|
Pameran Seni Visual
“Guru Oemar Bakrie”
Mengkritik Pendidikan dan
Karakter Para Guru
Oleh
Yuyuk Sugarman
Yogyakarta - Dunia pendidikan kita tengah mengalami peluruhan dalam
upaya membangun dan membentuk karakter manusia Indonesia yang
beradab serta berakal budi.
Banyak hal tentunya yang menyebabkan peluruhan ini. Ada yang
menuding ini akibat sistem pendidikan ataupun kurikulum. Ada juga
yang berpendapat ini akibat kualitas dan kesejahteraan guru yang tak
diperhatikan. Selain itu, dilatarbelakangi juga oleh fasilitas
sekolah yang sangat minim.
Terkait dengan persoalan tersebut, Suwarno Wisetrotomo, dosen
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggagas sebuah pameran
seni visual “Guru Oemar Bakri” di Jogja Gallery dari 12 Mei-7 Juni
mendatang. Pameran ini melibatkan sejumlah perupa ternama, seperti
Nurkholis, Nasirun, Andre Tanama, dan Hadi Soesanto.
“Pameran ini dihasratkan sebagai penghormatan dan mungkin juga
pembacaan kritis terhadap guru dan dunia pendidikan pada umumnya,”
ujar Suwarno, Selasa (12/5). Selain berbicara tentang guru, menurut
Suwarno, tak terhindarkan juga permasalahan tentang murid,
kesejahteraan, sistem pendidikan, kurikulum, dan fasilitas
pendidikan sebagai lingkaran yang saling terhubung, serta saling
memberikan pengaruh (sebab-akibat).
“Pendeknya, kehadiran guru dalam segala keadaannya dapat dilihat
sebagai cerminan, refleksi tentang situasi pendidikan kita hari ini,”
tambahnya.
Lebih lanjut dikatakan Suwarno, pameran ini untuk melakukan
pembacaan dan pemaknaan terhadap
dunia pendidikan, khususnya guru, hingga terwujud menjadi karya seni
rupa. Dan, lanjutnya, secara umum, bahkan tampak dominan,
karya-karya dalam pameran ini menunjukkan aroma kemurungan dan
mengolah fakta-fakta yang memunculkan rasa pesimistis. “Tentu saja
tafsir visual para perupa ini dapat berarti gugatan, kritik, protes,
ironi, atau sekadar memaparkan realitas,” ujarnya lagi.
Bakery dan “Senyum Getir”
Pada pameran ini, karya yang cukup menarik perhatian dan mengundang
senyum getir para penikmat maupun pecinta seni adalah lukisan yang
berjudul “Oemar’s Bakery, Sedjak 1945”. Di lukisannya itu, Rennie
Agustine Ferdianti mencoba menggambarkan sosok “guru” yang
berpakaian koki roti. Hal yang sama juga ditampilkan perupa Mahendra
Satria Wibawa dengan judul “Oemar Bakery”.
Dengan jelas, Rennie ingin menyampaikan betapa seorang guru harus
nyambi berjualan
roti untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya yang tak mungkin
dicukupi jika hanya mengandalkan gaji. Namun, ini juga bisa
diartikan, kalau ingin pendidikan yang bermutu, sang murid harus
membeli “roti lezat” buatannya yang telah dirintis sejak 1945.
Beratnya hidup seorang guru dalam kondisi ekonomi biaya tinggi
seperti sekarang ini juga dihadirkan oleh Eddi Prabandono.
Lewat instalasinya yang berjudul “Table Scandal” itu, Eddi
menghadirkan sebuah sepeda butut yang tengah memboncengkan sebuah
bangku. Di sini Eddi ingin menunjukkan betapa beratnya beban tugas
seorang guru yang harus mendidik anak didik, sementara guru itu
harus terseok-seok mengayuh sepeda untuk mengantar anak didiknya
menuju masa depan
yang lebih cerah.
Namun, tak semua perupa iba terhadap kehidupan guru. M Khairuddin,
misalnya, menyindir ulah guru yang mengajarkan kekerasan. “Pelajaran
Pertama”, begitulah judul lukisannya. Di sini dengan jelas sekali
Khairuddin menyindir sosok guru yang mengedepankan kekerasan dalam
mendidik dengan menggambarkan adegan seorang murid yang tengah
dijewer telinganya hingga wajahnya penyok.
Itulah di antara karya para perupa menyoroti dunia pendidikan, dunia
guru yang telah mendidiknya, mendidik kita, ataupun mendidik anak
kita. Sebuah sikap kritis dari para perupa terhadap dunia pendidikan
kita sekarang ini. “Tapi, saya percaya, segala bentuk kreativitas
ini tetap berbasis pada upaya ‘penghormatan dan cinta’ pada dunia
pendidikan dengan segala komponennya,” kata Suwarno selaku konseptor
dalam pameran ini. n
|
|