Sabtu, 11 April  2009

B U D A Y A

No. 6162

 

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
WiraUsaha Sosial
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

SAJAK-SAJAK BUDHI SETYAWAN




Ombak Mengirim Sunyi

di sini ombak menciumi untai sajakmu, yang mengalir di sela tapak tapak matahari yang berjalan di atas karang. uap kenangan yang kausuling menjelma minyak wangi, mengisi celah celah hiasan di gerbang ukir batu. aku menagih mimpi tentang taman puisi yang belum juga kaukirimkan, meski mendung telah mengadu pada langit. angin kisah berlarian mencapai gemulai arca. sesaji meruncing mengikhtisarkan bongkah asa yang memenuhi kamar, meniti tangga sutra untuk menyampaikan doa kepada para dewa. sapuan pelangi mengikuti lengkung janur di perjalanan. akankah warna warna itu akan terus berkecak melumuri relief usia. jalanan terlalu gemuruh dengan rumus dan angka angka. lukisan panorama alam berlomba menakar palung rasa. ada yang diam diam terengah engah dalam golak arus gaung kembara. kesunyian jejak masa kecil yang tertanam begitu dalam, sedangkan lagu lagu masa kini terlalu rancak dan pesat. siapa kini yang jadi temannya.

Tanah Lot, 2008




Bukan Mawar
Hanya Kesah

ada riuh suara menuliskan buihnya
pada butir pasir yang kemarau
di jalanan yang mencari bingkai licin
seliar lidah naga menawar kisah
dengan api yang dikirimkan ke ubun ubun
tak ada mawar yang kutemukan
hanya pecahan umpatan serta kesah
dan samar samar cerita tentang malam
ya malam yang keseringan mabuk
tak sempat kutanyakan pada bangku bangku kayu
jangan jangan telah banyak
yang menjelma mesin di sini

selalu saja pantai
menghamparkan haru ketakjuban
melemparkan ke titik kesendirian
juga nganga pertanyaan yang melaju
serupa jaring
serupa jala
mengemasi ratusan tanda tanda
memunguti rangkuman nada nada

Jimbaran, 2008




Di Tubuhmu Bali

di punggung tubuhmu
lumut terkesiap bangun
menatapku yang letih
datang mengangkut dahaga
berkeringat debu ringkih

anyaman kisah para dewa
ada di pohon dan dedaunan
juga rumputan yang sering bercakap

bola mata tajam yang gesit menari
menghunjamkan matahari pada degup lukisan
selalu memahatkan pesona kerinduan

pintu pintu cerita yang selalu terbuka
menanti kunjungan tamu yang datang
meski hanya berbekal beberapa keping kata

banyak kelokan dan tikungan
juga jalan menanjak dan menurun
yang akan menambah pundi sejarah pencarian

lalu mesti lewat bait yang mana
kuselusuri mozaikmu yang menjuntai
tergerai mewangi di lingkar pantai

di punggung tubuhmu
puisi bermekaran tanpa ragu

Denpasar, 2008




Tak Seberapa
yang Kuingat

aku tlah lupa namamu
dan memang aku gampang lupa
pada hafalan rentet kata yang kadang
begitu belantara maknanya
namun aku takkan lupa pada lukisan dekap dan sketsa doa
yang terus kaurajut bersaing rebut dengan gelaran jauh

aku tlah lupa dengan namamu
dan di malam apa kita bertemu
asing saling menjadi tamu
yang katamu tak usah diigat tak perlu itu
namun bulan selalu mengirim dedaunnya yang perak
menjadi ornamen mekar di pinggir jendela parau teriak

Jakarta, 2008




Yang Sampai Kini
Belum Kumengerti

aku tahu aku sajak yang kering. kau tak pernah membacaku ketika cuaca cerah. nanti ketika udara berkabut, dengan sedikit kiriman kalut, mengemasi senja ruam tembaga. kau akan selalu pejamkan mata dan mengejaku dengan air mata.

Bekasi, 2009

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008