Sabtu, 25 April  2009

B U D A Y A

No. 6174

 

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
WiraUsaha Sosial
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

SAJAK DUA GENERASI


– Kedua penyair kali ini berasal dari dua
generasi. Tien Suryantini yang
berusia lima puluh tahunan dan PRISCA REGINA METHYSTVEIN
HARAHAP yang baru berumur belasan tahun, memperlihatkan
gaya pengucapan berbeda, termasuk dalam hal metafora, diksi, dan
material sajak-sajaknya.

SAJAK-SAJAK TIEN SURYANTINI

Senja di Ujung Aspal 1
Terurai cerita pedih dalam senyap
Merambah ke seluruh rongga,
Sepertinya tak ada celah tersisa
Terenda rasa kecewa yang sama.

Senja di ujung Aspal
Menipu dengan guratan indah
Meletupkan rasa sedih,
gambaran nista tersirat.

Senja di ujung aspal
Membungkus cerita merona
Muskil terjawab
Dari tanya sesaat.

Senja di ujung aspal
Banyak kisah tertumpah
Tidak pelipur rasa penat
Hanya buat luka rasa kita.



Senja di Ujung Aspal 4
Senja di ujung aspal
Jangkar lepas dari tambatan
Biduk sudah dikayuh
Layar telah berkembang
Apa maumu anakku?

Melaju arungi lautan hidupmu
Jangan pernah ragu
Usia selalu mengejarmu
Dengan kepastian batas waktu

Saat Senja di ujung aspal
Ada cerita kisah kita bersama
Yang terbungkus panjangnya waktu
Tanpa terbongkar jalinannya.



Kranjang Harapanku 4
Ibu guru cerita tentang Negara,
Aku tak pernah mengerti.
Ibu guru cerita tentang pemimpinnya,
Aku juga tak faham.
Indonesia?
Aku tak mengerti.
Presiden?
Aku tak kenal.
DPR?
Apa lagi itu!
Aku hanya mengerti Depok,
Aku hanya kenal ibu guruku,
Dan yang paling ku mengerti ,
Tentang kranjang harapanku!


*) Untuk semua alumni siswa LSM Edukasi Dasar, juga yang sekarang masih belajar di LSM Edukasi Dasar. Selamat berjuang anak-anakku, hidup bukan hitam putih saja. Jadi jangan takut! Tuhan Beserta Kalian!



SAJAK SAJAK PRISCA REGINA AMETHYSTVEIN HARAHAP


Spidol
aku si spidol orange
aku terjatuh di antara orang-orang
yang mabuk teater...
tepat di depan dia terduduk manis
dengan suami dan anak yang dalam perutnya
(masih 3 bulan)

semua orang pun kaget melihat
warnaku yang lucu
dan mereka tertawa, aku sangat malu,
dan dia melihatku,
aku yang dipungut seorang kakak yang
memakai kaos hitam
tersenyum memandangku,
dia segera mengeluarkan buku sketsanya
dan meminta tanda tangan perempuan itu,
ia mengagumiku
dan memintaku dari si kaos hitam,

dan aku malu padanya...

1:31pm 4 april 09



Air Bintang
dalam petak itu
aku bergumam,
apa yang ada dalam udara di dalamnya,
menyengat jauh.

sampai semua wanita gemulai
berubah seperti kelelawar.
salah satu dari mereka memergokiku
dan menawarkan cahaya dari bintang itu...
aku tak mampu menatap wajahnya yang tajam.
menyapu pandanganku dengan sinis,
dan ia berkata apa kau tau yang mana
hitam dan putih?
apa kau membedakannya?

minumlah cahaya ini tertawa bersama ku,
sesungguhnya ini abu-abu bagiku...
dan ia menatap sinis
menjauh dengan tengtop merahnya

1:48pm 4 april 09



Aku Pikir
aku pikir kau tak usah menangis.
hanya karna kau telah kehilangan setetes embun
yang telah mengering di siang hari
dan telah bercampur dengan debu di paru-paru kota.
yakin dan tenang sajalah.
pulanglah kerumahmu.

aku pikir esok pagi kau bangun.
embun akan menyambutmu dengan nyanyian biri-biri.
yang seperempat abad ini kau rindukan.

aku pikir kau pun dapat menghirup nafas sebebasnya
dan mengajak biri-biri itu pergi ketempat mana pun yang kau suka.

aku pikir kau akan bertemu penggembala biri-biri yang mungil.
menemanimu keliling desanya
yah, di desanya.

Friday, March 13, 2009 at 11:12pm

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008