|
Kualitas Dokter
Merosot
Jakarta – Kualitas dokter di Indonesia merosot karena dunia
kedokteran sangat introvert (tertutup) dan feodal. Apa kata dokter
senior pasti akan dituruti oleh yang lebih muda. Padahal, tidak
semua yang dikatakan senior itu benar. Maka hal ini harus segera
diperangi dengan cara memperbaiki sistem pendidikan kedokteran di
perguruan tinggi.
Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Dr Kartono Mohammad
mengemukakan hal itu, Senin (1/12), menanggapi hasil riset yang
menyebutkan lebih dari 50 persen dokter Indonesia tidak memiliki
kompetensi dalam melayani pasien. Karena sekalipun dokter sudah
mempunyai sertifikat Continuing Medical Education (CME), belum tentu
dia seorang dokter yang baik. ”Karena masih perlu dipertanyakan
bagaimana dengan kompetensinya,” kata Profesor Hasbullah Thabrany
dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI)
seusai memaparkan hasil penelitiannya bersama peneliti dari
Australia tentang Tata Kelola Pelayanan Medis di Indonesia (SH,
27/12).
Menurut Kartono Mohammad, dokter Indonesia sangat introvert dan
terlepas dari realitas sosial yang ada. Sejak dalam pendidikan,
mahasiswa kedokteran sangat tidak ambil peduli dengan dunia di luar
kedokteran, sehingga ketika terjun ke masyarakat mereka gagal
menjadi pelayan masyarakat.
Kualitas dokter juga merosot karena dokter yang menjadi dosen juga
berpraktik sampai malam hari. ”Terus, kapan mereka menyiapkan bahan
pendidikan untuk mahasiswanya? Akibatnya, pendidikan berlangsung apa
adanya dan secara feodal mahasiswa ikut apa kata dosen,” tegas
Kartono.
Selain itu, masih menurut Kartono, para dokter, dosen, dan mahasiswa
kedokteran kurang menulis di jurnal ilmiah dan lebih memilih menjadi
konsumen tulisan orang asing. ”Itu pun kalau tidak malas. Tetapi
kebanyakan mereka malas membaca, berpikir pragmatis, lebih memilih
praktik dan tidak pernah meng-update ilmu pengetahuan baru,”
lanjutnya.
Saat ini kualitas fakultas kedokteran seharusnya menjadi tanggung
jawab universitas secara mandiri, tidak di bawah Departemen
Pendidikan Nasional (Depdiknas) maupun Departemen Kesehatan (Depkes).
Sebab kalau di bawah Depkes, nantinya bidang kedokteran akan makin
sempit karena hanya memenuhi kebutuhan Depkes saja.
421 Dokter Spesialis
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Bina Pelayanan Medis Dr Mulya
Hasjmy menjelaskan, Depkes siap mengambil alih pendidikan kedokteran.
Saat ini, Depkes telah melakukan Pendidikan Dokter Spesialis
Berbasis Kompetensi (PDSBK) dalam rangka percepatan peningkatan
akses dan mutu pelayanan medik spesialis, untuk memenuhi
ketersediaan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis di seluruh
pelosok masyarakat secara memadai.
”Pelaksanaan pendidikan tetap di kampus-kampus, tetapi saat ini di
bawah Depkes. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan dan kualitas
dokter spesialis yang dibutuhkan masyarakat,” jelasnya. Pendidikan
itu sudah berlangsung di 13 Fakultas Kedokteran, yaitu FK-USU,
FK-Unand, FK-Unsri, FK-UI, FK-Unpad, FK-Undip, FK-UGM, FK-UNS,
FK-Unair, FK-Unibraw, FK-Unud, FK-Unhas dan FK-Unsrat.
Pada jenjang 1-2 tahun, peserta telah menyelesaikan pendidikannya
dan menguasai semua kompetensi yang terdapat dalam kurikulum bidang
spesialis masing-masing. Pada jenjang 2-3 tahun, peserta mampu
menguasai kompetensi dan dapat menangani kasus-kasus yang umum.
Hingga saat ini, lulusan akademis tahun 2008, ada 421 dokter
spesialis, terdiri dari 47 dokter penyakit dalam, 58 dokter
kesehatan anak, 48 dokter bedah, 36 dokter obgyn, 43 ahli anastesi,
47 orang radiolog, 25 orang patologi klinik, 12 orang ahli rehab
medis.
”Dokter-dokter yang dikirim oleh pemerintah daerah mereka, akan
dipulangkan ke daerah masing-masing sesuai dengan kebutuhan daerah.
Mereka terikat komitmen untuk bekerja buat rakyat setempat. Bagi
yang tidak ,akan diurus oleh Depkes soal penempatannya,” tambah
Hasjmy.
Sementara itu, Direktur Pengabdian Pada Masyarakat Ditjen Dikti
Depdiknas, Munir, membantah anggapan yang menyebutkan bahwa fakutas
kedokteran tidak memiliki standar baku untuk mutu.
“Itu tidak benar, standar baku untuk mutu tetap ada, karena mereka
diuji oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya,” ujar Munir
kepada SH, Senin (1/12).
Untuk meningkatkan mutu fakultas kedokteran, Depdiknas telah
meningkatkan kualitas laboratorium milik fakultas kedokteran. Bahkan,
di beberapa universitas seperti di Unair Surabaya, Unpad Bandung,
dan Unhas Makassar telah dibangun teaching hospital. Depdiknas juga
akan terus meningkatkan mutu lulusan fakultas kedokteran, karena
berhubungan dengan manusia.
“Kita tidak akan main-main dengan mutu lulusan fakultas kedokteran,”
lanjutnya. Oleh sebab itu, Depdiknas juga telah melakukan kerja sama
dengan beberapa fakultas kedokteran di beberapa perguruan tinggi di
luar negeri untuk meningkatkan kualitas tersebut.
Sebelumnya, Profesor Hasbullah Thabrany dari Fakultas Kesehatan
Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), kepada SH, Kamis
(27/11), mengungkapkan bahwa lebih dari 50 persen dokter yang
memperoleh izin praktik, ternyata tidak mempunyai kompetensi untuk
melayani pasien, meskipun sudah mempunyai sertifikat CME. Ini
terjadi karena pemerintah tidak melakukan kontrol terhadap praktik
dokter. Oleh sebab itu, Depdiknas harus bekerja sama dengan Depkes
untuk menciptakan tenaga medis yang berkualitas. (web warouw/stevani
elisabeth)
|
|