|
SAJAK-SAJAK
BUDHI SETYAWAN
Ombak Mengirim Sunyi
di sini ombak menciumi untai sajakmu, yang mengalir di sela tapak
tapak matahari yang berjalan di atas karang. uap kenangan yang
kausuling menjelma minyak wangi, mengisi celah celah hiasan di
gerbang ukir batu. aku menagih mimpi tentang taman puisi yang belum
juga kaukirimkan, meski mendung telah mengadu pada langit. angin
kisah berlarian mencapai gemulai arca. sesaji meruncing
mengikhtisarkan bongkah asa yang memenuhi kamar, meniti tangga sutra
untuk menyampaikan doa kepada para dewa. sapuan pelangi mengikuti
lengkung janur di perjalanan. akankah warna warna itu akan terus
berkecak melumuri relief usia. jalanan terlalu gemuruh dengan rumus
dan angka angka. lukisan panorama alam berlomba menakar palung rasa.
ada yang diam diam terengah engah dalam golak arus gaung kembara.
kesunyian jejak masa kecil yang tertanam begitu dalam, sedangkan
lagu lagu masa kini terlalu rancak dan pesat. siapa kini yang jadi
temannya.
Tanah Lot, 2008
Bukan Mawar
Hanya Kesah
ada riuh suara menuliskan buihnya
pada butir pasir yang kemarau
di jalanan yang mencari bingkai licin
seliar lidah naga menawar kisah
dengan api yang dikirimkan ke ubun ubun
tak ada mawar yang kutemukan
hanya pecahan umpatan serta kesah
dan samar samar cerita tentang malam
ya malam yang keseringan mabuk
tak sempat kutanyakan pada bangku bangku kayu
jangan jangan telah banyak
yang menjelma mesin di sini
selalu saja pantai
menghamparkan haru ketakjuban
melemparkan ke titik kesendirian
juga nganga pertanyaan yang melaju
serupa jaring
serupa jala
mengemasi ratusan tanda tanda
memunguti rangkuman nada nada
Jimbaran, 2008
Di Tubuhmu Bali
di punggung tubuhmu
lumut terkesiap bangun
menatapku yang letih
datang mengangkut dahaga
berkeringat debu ringkih
anyaman kisah para dewa
ada di pohon dan dedaunan
juga rumputan yang sering bercakap
bola mata tajam yang gesit menari
menghunjamkan matahari pada degup lukisan
selalu memahatkan pesona kerinduan
pintu pintu cerita yang selalu terbuka
menanti kunjungan tamu yang datang
meski hanya berbekal beberapa keping kata
banyak kelokan dan tikungan
juga jalan menanjak dan menurun
yang akan menambah pundi sejarah pencarian
lalu mesti lewat bait yang mana
kuselusuri mozaikmu yang menjuntai
tergerai mewangi di lingkar pantai
di punggung tubuhmu
puisi bermekaran tanpa ragu
Denpasar, 2008
Tak Seberapa
yang Kuingat
aku tlah lupa namamu
dan memang aku gampang lupa
pada hafalan rentet kata yang kadang
begitu belantara maknanya
namun aku takkan lupa pada lukisan dekap dan sketsa doa
yang terus kaurajut bersaing rebut dengan gelaran jauh
aku tlah lupa dengan namamu
dan di malam apa kita bertemu
asing saling menjadi tamu
yang katamu tak usah diigat tak perlu itu
namun bulan selalu mengirim dedaunnya yang perak
menjadi ornamen mekar di pinggir jendela parau teriak
Jakarta, 2008
Yang Sampai Kini
Belum Kumengerti
aku tahu aku sajak yang kering. kau tak pernah membacaku ketika
cuaca cerah. nanti ketika udara berkabut, dengan sedikit kiriman
kalut, mengemasi senja ruam tembaga. kau akan selalu pejamkan mata
dan mengejaku dengan air mata.
Bekasi, 2009
|
|