|
Di Balik Kongkow
Sastra dan Musik Merdeka
Dari Planet Senen sampai Tragedi
Bangsa
Oleh
Sihar Ramses Simatupang
Jakarta - "Sesudah enam puluh tiga tahun, apabila kita berharap akan
keadilan, masih bisakah saudaraku menemukan keadilan di Indonesia
hari ini. Setelah pincang, tersaruk digebrak krisis, dihantam
bencana, kita kehabisan angka menghitungnya," kata budayawan dan
penyair Taufik Ismail.
Format reformasi, ujar Taufik, termasuk hukum ditegakkan agar
berakar tapi betapa rumitnya meneguhkan ini.
"Bencana, betapa berat merawat 200 juta mulut yang menganga.
Undang-undang, prosedur, tata cara dan etika dihabisi. Hutan,
tambang, air, minyak dihabisi. Akhlak merosot," sambungnya.
Nilai keimanan dan kejujuran juga rasa malu dan tanggung jawab,
pengendalian diri, kesadaran berbangsa mulai berubah. Penawaran jual
beli, mafia peradilan, keras lunaknya palu yang diketukkan bisa
diatur.
"Masih ada penegak hukum yang bersih nuraninya melarat, negeri kita
disayangi Tuhan karena mereka, doa orang sakit di permukiman
sederhana setelah ditolak di rumah sakit karena tak mampu membayar.
15 juta penganggur rindukan lapangan kerja, bertani, merawat
birokrasi, menegakkan hukum dan keadilan. Mereka rindu lapangan
kerja," kata Taufik.
Orasi Taufik Ismail ini dilakukan di tengah Perhelatan Kongkow
Sastra, Sastra Urban dan Musik Merdeka di Komunitas Planet Senen,
Jumat (29/8).
Materi lain dari acara yang digelar Komunitas Sastra Indonesia dan
KoPS (Komunitas Planet Senen) adalah Diskusi Sastra, Pentas Sastra,
Pentas Musik dan Demo Sastra. Di patung perjuangan Planet Senen,
suara bergaung terdengar. Asep Sutajaya dan Abah Bopeng dari Bandung
menggulirkan suara jeritan memekakkan.
Penampilan di depan patung dengan mikrofon, bunyi mulut dengan tubuh
dirona cat dan motif-motif aneh. Grup musik Prasta yang bermukim di
Bogor dengan vokalis Irma, membawakan lagu mellow dengan syair
kemerdekaan.
Grup yang dikomandoi Uthe ini juga mengeksplorasi bunyi gendang,
jimbe dan perkusi lainnya: "Di belahan timur sana, di hari-hari yang
ada, burung merpatiku terbang pekikkan suara perdamaian, jangan
hentikan kepak sayap merpatiku. Jangan kau bungkam suara damai
merpatiku..." Prasta lalu menyambungnya dengan nomor karya lain,
kali ini tepukan tangan menghiasi perkusi yang bergemuruh, berseling
syair puisi: "Mari bermain dengan nurani apakah akan mendapat
jawaban atau sebaiknya, cakrawala gerhana sirna, ngeri merambah jiwa
yang terbang melayang cari jawaban, darah, air mata telah menjelma
jadi telaga yang mengerikan, bumi menggeliat menggoyang nusantara,
haruskah kita biarkan? Haruskah kita pergi jauh, untuk menjemput
damai yang ternoda".
Nostalgia Planet Senen
Hamparan taman di depan Stasiun Planet Senen kembali menerima
kehadiran sastrawan gaek yang pernah kenal dengan irama dan dinamika
Planet Senen di masa lalu. Sastrawan Misbach Yusa Biran, Hamsad
Rangkuti, tokoh film Deddy Mizwar dan Taufik Ismail berada di antara
hadirin.
Maka, sastrawan Misbach Yusa Biran pun berkata, "Di tempat inilah
mulainya pembaruan teater, ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia)
baru lima tahun kemudian. Tapi teater modern pertama kali justru di
sini," ujarnya. Disambung dengan orasi budaya oleh penyair Taufik
Ismail, yang mengungkapkan bahwa 50 tahun yang lalu, Planet Senen
memang tempat berkumpulnya sejumlah seniman, calon pemuka masyarakat,
yang kata saudaraku Misbach berpikir besar, di antara kawasan segi
tiga antara Warung Padang Merapi, Warung Kopi dan Kedai Putu Cirebon.
"Di spasi tanah (ruang) di Kedai Putu, ada aktor yang pernah
memainkan lakon 'Caligula' (karya sastrawan dan teaterawan Prancis 'eksistensialisme'
Albert Camus, red). Saya minta izin Misbach Yusa Biran untuk
menyebut nama-nama mereka. Tokoh aktor panggung dan perfilman
Soekarno M Noor, juga sutradara yang waktu itu anak muda, Wim Umboh,"
ujarnya.
Taufik Ismail juga menyebut nama beberapa sastrawan yang dulunya
masih celana pendek Ajip Rosidi dan SM Ardan.
"Sekarang sudah bercelana panjang," ujarnya, disambut tawa hadirin.
Ada yang namanya melambung dari kesenian. Pembaharu teater Anjar
Asmara juga beredar di sekitar Senen ini. Juga penyair yang akhiri
hidup di negeri lain FL Risakota dan cerpenis Hamsad Rangkuti.
"Sesekali kritikus HB Jassin datang kemari, walau dia bukan tipe
nongkrong," ujar Taufik. Sekali pun pelakunya sudah banyak yang
tiada, berkecambah dan tumbuh besar, juga berpikir besar. "Aktivis
dari tempat ini, sekarang, diharapkan akan ada yang berpikiran besar,"
ujarnya. Acara ini juga dihadiri dan diisi dengan pembacaan karya
para sastrawan lainnya antara lain Mustofa Ismail, Widodo Arumdono,
Diah Hadaning, Jamal D Rahman, Agus R Sardjono, Ahmadun Yosi
Herfanda, A Badri AQT, Irman Syah, Imam Ma'arif, Giyanto Subagio,
Yohana Gabe Threenov Siahaan dan Ahmad Sekhu. n
|
|