dan bahan-bahan yang bisa dipasok dari Indonesia
digunakan dalam Atoz GL. Beberapa fasilitas, misalnya interiornya
disesuaikan sehingga bisa diperoleh harga tersebut.
Hal yang kedua, Hyundai harus menjual produk yang variatif untuk
menjangkau berbagai macam kebutuhan konsumen. Saat ini selain
Trajet, Atoz, dan Accent, Hyundai pun mempromosikan tipe Sante Fe
dan Matrix. Sante Fe untuk pasar Indonesia memang belum seberhasil
Trajet dan Atoz, namun pihak pimpinan Hyundai yakin kalau Sante Fe
bakal populer dalam waktu dekat.
”Sante Fe adalah mobil paling laris di pasar Amerika. Menurut
catatan sekitar 75.000 unit Sante Fe terjual di sana dan mobil ini
berhasil meraih predikat The Best Car di Amerika tahun lalu,” kata
Poeng Lubis alumni Sekolah Bisnis di London tahun 1978.
Santa Fe target pasarnya memang konsumen di wilayah Asia Pasifik.
Sedangkan tipe Matrix, mendapat sambutan hangat di Eropa.
Sedan MPV yang dirancang oleh disainer otomotif terkemuka dunia
Pininfarina dari Italia ini mulai diperkenalkan di pasar Jabotabek.
Masih belum diperoleh berapa unit yang terjual setiap bulan, namun
dengan harga sekitar Rp 160 jutaan, peminat mobil ini cukup besar.
Hal ketiga adalah jaringan pemasaran dan servis harus ada di
mana-mana sehingga servis pada konsumen bisa dilakukan dengan lebih
cepat.
”Sekarang ini kami sedang mempersiapkan networking kami agar dapat
melayani konsumen sebaik mungkin,” kata Jammy Setiadi, Direktur yang
memonitor cabang-cabang Hyundai yang ada, baik di Jabotabek maupun
di Bandung dan Surabaya.
”Sekarang ini Hyundai Mobil Indonesia telah memiliki 8 cabang utama
yang terdiri dari 6 cabang di Jabotabek, satu di Bandung, dan satu
lagi di Surabaya. Masing-masing cabang dilengkapi dengan bengkel
servis dan pemeliharaan kendaraan.” Tambah Jammy Setiadi.
Investasi yang ditanamkan untuk mendirikan satu cabang menurut Poeng
dan Jammy paling tidak sekitar Rp 10 miliar. Hyundai Mobil Indonesia
(HMI) paling tidak mengeluarkan lebih dari sekitar Rp 100 miliar
untuk 8 cabangnya. Sementara untuk Hyundai Indonesia Motor (HIM)
investasi yang ditanamkan lebih dari Rp 200 miliar. Jumlah karyawan
kedua perusahaan tersebut sekitar 1200 orang.
Kiat yang keempat adalah bagaimana Hyundai meningkatkan kepuasan
pelanggan. Sebagai pemain yang baru dibandingkan dengan produsen
mobil Jepang, Hyundai memang harus memperhatikan konsumennya. Secara
umum memang belum banyak keluhan yang muncul berkaitan dengan
produk-produk mobil Hyundai.
Untuk mengantisipasi keluhan ini Hyundai memberikan nomor telepon 24
jam dan umumnya teknisi-teknisinya bersedia dipanggil jika terjadi
hal-hal seperti mogok, dan kerusakan-kerusakan lain.
Obsesi Hyundai
Dalam jangka waktu lima tahun ke depan, tampaknya mobil produksi
Korea Selatan akan semakin digemari konsumen di Indonesia.
Benteng Santoso, Direktur Marketing dan Sales PT Hyundai Mobil
Indonesia mengatakan bahwa konsumen Indonesia semakin smart atau
pinter dalam memilih mobil.
”Mereka semakin bisa memilih mana mobil yang terbaik buat mereka,”
kata Benteng Santoso yang mendampingi Poeng Lubis. Tampaknya mereka
sering membaca, baik dari koran, majalah, bahkan melalui internet
tentang kelebihan dan keunikan suatu mobil. Seperti saat ini sedang
berkembang atau sedang trend mobil yang efisien, irit bahan bakar,
dan lincah di jalanan. Itulah sebabnya Atoz dan Matrix menjadi
pilihan.
Hyundai perlahan-lahan tapi pasti mulai merebut pasar otomotif
dunia.
Menurut Buletin Otomotif Jepang, Hyundai tahun 2001 lalu menduduki
peringkat 8 besar dunia dengan keberhasilannya menjual sekitar
2,634,530 unit mobil dalam kurun waktu beberapa tahun.
Toyota berada pada peringkat 3 dunia dengan penjualan sekitar
7,350,495 unit mobil. Peringkat 1 dan 2 dipegang oleh General Motor
dan Ford. Produsen otomotif Asia lainnya adalah Nisan dan Honda yang
berada di peringkat 9 dan 10.
Di Australia, penjualan Hyundai berada di peringkat 4 setelah
General Motor, Ford, dan Toyota. Sedangkan di Singapura, Hyundai
berada posisi nomor 2 setelah Toyota.
Melihat angka-angka tersebut di atas, jika Hyundai bisa menjadi
pemain kelas dunia, maka tidaklah muluk-muluk kalau Hyundai bermimpi
menjadi pemain nomor satu di pasar otomotif Indonesia. n
|