|
Cerpen
Perempuan Politik
Oleh
Syarif Hidayatullah
Inilah kesedihanku, saat meja makan begitu lengang dan kosong.
Seperti sebuah piring tanpa lauk dan nasi, seperti hatiku pula yang
kini mulai ditumbuhi rumput-rumput sunyi dan gelisah yang semakin
lama semakin meninggi.
Aku tak pernah melarang istriku untuk terjun dalam partai P untuk
mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di kota D. Benar-benar
tak begitu masalah bagiku, selagi itu bermuara pada hal positif, dan
baik bagi dirinya, aku bahkan mendukungnya, meski sebetulnya
setengah hati saja.
Rasa takutku selalu saja menghantui, tentu saja aku berpikir tentang
anakku yang masih berumur enam belas tahun dan yang paling kecil
baru lima tahun. Anak-anakku pasti lebih membutuhkan sosok ibu di
rumah ini, terutama bontotku, Rasya. Bila ia aktif di partai, lantas
siapa yang mengurus mereka?
Seperti kali ini, untung saja anakku Jannah sudah bisa memasak,
meski itu hanya telur goreng atau mi rebus. Aku tanya pada Jannah
saat pulang kerja menjelang magrib tadi. Ia menjawab seperti biasa.
“Ibu belum pulang, dia masih ada acara di tempat yatim piatu,
katanya mengadakan santunan. Entahlah.”
Aku tangkap nada kekecewaan dalam setiap kata-kata yang keluar dari
anak tertuaku itu. Kasihan betul ia, ia harus merawat Rasya yang
masih suka kencing sembarangan. Hal ini bukanlah hal mudah bagi
Jannah, terutama karena Rasya cenggengnya bukan main.
Apa yang harus aku lakukan? Sempat dulu aku melarang istriku untuk
ikut masuk partai, aku sebutkan alasannya sedetail mungkin tentang
anak-anak kami yang kelak terbengkalai. Tapi ia malah balik
menyerangku dengan kata-kata tajam menusuk telinga dan hatiku, ia
berkata seperti sedang menghadapi musuh politiknya ketimbang aku
sebagai suaminya, ia bilang aku tak menghargai kemajuan wanita, tak
suka melihat istrinya maju, tak bangga memiliki istri yang menjadi
politisi dan entah kata apalagi yang ia ucapkan. Aku sungguh muak
mendengarkannya.
Bila tak ada Mpok Asiah, mungkin rumah ini sudah berantakan, kotor
dan pakaian kotor yang menggunung. Mpok Asiah, pembantu kami itu
hanya bekerja pada pagi hari, menyapu halaman dan rumah, mengepel
lantainya serta mencuci pakaian kami. Selanjutnya, istrikulah yang
mengerjakannya. Ia menjadi koki yang sangat hebat dengan makanan
yang ia sajikan yang selalu begitu lezat. Tapi tidak kali ini,
bahkan di meja ini terasa sunyi sekali.
***
Aku kesal dengan suamiku, mengapa ia tak menghargai perjuanganku
untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif? Apakah salahku?
Apakah ia sengaja menghalang-halangiku karena ia merasa
kedigdayaannya sebagai lelaki di rumah ini mulai goyah?
Ah, di mana-mana lelaki tetap sama. Ingin berkuasa, ingin menang
sendiri dan tentu selalu ingin di atas bahkan untuk sesuatu yang
kami lakukan di atas kasur. Perempuanlah yang selalu menjadi boneka,
dimainkan ke kiri dan ke kanan tanpa memedulikan perasaan boneka itu.
Tetapi kini, aku bukanlah boneka lugumu Mas, aku bukan boneka lugu
yang saat malam pertama kau cumbu dan dilumat olehmu tanpa berkata
apa pun meski sakit terasa menggigit tubuh. Aku bukan boneka lagi,
bukan boneka perempuan-perempuan yang kalah oleh kenyataan pahitnya.
***
Aku menunggu istiriku, Karti. Karti dulu terasa berbeda dengan
sekarang. Karti dulu begitu lugu dan sangat penurut sekali atas
semua kemauanku. Aku begitu senang bila Karti seperti itu. Tetapi
kini? Ah, haruskah aku menyesali keputusanku yang membiarkan Karti
masuk partai?
Sudah pukul delapan malam Karti belum juga datang. Aku berniat
menunggunya sampai ia pulang. Aku ingin bicara dengannya. Mungkin
aku tak bisa melarangnya untuk tidak masuk partai, tapi mungkin aku
bisa memintanya untuk lebih memperhatikan keluarganya. Terutama
kedua anakku. Mudah-mudahan ia seperti kata-katanya yang kukutip
pada kain rentang di pinggir jalan yang dihias dengan foto cantiknya:
MENDENGAR, MELAKSANAKAN DAN BERTANGGUNG JAWAB.
Mudah-mudahan saja.
***
Aku baru saja pulang. Kulihat suamiku berada di ruang tamu. Aku
berlalu begitu saja darinya, tapi kemudian ia memanggilku. Aku lelah
Mas, kukatakan itu padanya kuharap ia mengeti kata-kataku, memahami
keadaanku.
Tapi Masku memaksaku untuk mendengarkanku, bahkan aku disebut
sebagai istri yang membangkang. Aku kesal dengan kata-katanya,
kelelahanku yang menggrogoti tubuhku akhirnya kubiarkan untuk
pembicaraan sumpah serapah seisi kebun binatang sana.
Masku, malah memukulku dan berkata aku tak tahu diri. Aku menangis
sejadi-jadinya dan kemudian berlari menuju kamar. Aku kunci pintunya
dan kemudian aku membenamkan tangisku pada bantal. Aku benar-benar
merasa seperti boneka yang tak dihargai, boneka yang terpenjara di
dalam jeruji besi.
***
Aku marah besar ketika istriku bahkan tak mau mendengarkanku, ia
malah menyebutku anjing!
Aku duduk di sofa rumah dan mulai memikirkan tentang Karti, inikah
istriku? Aku seperti tak mengenal Karti. Ini bukan Karti,
benar-benar bukan Kartiku! Kartiku dulu tidak lain seorang gadis
desa yang kemayu dan sangat patuh pada suami. Tetapi mengapa ia
berubah demikian cepatnya?
Aku menyesali pukulan yang kuhempaskan ke mukanya. Ini pukulan
pertamaku selama pernikahanku yang menginjak delapan belas tahun.
Pukulan pertama yang membuatnya menangis dan terisak begitu dahsyat,
bahkan aku dapat mendengarnya dari kejauhan. Aku tak tega, tapi aku
ingin memberikan pelajaran yang berarti baginya. Setidaknya, ia
harus tetap menghormatiku posisiku sebagai seorang suami. Aku tak
ingin menjadi suami yang dilangkahi harga dirinya. Bila ini terjadi,
hanya tinggal menunggu waktu saja hancurnya rumah tangga ini.
Jannah kemudian datang dan menanyakan apa yang terjadi, tapi aku
memeluknya dengan erat. Aku benar-benar tidak tega kepada anakku.
Aku benar-benar kasihan pada mereka yang mungkin kini mulai
kehilangan sosok ibu. Aku pun mulai mengutuk kata-kata pada kain
rentang dengan foto cantik wajah Karti.
Aku muak! Aku benci!
***
Pagi harinya aku tak menyapa Masku, bahkan aku tak memasak apa pun
untuk rumah ini. Aku mengurung diriku pagi itu dan kemudian
berangkat untuk menghadiri sosialisasi partai di kampung B.
Kesibukan seperti inilah yang dapat menghapus masalah keluarga. Aku
berusaha melupakan kedua anakku untuk sementara, juga pada suamiku
yang kini kuusir dari ranjangku.
***
Aku kesal dengan tingkah laku istriku, aku semalam tidur di sofa.
Aku benar-benar berang, aku tak sudi lagi tidur seranjang dengannya.
Tapi kini ia bahkan tak memasak seperti biasa untuk sarapan kami.
Aku kemudian memasak mi rebus. Rasya kuraih dan kusuapi sendiri.
Sebentar lagi aku akan berangkat ke kantor dan barangkali aku akan
menitipkan Rasya pada tetangga sebelah. Sahabatku, sahabat Karti
pula. Namanya Arini.
Arini maklum saat aku menitipkan Rasya, bahkan ia begitu senang
menyambut anakku itu, Arini memang tidak mempunyai anak dan telah
menjanda begitu lama. Menurut kabar, suaminya meninggalkan Arini
karena Arini mandul.
Pada Arini pula kadang aku mengungkapkan keluh kesahku perihal Karti,
ia terkejut saat mendengar ceritaku tentang pertengkaran kami
semalam dan Arini siap membantuku bila aku membutuhkan bantuannya.
Aku menyambut gembira kemauannya itu.
Benar saja, pulang dari kantor pada malam harinya, aku lihat Arini
masih berada di rumahku sambil mengajari Rasya membaca dan
mengobrol-ngobrol dengan Jannah di ruang tamu. Aku tenang melihat
kejadian itu, aku pun tersenyum dan bergabung dengan mereka yang
telah menyambutku.
***
Saat aku pulang, kedua anakku telah tidur pulas dan kulihat Arini
baru saja pamit dari rumah kami karena aku berpapasan dengannya di
jalan.
Masku memuji Arini yang cekatan menjaga anak-anak kami dan mulai
memojokkanku dengan kata-katanya yang menyayat hati. Harusnya kau
seperti Arini, ujar suamiku.
Amarahku mulai terbakar, tapi aku tak keluarkan karena aku takut
kembali ditampar. Tetapi semakin lama kata-kata Masku semakin
menyakitkan, semakin tak menghargaiku sebagai seorang istriku yang
dulu merawat Jannah susah payah, melahirkan Rasya dengan
mempertaruhkan nyawa.
Suamiku berbicara tentang Arini tanpa memedulikan perjuanganku
selama ini. Hatiku begitu sakit mendengarkannya dan bahkan aku mulai
tidak tahan. Ceraikan saja aku Mas! Tiba-tiba kata-kata itu begitu
saja keluar dari mulutku dan disambut oleh Masku dengan tak kalah
amarahnya.
Ia tampak begitu emosi dan aku pun tak kalah sengitnya. Aku sudah
muak dan sudah tidak betah di rumah ini.
***
Aku terperanjat kaget mendengar kata-kata istriku semalam yang
memintaku cerai. Arini yang mendengarkan ceritaku pun tak kalah
kagetnya. Tapi sejujurnya aku pun sudah tidak memiliki harapan lagi
kepada Karti untuk berubah. Ia mulai keras kepala dan tidak
menghargaiku lagi sebagai suami.
Keputusan bercerai aku pikir adalah hal yang terbaik. Aku mulai
mempersiapkan semuanya, meski Arini sempat melarangku melakukan hal
ini. Tidak baik buat anak-anakmu, ini akan mengguncang perasaan
mereka, ujar Arini padaku.
Aku sudah tidak peduli. Amarahku telah membulat. Bila amarahku api,
maka api itu akan membakar apa pun yang berusaha menghalanginya.
***
Pada Johan, penasihat kader partai aku katakan retaknya rumah
tanggaku dan aku ingin bercerai. Johan sempat melarangku untuk
bercerai, karena itu akan memperburuk keadaan, terlebih lagi soal
pemilih. Itu hanya akan merusak reputasiku. Keluarga itu bisa jadi
sorotan masyarakat, bila kamu diceraikan oleh suamimu mereka akan
menganggapmu tidak becus mengurus keluarga. Untuk mengurus keluarga
saja tidak bisa, apalagi mengurus daerah. Masyarakat akan berpikir
seperti itu. Bagaimana mereka akan memilihmu?
Benar juga apa yang dikatakan Pak Johan kepadaku. Tapi keputusanku
untuk meminta cerai dari suamiku telah meruncing. Aku tidak ingin
mentalku, perasaanku digigiti oleh kata-kata suamiku yang selalu
mengiris-iris bagai pisau itu.
Melihatku keras kepala. Pak Johan hanya menggeleng-gelengkan kepala,
tapi kemudian Pak Johan memberikan solusi lain kepadaku, ia
membisikiku dan aku tersenyum karena ide Pak Johan begitu tepat dan
cukup licik sebetulnya. Tetapi aku tetap menyetujuinya karena aku
bukan lagi boneka.
***
Saat pengadilan dimulai, ada rasa bersalah menghinggapiku. Aku pikir
ini bukan yang terbaik, apalagi saat kedua anakku kutinggalkan di
rumah. Aku lihat mata gelisah mereka. Ah, mereka tak akan memiliki
ibu lagi. Aku ingin memperbaiki rumah tangga ini.
Tapi aku keget saat di pengadilan. Sambil menangis Karti bercerita
soal pemukulan yang diterimanya. Bahkan ia mulai menunjukkan lebam
tangan kanannya. Entah oleh siapa dan karena apa. Tetapi ia menyebut
namaku, akulah yang melakukannya. Lebih kaget lagi, ia sebut-sebut
Arini sebagai kekasih gelapku. Orang-orang yang hadir di pengadilan
menjadi begitu simpati pada Karti. Aku berteriak bohong dengan
lantangnya, tetapi pembantuku yang hadir sebagai saksi saat itu
mengatakan bahwa aku telah melakukannya. Entah Mpok Asiah dibayar
berapa untuk membenarkan kebohongan itu.
Akhirnya perceraian itu tak terhindarkan. Aku lihat senyum licik
yang tak pernah kulihat pada senyum-senyum Karti dulu. Aku pun
pulang. Entah apa yang harus kukatakan kelak pada kedua anakku.
Sesampainya di rumah, aku tak mendapati apa-apa selain rumput-rumput
sunyi yang semakin banyak memenuhi rumah ini.***
wismasastra, 2009 |
|