|
Anak-anak Poso
Berjuang Melawan Trauma
Poso - Sepuluh tahun sudah konflik horizontal di Kabupaten Poso
berlalu. Namun, kenangan pahit itu masih membekas. Hingga kini masih
banyak warga belum kembali dari pengungsian. Konflik menyisakan
banyak duka. Tak terkecuali anak-anak. Mereka menderita trauma
konflik.
Oleh
Erna Dwi Lidiawati
RIUH-rendah suara anak-anak Sekolah Dasar Sintuvu Lemba, Sabtu
(20/12) pagi. Mereka tengah bekerja bakti, bergotong royong
membersihkan halaman sekolah dari rumput-rumput liar yang tumbuh
subur. Gedung sekolah itu dibangun tahun 2002, 9 kilometer dari Kota
Poso. Tak banyak siswa yang bersekolah di situ. Jumlahnya hanya 43
siswa. Ruangan kelasnya cuma enam. Kelas enam muridnya hanya tiga
orang. Yang paling banyak kelas satu.
Itu karena banyak orang tua yang harusnya menyekolahkan anak mereka
masih bertahan di tempat pengungsian. Mereka masih takut kembali.
Mereka masih didera trauma. Hari ini mereka tidak belajar. Ulangan
sekolah sudah usai beberapa hari lalu, makanya tidak ada proses
belajar-mengajar ketika SH berkunjung ke sana.
Di sekolah tersebut ada delapan anak korban konflik. Dua di
antaranya adalah Uto dan Ichsan. Mereka adalah dua sahabat yang
berbeda keyakinan. Tapi tak ada permusuhan, tak ada dendam di wajah
mereka. Yang ada hanya keceriaan.
Saat diwawancara, Ichsan turut memanggil Uto. Ia tak mau sendiri.
Anak-anak itu punya cita-cita yang tulus ingin membahagiakan
orang-orang yang mencintai mereka dan mengabdi kepada negara. Dengar
saja apa yang mereka katakan. “Kalau besar Ichsan mau jadi tentara.
Mereka berani. Kalau Uto mau jadi dokter, supaya bisa bantu-bantu
orang sakit,” kisah Uto mewakili Ichsan yang tampak malu-malu.
Di luar itu, seusai sekolah aktivitas anak-anak korban konflik ini
tentu tidak berbeda dengan anak-anak lain. Belajar, bermain dan juga
membantu ibu mereka. Seperti Uto. “Biasanya kalau saya pulang
sekolah, makan, tidur, habis tidur siang bacuci piring. Jadi bakerja
dulu, pas jam enam baru belajar,” aku Uto.
Aktivitas yang dilakukan Ichsan pun tidak jauh dari yang dilakukan
Uto. Kondisi listrik yang sering padam tidak menyurutkan niat mereka
belajar. “Biar mati lampu, tetap belajar. Biasa pakai mesin
generator,” kata Ichsan pendek.
Belum lekang dari ingatan kita, beberapa tahun lalu konflik
horizontal bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA)
mendera poso, daerah penghasil kayu eboni itu. Saat itu usia Uto dan
Ichsan masih kanak-kanak. Tapi, mereka merekam kekerasan yang
terjadi waktu itu. Beruntung berkat peran guru-guru di sekolah
tersebut yang mengajarkan kasih sayang antarsesama serta menekankan
bahwa kita semua bersaudara, trauma konflik yang dialami anak-anak
tersebut lambat laun terkikis.
Peran Tokoh Agama
Seperti dituturkan Kepala Sekolah SD Sintuvu Lemba Yuliana Pajoda,
“Kita beri pemahaman kepada anak-anak itu. Kita saling menghormati.
Kita saling menghargai antarumat beragama, saling menyayangi. Jadi,
tidak ada perbedaan antara yang Islam dan Kristen. Hubungan mereka
sangat baik. Kita tanamkan pada anak-anak bahwa kita tidak ada
perbedaan.”
Tak hanya guru, peran ustaz, orang tua dan pendeta juga menentukan
masa depan anak-anak korban konflik yang mengalami trauma. Seperti
anak-anak yang tinggal di Pondok Pesantren Hidayatullah, mereka
trauma ketika terjadi penegakan hukum terhadap 29 orang yang masuk
dalam daftar pencarian orang (DPO) kelompok bersenjata Januari 2007
lalu. Mereka trauma jika mendengar bunyi-bunyian yang menyerupai
bunyi ledakan. Misalnya knalpot pecah, mereka panik. Menghapus
trauma itu, anak-anak pondok ini selalu diberikan pengertian dan
pemahaman. Itulah yang dikatakan Wakil Pimpinan Pondok Pesantren
Hidayatullah, Poso, Darwis Waru.
“Pelan-pelan kita mencoba menyiasatinya. Melakukan pengobatan secara
apa adanya. Misalnya kita aktifkan dia dalam pengajian-pengajian.
Kemudian setiap habis salat biasa kita kumpul untuk mengamati
perkembangan. Kita memilah ada beberapa anak yang harus dihadapi
secara serius. Tapi, akhir-akhir ini kelihatannya sudah berbaur
semua, jadi tidak kelihatan mana yang trauma berat, mana trauma
kecil dan yang tidak mengalami trauma. Jadi, perkembangannya
alhamdulillah, sudah berbaur seperti biasa,” jelas mantan aktivis
penganjur damai Poso itu.
Begitupun dengan Pendeta Olha Pelima Wowiling. Ia membentuk sendiri
Jemaat Musafir. Jemaat ini terdiri dari seratus lebih keluarga
korban konflik. Ia membentuk jemaat ini di Palu di tempat
pengungsian. Namun, seiring semakin kondusifnya situasi Poso, jumlah
Jemaat Musafir ini berkurang. Jumlahnya sekarang kira-kira sekitar
50 keluarga. Untuk menghilangkan trauma anak, Jemaat Musafir punya
cara.
“Salah satu cara, mendekati orang tua, yaitu bagaimana berusaha
membimbing anak-anak terlebih dalam hal menonton televisi. Orang tua
sebaiknya menghindari siaran-siaran yang di dalamnya menyiarkan
kekerasan. Tetapi, kalau toh memang tidak bisa untuk itu ya kita
dampingilah ketika menonton, agar benar-benar mereka bisa diarahkan.
Apabila mereka menemukan siaran-siaran penuh dengan kekerasan,
karena acara anak-anak sering kali ada kekerasan, bisa saja itu akan
membuat mereka teringat akan masa lalu di Poso,” beber Olha.
Saat ini terdapat 26 panti asuhan Islam dan Kristen yang menampung
anak-anak korban konflik. Sebanyak 26 enam panti asuhan itu tersebar
di Poso. Untuk membantu pemulihan masa trauma, pemerintah setempat
bekerja sama dengan asuransi memberikan kupon berobat gratis kepada
korban konflik. “Untuk berobat mereka sudah gratis. Ada sekitar 600,
hampir 700 orang, yang sudah diberikan bantuan kartu berobat gratis.
Diserahkan oleh Bupati 17 Agustus lalu. Itu sudah diserahkan kepada
panti asuhan dan dihadiri oleh direktur atau pimpinan asuransi,”
kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Poso, Arnold Bouw.
Uto dan Ichsan adalah contoh kecil dari begitu banyak anak-anak di
Poso yang terkena dampak konflik. Beruntung kini angin damai yang
sejuk sudah menyelimuti Poso. Pertikaian sudah usai dan harus usai
karena konflik hanya meninggalkan luka, kesengsaraan dan kenangan
pahit. n
|
|