|
Sajak-sajak
Oleh
Wildansyah Bastomi
Kado Ultah
(yang tertunda) Buat Simbok
Simbok aku masih jobless
Semoga masih ada tahun depan
Surabaya maret 2007
Bunga Matahari
bunga matahari:
perempuan pirang
dengan senyum merekah, pipi memerah,
payudara telanjang
bunga matahari:
gadis oriental
dengan tubuh mungil, pinggul kecil
mata sipit yang genit
bunga matahari:
tawa bayi
mata bening, gigi mutiara
setelah tangis
memecah
: bunga matahari temani aku setidaknya pada hari minggu
Surabaya, Oktober 2006
Hujan
di Tengah Malam
Ikan-ikan di akuarium. Berpapasan, bertabrakan, bertegur sapa
tapi tanpa kata.
Sepi.
Hanya mulutnya saja bercuap-cuap
seperti lanjut usia yang menyebalkan
yang selalu nggerundel dan uring-uringan.
Ikan-ikan itu tak letih dan tak bosan-bosannya mengitari bejana
yang luasnya hanya beberapa kali luas daun kelor.
Mungkin mereka itu memang tidak memiliki
perasaan. Seorang bocah
yang sedari tadi mengamati mereka tiba-tiba menitikkan
air mata di tengah malam buta.
Mulutnya cuap-cuap, mewek-mewek,
senyum-senyum kayak bebek.
Dia sebenarnya ingin berucap-ucap. Meski hujan
di kepalanya terlampau deras tapi tak
ada yang mengalir menjadi kata,
hanya sedikit saja merembes dan menjadi bulir
air di pelupuk-pelupuk matanya.
Sepi.
Surabaya, Januari 2008
Tak Sengaja Kudengar Engkau Berbisik
samar-samar kudengar alunan kesedihan
kota tua. dan sebuah lagu berisi ratapan
memenuhi udara seperti asap knalpot oto
yang kian gelisah untuk berjalan
atau berhenti di penghujung malam
berpuluh pasang muda-mudi mabuk
berpesta merayakan kehilangan
sementara kabut datang
membawa dingin sisa hujan
dari kesepian
sebuah kapal yang terdampar di tengah kota
menjadi saksi bagaimana mereka begitu khusyuk berputar
berpuja dalam hingar-bingar
musik disko dan dangdut
dan lampu neon terus menggempur
batas reliji
kota tua ini
seakan berkata-kata:
aku semakin langut dan mabuk
untuk sekedar berhenti mengigau
Surabaya, November 2005
|
|