|
Kota Berduri
Cerpen
Narudin
Aku tak mau menyimpan terlalu lama duri dalam tubuhku. Disimpan
terlalu lama hanya membuat tubuhku terasa sakit. Barangkali rasa
sakit itu bukan benar-benar dalam dagingku, tapi dalam suatu tempat
lain yang tak mampu kudefinisikan. Seperti kedip lampu-lampu ibu
kota atau suara-suara TV di pagi hari, bagiku, adalah duri pada
waktu itu. Seperti ibuku yang hendak memperkenalkanku kepada suasana
ibu kota atau seperti keinginanku yang kuat untuk melihat-lihat
gedung-gedung pencakar langit atau hanya sekadar untuk menonton film
kartun dan film kungfu di TV berwarna saudaraku, sangat
menggelisahkan. Tapi kini aku bebas berkeliaran di bawah lampu-lampu
yang seperti bintang-bintang tersangkut benang-benang udara itu dan
aku kini tidak lagi terlalu asyik saat menonton film kartun atau
film kungfu terheboh sekali pun.
“Wah, banyak mobil bagus ya, Bu?”
“Iya, ini namanya Jakarta, Jang. Dulu saat kamu masih berumur tiga
tahun pernah Ibu bawa ke sini,” kata Ibuku sambil menarik tanganku,
berjalan melewati gang-gang becek. Sampah plastik dan bungkus
makanan mengambang di atas genangan air kotor. Lalat-lalat hijau,
gemuk-gemuk, beterbangan. Kebiasaan ibuku mengajarkan sopan santun
kepadaku, aku praktikkan pada saat itu. Aku tersenyum dan
membungkukkan badanku kepada orang-orang yang duduk di beranda rumah.
Barangkali mereka nongkrong di depan toko atau warung. Tapi mereka
hanya mencibir, memasang raut wajah yang lempang seolah angin lalu
baru lewat.
“Ujang nanti bisa nonton film kungfu ya, Bu?”
“Kamu bisa nonton apa saja, Jang. Sudah jangan banyak ngomong dulu.
Lihat, banyak mobil dan bus kota. Nanti kalau tidak hati-hati, kita
bisa terlindas bannya yang gede-gede itu, lho.”
Ibuku mengelus rambutku sebelum menyeberang perempatan jalan Slipi
yang dipadati kerumunan kendaraan roda empat dan roda dua. Aku tidak
gentar sedikit pun dengan suara-suara kendaraan yang memekak telinga
sebab entahlah barangkali yang mengemudikannya hanya mematuhi lampu
merah tanpa menghargai pejalan kaki yang kepalanya kepanasan oleh
terik matahari ibu kota. Aku menekan ujung kebaya ibuku yang kumal
pada hidungku. Sukar rasanya menghela napas di jalan ibu kota.
Sepotong lagu, ingat-ingat lupa, keluar dari mulutku:
Nih si Doel anak betawi asli, kerjaannye sembahyang mengaji.
“Bu, kalau si Doel rumahnya di mana? Apa dia masih hidup?”
“Mana ibu tahu. Sudah jangan banyak nanya. Sebentar lagi kita sampai.”
Rambut ibuku yang hitam kemerah-merahan masih tetap tidak memudarkan
rona kecantikan yang melekat di wajahnya. Rambutnya terurai di
pelipisnya, tertiup angin, menantang terik matahari. Ia melihat
kaca-kaca mobil, bukan melihat para penumpang yang sedang
memperhatikannya. Kaca-kaca mobil itu seperti berada di ujung langit.
(Sedangkan aku sejak tadi melihat gumpalan awan yang tercerai-berai,
melayang secara sederhana, seperti kapas ditusuk-tusuk paku, melalui
kaca salah satu spion mobil yang terjebak. Macet.) Ia seakan hilang
dan tak mengenal dirinya sebab terlalu jauh ia memandang. Di balik
kebayanya yang lusuh, terselip kejujuran, seperti daun-daun kering
yang terjepit celah-celah jendela warteg di pojok sana. Tangan
kirinya menenteng setengah karung beras dari desa. Ia memikul
sebundel pakaian di punggungnya. Wajahnya meringis, menahan beban.
Berkali-kali ia mencubit pipiku sebab aku hendak berlari, berteriak
keras untuk memberi tahu langit ibu kota bahwa aku tengah berada di
Jakarta. Melihat beban di punggung ibuku, aku teringat salah satu
tetanggaku di desa, bernama Mbok Warti. Ia berjualan sayur-mayur,
keliling desa. Sejak sinar matahari menerpa bumi, ia memulai mencari
sesuap nasi, menjemput rezeki melalui kangkung, kacang panjang,
mentimun, labu, dan daun singkong. Karena aku suka makan sayur,
ibuku selalu membeli sayurannya dua atau tiga hari sekali.
“Berapa harga daun singkong ini satu ikat, Mbok?”
“Seribu empat ikat.”
“Kok, murah sekali, Mbok? Jual saja seribu dua ikat, biar Mbok dapat
uang untuk makan.”
“Ah, kemarin juga Mbok jual dengan harga seribu tiga ikat,
orang-orang enggak mau lagi beli, Neng Ratih.”
“Tapi Mbok menjualnya sampai habis, ‘kan?”
“Ya … kadang habis, kadang enggak. Tergantung mujur enggaknya nasib
Mbok dari Tuhan.”
“Tapi makan Mbok bagaimana?”
“Ya … soal makan sih sama saja.”
Sisa-sisa nasi kuning masih melekat dalam sela-sela gigi Mbok Warti.
Saat tertawa ia selalu membuka mulutnya lebar-lebar sehingga aku
dapat melihat gigi-gigi gerahamnya kuning kecokelatan. Wajahnya
terlihat ceria dalam kesendiriannya. Dalam kesepiannya. Sebab
anak-cucunya telah tidak lagi menghiraukannya. Kerut-kerut kulit
kepalanya yang tampak di antara beberapa helai uban tua tampak rapuh,
berbintik putih. Semacam ketombe yang tidak mengenal langir. Kaki
kanannya yang terbalut kain samping, sedikit di bawah lututnya,
bengkok ke dalam. Ia menyeret kaki kanannya saat berjalan. Terus
berjualan. Terus keliling desa.
Sebelum kami berangkat ke Jakarta, Mang Dora, salah seorang
tetanggaku, yang rumahnya terletak seratus tujuh puluh langkah
pendek dari rumahku, mampir ke rumahku. Ia masuk tanpa mengetuk
pintu atau mengucapkan salam terlebih dahulu. Bola matanya jelalatan,
menatap setengah karung beras dan sebundel pakaian yang bertengger
di atas meja papan johar, yang posisinya agak miring empat puluh
lima derajat dari sisi meja. Jumbai-jumbai karung yang diikat tali
plastik menutupi bundel pakaian. Sudut bibirnya yang tertutup kumis
tebal berdenyut setiap kali ia mulai berbicara. Kedua matanya yang
menyala selalu tidak menatap mata orang yang sedang ia ajak
berbicara. Ia lebih senang menatap jari-jari kakiku yang ujung kuku-kukunya
penuh kotoran tanah atau membuang wajah ke samping sambil
menyelipkan kata “puiiiiiiih”.
“Jadi, kau dan si Ujang jadi pergi ke Mamih Noni? Aku sudah bilang
padanya bahwa kau dan si Ujang bersedia menjadi pembantu di sana. Ya
… hitung-hitung kau balas budi setelah kematian suamimu setahun yang
lalu saat tertimpa besi tulang rusuknya. Kau tahu, pada waktu itu
aku sedang bekerja sebagai kuli bangunan bersama suamimu di
apartemen barunya. Dia orang kaya. Tidak seperti kita-kita. Mau kau
kasih makan apa si Ujang? Apa si Ujang enggak akan disekolahkan?
Berapa umur kamu, Jang?” tanya Mang Dora sambil menepuk-nepuk daun
pintu. Ujung jari kakinya dihentak-hentakkan ke atas ubin yang retak.
“Delapan tahun, Mang.”
“Kami akan berangkat sekarang, Mang. Sebab mau makan apa lagi kalau
tidak usaha? Jadi buruh tani cuma capeknya saja. Hasilnya nol. Aku
sudah tak tahan dihimpit hutang, Mang. Setelah Kang Barja meninggal,
tak ada lagi yang membiayai kebutuhan sehari-hari kami,” kata ibuku
dengan suara berat seperti berbicara dalam ember kosong yang
terinjak sepatu.
“Ya … sudah. Tunggu apa lagi. Berangkat sana. ini ambil untuk
menambah ongkos,” kata Mang Dora sambil menyodorkan tiga lembar uang
sepuluh ribuan pada telapak tangan ibuku yang bergetar tak beraturan.
Setelah itu, ia pergi tanpa sepatah kata sebagai tanda berakhirnya
sebuah obrolan. Tangan kirinya meluruskan kaos dalamnya yang
terpilin di atas pusarnya yang menonjol, sedikit berbulu. Sambil
berjalan ia menyibakkan rambut keriting gondrongnya berkali-kali. Ia
tersenyum masam kepada kami lalu lenyap, berubah menjadi batang
pohon mangga besar dalam pandangan hampa mataku di balik pintu.
***
Sebuah rumah besar, seperti sebuah istana bagiku, menghadap sebuah
taman hijau yang luas. Kolam ikan dengan air mancur yang keluar dari
sebuah teko yang digenggam oleh kedua tangan patung wanita berambut
panjang sangat menyejukkan. Aneka bunga berwarna ungu, merah, kuning,
dan biru muda terlihat tabah, menemani ketenangan pancuran air kolam
yang di dasarnya bergerak bebas ikan-ikan hias. Beberapa pohon
cemara berdiri tegak di sudut teras rumah yang berkeramik gading tua.
Jalan berkelok-kelok di taman itu menambah suasana terkesan artistik.
Pintu rumah itu terbuat dari kayu jati, penuh ukiran Jepara. Awan di
atas rumah tampak putih. Seolah terlalu suci untuk dinodai. Beberapa
burung berkelebat di dekat kabel telepon yang sedikit terkelupas.
Kami berdiri mematung di depan rumah besar itu - setelah pintu
gerbang dibuka oleh seorang lelaki muda - saat pintu rumah dibuka
oleh seorang wanita berumur empat puluhan. Ia mengenakan gaun sutera
biru tua dengan renda pita merah melingkar pada bagian pinggang dan
bahunya. Dua kalung emas, sebesar jari kelingking, melingkar di
lehernya. Sepatunya berhak tinggi sehingga cara ia berjalan kurang
alami. Rambutnya ikal, mengembang. Harum, menyengat. Di tengah pipi
kirinya yang kuning terdapat tahi lalat sebesar biji kacang hijau.
Tatapan matanya keras.
“Oh, kamu, Ratih. Aku nitip pesan ke si Dora agar kamu mau jadi
pembantu di sini. Aku ingin kamu mengenal hidup sejati di kota.
Hidup senanglah seperti orang lain … iya, ‘kan?”
Seorang anak laki-laki, putih-gemuk, berumur empat tahun, berlari
dari belakang pintu yang terbuka sekitar satu meter. Ia melemparkan
sebuah mobil-mobilan ke dadaku sambil tertawa, mengejek.
“Oh, Ratih, ini anakku yang bungsu. Jang, kamu bisa ajak main Bobi,
‘kan? Cepat ajak Bobi main sana. Anak kamu, si Ujang, sudah gede
rupanya. Dulu waktu kamu dan si Barja masih hidup, kamu sempat ke
sini, si Ujang baru berumur, ah … ah … aduh, berapa … tiga tahun, ya?
Oh, ya sudah, kamu pergi ke dapur. Ingat, Rat, banyak kerja itu sama
dengan banyak uang! Kamu ke Jakarta untuk cari duit, bukan?”
“Ba-ba-ba-ik, Mamih Noni,” kata ibuku ragu, seolah ada satu rahasia
yang tertutup di antara mereka berdua —- untuk sementara.
***
Bandung, 31 Januari 2008
|
|