Sabtu, 02 Mei  2009

B U D A Y A

No.  6180

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
WiraUsaha Sosial
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

 

 

Cerpen
Perempuan Politik



Oleh
Syarif Hidayatullah

Inilah kesedihanku, saat meja makan begitu lengang dan kosong. Seperti sebuah piring tanpa lauk dan nasi, seperti hatiku pula yang kini mulai ditumbuhi rumput-rumput sunyi dan gelisah yang semakin lama semakin meninggi.
Aku tak pernah melarang istriku untuk terjun dalam partai P untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di kota D. Benar-benar tak begitu masalah bagiku, selagi itu bermuara pada hal positif, dan baik bagi dirinya, aku bahkan mendukungnya, meski sebetulnya setengah hati saja.
Rasa takutku selalu saja menghantui, tentu saja aku berpikir tentang anakku yang masih berumur enam belas tahun dan yang paling kecil baru lima tahun. Anak-anakku pasti lebih membutuhkan sosok ibu di rumah ini, terutama bontotku, Rasya. Bila ia aktif di partai, lantas siapa yang mengurus mereka?


 


 


 


 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008