|
Cerita Pendek
Kamar 409
Oleh
Ahmad Faishal
“Keadilan di sini memang bejat, seperti radio rusak!” Teriak Pak
Mistar setelah hakim memutuskan ia tidak bersalah dan secara resmi
pihak pengadilan memohon maaf atas kesalahan-kesalahan prosedural di
persidangan sebelumnya.
“Pakai minta maaf segala, semua orang mengetahui bahwa kalian semua
ceroboh, kalian semua bajingan!” Berdiri sambil menunjuk-nunjuk para
hakim, “apakah kalian dan bahkan negeri ini dapat menggantikan masa
lalu saya yang hancur itu.” Semua orang yang berada di ruangan itu
diam. Suasana ruangan menjadi lengang, seakan-akan sedang berada di
jalanan antara Surabaya-Banyuwangi pada jam dua belas malam, “Coba
jawab pertanyaan saya. Hayo jawab. Jangan hanya saling berpandangan
begitu.” Pak Mistar berdiri sambil mengangkat kedua tangannya,
lantas berbalik menghadap peserta sidang.
“Maaf pak, sekali lagi maaf, kami hanya....”
“Lagi-lagi maaf, semakin banyak kata maaf yang kalian ucapkan
semakin kelihatan bahwa kalian tampak seperti badut bodoh, memalukan!”
Pak Mistar meludah ke lantai, “ Coba kalian pikirkan bagaimana
rasanya dicemooh seluruh warga kota. Apakah kalian dapat
menggantikannya dengan mengucapkan kata maaf dan memutuskan bahwa
saya tidak bersalah? Ketahuilah kalian semua, bahwa saya berhak
untuk meledakkan gedung pengadilan ini untuk menebus hukuman dan
kesalahan kalian.”
Hakim memukulkan palu keras-keras, “ Sidang ditutup!” Lantas para
hakim saling menoleh dan berdiri hendak pergi. Pak Mistar berteriak,
“sebentar bajingan. Sebentar!” Para hakim tidak memedulikan teriakan
pak Mistar.
“Tutuplah semua, tutup seperti hati kalian agar kebusukan-kebusukan
kalian tetap terjaga. Pengecut!. Terkutuk!”
Ruang sidang menjadi gaduh. Para hakim dan jaksa meninggalkan
ruangan sidang. Beberapa orang mendatangi pak Mistar untuk membantu
menenangkan emosinya. Pak Mistar membenahi bajunya yang sedikit
kusut, menyeka keringatnya dengan tisu yang baru saja diberikan oleh
rekannya. Lalu Pak Mistar beserta beberapa rekannya beranjak keluar
ruang sidang, akan tetapi beberapa wartawan mencegatnya di pintu. “
Bagaimana perasaan Bapak setelah mendengar putusan ini?”
“Apa? Tidak salah kamu menanyakan perasaan saya? Seharusnya kamu
menanyakan perasaan hakim, sipir, polisi dan warga kota atas
tuduhannya itu. Bukannya perasaan saya yang semenjak sepuluh tahun
lalu saya buang jauh-jauh. Hei anak muda, perlu kamu ketahui bahwa
perasaan saya telah musnah, jika saya menggunakan perasaan bukannya
pikiran barangkali saya telah membenturkan kepala saya ke tembok
penjara hingga pecah setelah mendengar putusan pengadilan beberapa
tahun yang lalu.”
“Apa saja yang Bapak lakukan selama lima tahun enam bulan dalam
penjara?”
“Lima tahun tiga bulan,” pak Mistar diam sejenak mengamati
langit-langit ruangan,“ selama itu ternyata lebih berarti daripada
seperempat hidup saya untuk tahu kehidupan.”
“Maksud bapak?” ujar salah seorang sambil menyodorkan handphone ke
dekat mulut pak Mistar. Pak mistar tertawa terbahak-bahak sehingga
tubuhnya yang kurus seakan-akan melayang.
“Kamu wartawan apa, dan berapa umurmu sekarang?”
“Dua puluh sembilan tahun,” menjawab seakan-akan ia tak sadar dengan
apa yang baru saja diucapkannya.
“Hidupmu begitu lurus dan polos. Seperti tiang listrik. Kamu lihat
itu,” menunjuk pada bunga dalam pot depan pintu ruang sidang,
“Itulah saya.”
Pak Mistar lantas berjalan keluar hendak menghampiri mobil yang akan
membawanya pulang, tapi wartawan-wartawan itu mencoba
menghalangi-halangi dengan mengajukan beberapa pertanyaan.
“Apakah Bapak tidak akan menuntut balik pengadilan ini? bagaimana
cara Bapak mengembalikan nama baik? Apakah Bapak punya keinginan
untuk menikah lagi?”
“Pertanyaan Anda tidak layak saya jawab. Pertanyaan-pertanyaan Anda
menyangkut strategi yang telah saya susun selama dalam penjara”.
“Strategi apa itu Pak?” ujar salah seorang reporter TV nasional.
“Dasar kalian para pembuat berita, mana ada strategi diumumkan
kepada semua orang, itu sama halnya dengan saya menjebak diri saya
sendiri, betul kan?”
Lantas Pak Mistar berjalan memasuki mobil diiringi beberapa rekannya,
melambaikan tangan sejenak lalu mobil itu meluncur keluar. Mobil itu
tidak menuju ke rumah Pak Mistar, tapi menuju ke rumah makan
kesukaan Pak Mistar di perbataasn kota. Rumah makan yang disetting
bernuansa Jawa dengan aneka menu masakan tradisional.
“Rujak cingur pedas dan bir dikasih es sedikit,” ujar Pak Mistar
kepada pelayan.
“Saya merasa aneh, saya tidak merasa bebas sedikit pun. Malahan
nalar pikir saya tidak sejernih ketika saya masih berada dalam
penjara,” ujar Pak Mistar sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Kamu memang aneh Mistar, semua orang menghendaki keluar dari
penjara.”
“Betul, tapi saya membutuhkan kebebasan. Akhir-akhir ini rasa
kebebasan itu bersembunyi dan kebebasan itu saya rasa berada pada
ruang yang tak pernah tersentuh dan dirasakan oleh kita.”
“Apalagi kamu ini Mistar, kamu sekarang bebas. Ayo nikmati
kebebasanmu dan buang jauh-jauh pikiran anehmu itu,” ujar pak Nomo,
lelaki bertubuh besar dengan kumis serupa sapu, sahabat karib Pak
Mistar semenjak sekolah SMP di kampung halamannya.
“Dari dulu kamu selalu begitu, kita sebetulnya berbeda pandangan
tentang banyak hal, tetapi selalu sepakat terhadap sesuatu yang kita
sendiri tidak mengerti,” Pak Mistar tersenyum. Pelayan restoran
datang membawakan pesanannya. “Nomo, kamu masih ingatkan pada Santi,
gadis kecil yang sama-sama kita sukai dan kita sepakat untuk tidak
berbuat apa-apa terhadapnya?”
“Aku sangat kagum pada kulit dan hidungnya.”
“Aku menyukainya sebab ia cerdas dan sederhana,” Pak Mistar tertawa,
“Masa lalu yang menyedihkan.”
Beberapa saat hidangan telah habis. Pak Nomo mendatangi kasir. Lalu
masuk mobil kembali.
“Kita keluar kota saja, saya ingin sendirian di sana.”
“Ke mana?”
“Malang.” Mobil itu melesat menuju arah jalan tol. Langit mulai
sedikit gelap, awan bergulung-gulung, angin berhembus kencang, dari
jendela mobil tampak beberapa burung terbang tak dapat mengendalikan
diri yang melawan embusan angin. Mobil semakin cepat dipacu.
Beberapa saat kemudian gerimis menerpa, kaca mobil dirapatkan.
“Kami masih belum menemukan laki-laki bajingan itu, Pak,” kata salah
seorang memecah keheningan, “ kami telah mencari kebeberapa kota
bahkan beberapa hari kami menyelidiki pelabuhan, terminal dan
stasiun, ternyata laki-laki itu memang selicin belut.”
“Tapi saya kira laki-laki itu masih berada dalam kota, Pak,” kata
seorang lagi menimpali.
“Bagaimana ceritanya sampai warga kota tidak menerima pemakaman adik
saya,” ujar Pak Mistar berbicara sambil mengusapkan tangannya ke
kaca untuk menerangkan pandangannya ke luar jendela dari gerimis
yang menguap di balik kaca mobil. Pak Mistar dengan saksama
memperhatikan percikan-percikan air di jalan yang dihempas ban-ban
mobil.
“Kami telah mencoba memberi pengertian pada mereka bahwa adik Bapak
berbeda dengan kakaknya, yang waktu itu mereka sangat muak kepada
Bapak, Bapak diibaratkan lebih buruk dari mimpi-mimpi yang paling
menakutkan mereka,” kata salah seorang yang duduk di jok tengah,
kemudian menyalakan rokok dan menawarkan pada Pak Mistar. Pak Mistar
menyalakan rokok itu dan menekan asapnya dalam-dalam ke dadanya,
“Bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa arwah sanak familinya
tidak akan dicampur-baurkan dengan mayat yang terkutuk itu, kami
tidak dapat berbuat apa-apa lagi Pak, mereka sangat ngotot
menolaknya, jadi kami terpaksa mengubur mayat adik bapak itu di
daerah rawa-rawa dekat kota kelahiran Bapak.”
“Bagaimana dengan orang di kampung halaman saya?”
“Pendapatnya tidak jauh berbeda, bahkan hampir seluruh warga di kota
ini berpendapat serupa.”
“Orang-orang bodoh! Mudah diperdayai. Bagaimana mereka harus
mempertanggung-jawabkan sikapnya terhadap saya dan arwah adik saya.
Mereka punya utang melebihi seluruh harta dan kehidupannya. Bangsat!”
Pak Mistar meludah. Hujan telah reda dan mobil telah memasuki Kota
Malang. Mobil terus menelusuri jalan-jalan kota yang dingin itu, “ke
Batu,” ujar Pak Mistar. Mobil itu melaju menuju arah yang ditunjuk
Pak Mistar.
Beberapa lama kemudian mobil itu berbelok ke sebuah hotel.
“Kalian tinggalkan saja saya di sini, saya ingin sendirian, tiga
hari lagi jemput saya.”
“Tapi Mistar....” ujar Pak Nomo yang tidak paham dengan kelakuan Pak
Mistar.
“Sudahlah Nomo, saya memang betul-betul ingin sendirian.” Pak Nomo
hanya diam. Pengusaha real estate itu lantas memberi segenggam uang,
“ini buat berjaga-jaga.”
“Terima kasih.”
Pak Nomo beserta beberapa rekannya kembali memasuki mobil.
Melambaikan tangannya. Lalu mobil itu melesat meninggalkan Pak
Mistar.
Pak Mistar memasuki lobi hotel, “kamar VIP”.
“Kamar 409 lantai empat.”
Pak Mistar berjalan menaiki tangga lalu memasuki kamarnya. Pak
Mistar membuka jendela menatap kemerlip lampu-lampu di bawah hotel.
Beberapa saat kemudian pintu diketuk seseorang. “ Masuk,” jawab Pak
Mistar. Lelaki itu memperkenalkan diri bahwa ia pelayan hotel,
sambil tersenyum ia berkata, “Apakah Bapak butuh teman malam ini,
minggu ini ada empat gadis baru.”
“Apa? Gadis baru? Apakah kamu pikir saya butuh perempuan-perempuan
tolol itu. Dengar ya, jangan coba-coba perlakukan saya sama dengan
tamu-tamu saudara. Camkan itu!”
“Maaf pak,”
“Lagi-lagi kata maaf, sudah beratus-ratus kali saya mendengar kata
itu dalam sehari. He, apakah kata maaf itu cukup ampuh untuk menebus
suatu kesalahan? Ayo jawab. Jangan diam!”
“Tidak, Pak.” Pelayan itu menundukkan kepalanya sambil menatap
lantai.
“Bawakan saya kopi, bir, dan rokok.”
“Baik, Pak.” Pelayan itu bergegas meninggalkan Pak Mistar. Beberapa
saat kemudian ia telah kembali dengan membawa pesanan Pak Mistar.
Pak Mistar memberikan uang seratus ribu, “Buat kamu.”
Malam semakin larut, cuaca semakin dingin. Pak Mistar masih saja
memperhatikan secara detail seisi ruangan: lampu-lampu, kasur,
korden, almari, kulkas, lukisan kuda, lukisan penari Bali, dan
keramik-keramik. Lalu Pak mistar menyalakan TV, mengganti-ganti
program, beberapa saat kemudian mematikannya kembali. Menyalakan
rokok, mengambil sebotol bir lalu berjalan ke arah jendela.
Keesokan harinya pintu diketuk seseorang, “Apakah kamarnya akan
dibersihkan?” Pintu diketuk lagi, orang itu mengucapkan kata-katanya
kembali dengan suara lebih keras. Pak Mistar membuka pintu, “Tidak
usah, tolong belikan saja dua koran yang berbeda,” sambil
menyodorkan uang dua puluh ribu. “Baik, Pak,” kata salah seorang
yang bertubuh lebih kecil, lalu membalikkan tubuhnya, berjalan
bergegas meninggalkan Pak Mistar dan rekannya yang sedang memegang
seperangkat alat pembersih. Pak Mistar menutup pintu dan lelaki itu
menunggunya di luar. Pintu diketuk lagi, “Korannya, Pak,” lelaki
bertubuh kurus itu menyerahkan koran pada Pak Mistar. “Ambil
kembaliannya.”
Pak Mistar duduk di dekat jendela mengamati koran lokal. Di halaman
utama tertulis: “Pengadilan Harus Menebus Dosa”. Pak Mistar membaca
dengan saksama seluruh berita tersebut. Koran itu dilipat kembali,
lantas Pak Mistar berjalan ke arah meja, meneggak bir, dan
menyalakan rokok. Pak Mistar berputar-putar di dalam ruangan itu,
lalu menelepon pelayan hotel, “dari kamar 409, bawakan saya bir dan
makanan kecil.” Pak Mistar kembali ke tempat koran yang berserakan,
Pak mistar membaca berita utama koran harian nasional: “Publik Harus
Instropeksi dan Bersikap Kritis”. Pak Mistar membaca sambil
mengerutkan dahinya, lalu membanting koran itu.
Pintu diketuk, “Silakan masuk.” Pelayan hotel itu lalu meletakkan
beberapa botol bir di meja. “Bawakan satu kemari.” Pelayan itu
membuka penutup botol dan menyerahkan pada Pak Mistar. “Ini buat
kamu,” Pak Mistar memberikan dua puluh ribu pada pelayan tersebut.
Beberapa saat kemudian botol di tangan Pak Mistar telah habis
ditenggaknya.
Pak Mistar menyalakan TV, menekan tombol-tombol remot, dan hampir
serentak stasiun TV itu menayangkan berita tentang kasus dan
persidangannya kemarin. Pak Mistar membiarkan layar TV itu diam pada
acara wawancara antara pengusaha yang menjadi sahabatnya, yakni pak
Nomo dengan pakar hukum dan tata negara yang sangat disegani.
“Bagaimana pendapat Bapak mengenai kesalahan prosedural terhadap
kasus Bapak Mistar yang telah lima tahun setengah dipenjara dalam
kasus tuduhan mencampuri racun pada perusahan air minum yang
menewaskan tujuh ratus lebih warga Kota Surabaya, tetapi pada
akhirnya dinyatakan tidak bersalah. Apakah ini suatu bukti bahwa
kelalaian dan kecerobohan masih kental di negeri ini?” ujar
presenter TV. Pak Mistar yang agak sempoyongan itu berjalan ke arah
meja membawa sebotol lagi ke depan TV. Pak Mistar langsung
menenggaknya di saat pakar hukum dan tata negara itu sedang
berbicara.
“Perjuangan gigih untuk sahabat Bapak rupanya membuahkan hasil,
sebetulnya apa yang memotivasi Bapak? ujar presenter TV itu pada Pak
Nomo.
“Yang memotivasi saya cuma sekadar sahabat. Dia memang keras kepala
dan pikirannya sedikit radikal, hati nurani saya terpanggil untuk
membelanya. Ketika semua orang membencinya, bahkan istrinya sendiri
pun meninggalkannya ketika ia masih di dalam penjara. Apa lagi adik
kesayangannya dibunuh seseorang yang tidak dikenal pascakejadian
yang mengenaskan itu. Adiknya itu seorang guru teladan, entah
mengapa orang-orang itu begitu keji terhadapnya. Pada mulanya saya
juga memercayai berita-berita dan gunjingan orang, tapi setelah
mencermati penderitaan sahabat saya itu, saya mencoba mengumpulkan
beberapa orang yang kompeten untuk menyelidiki sendiri. Ya,
beginilah hasilnya,” ujar Pak Nomo merasa puas. Pak Mistar kembali
menenggak minuman itu. Pak Mistar menekan remot, memindah-mindah
program. Pak Mistar tertegun begitu lama ketika di layar TV, tampak
istrinya sedang diwawancarai, “Saya masih sangat mencintainya,”
ujarnya sambil menangis sesenggukan, “Tapi saya tidak kuat dengan
omongan orang-orang, saya dituduh telah menikahi seorang iblis....”
Seketika Pak Mistar mematikan TV. Berjalan ke meja dan menenggak
sebotol lagi. Lalu Pak Mistar menelpon pelayan hotel dan memesan
beberapa botol lagi untuk segera dikirim ke kamarnya. Dengan cepat
pelayan itu telah sampai ke kamar 409. “Jangan letakkan di situ,
saya sulit menjamahnya. Taruh di atas kasur itu saja.” Pelayan hotel
membersihkan botol-botol yang berserakan, lalu berkata, “Bapak sudah
mabuk, terlalu banyak yang Bapak minum, sudahlah, Pak, diminum besok
saja.” Seketika itu Pak Mistar menoleh ke arah pelayan itu, lalu
melempar botol ke arahnya, “Tahu apa kamu tentang kemabukan!
Menyuruh saya untuk istirahat. Cepat keluar! Keluar, bajingan!.”
Seketika pelayan itu terbirit-birit ke luar.
Pak Mistar menenggak beberapa botol lagi. Semakin cepat ia tenggak
minuman-minuman itu. Dengan rasa mabuk yang berat, Pak Mistar
berusaha berjalan ke kamar mandi, tapi baru saja beberapa langkah,
tubuhnya telah roboh ke lantai. Pak Mistar tidak kuat mengangkat
tubuhnya, hanya tangannya yang menggapai-gapai sesuatu. Dengan
mengumpulkan seluruh tenaga ia berusaha bangkit dan bertumpu pada
TV. TV miring, lalu menimpa kepala Pak Mistar. Layar TV pecah, ada
darah mengucur dari keningnya, tubuh Pak Mistar kejang-kejang,
pelahan-lahan tubuhnya membiru, darahnya mengering. n
|
|