Sabtu, 30 Agustus  2008

B U D A Y A

No.  5985

 

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
WiraUsaha Sosial
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

Di Balik Kongkow Sastra dan Musik Merdeka
Dari Planet Senen sampai Tragedi Bangsa



Oleh
Sihar Ramses Simatupang

Jakarta - "Sesudah enam puluh tiga tahun, apabila kita berharap akan keadilan, masih bisakah saudaraku menemukan keadilan di Indonesia hari ini. Setelah pincang, tersaruk digebrak krisis, dihantam bencana, kita kehabisan angka menghitungnya," kata budayawan dan penyair Taufik Ismail.
Format reformasi, ujar Taufik, termasuk hukum ditegakkan agar berakar tapi betapa rumitnya meneguhkan ini.
"Bencana, betapa berat merawat 200 juta mulut yang menganga. Undang-undang, prosedur, tata cara dan etika dihabisi. Hutan, tambang, air, minyak dihabisi. Akhlak merosot," sambungnya.
Nilai keimanan dan kejujuran juga rasa malu dan tanggung jawab, pengendalian diri, kesadaran berbangsa mulai berubah. Penawaran jual beli, mafia peradilan, keras lunaknya palu yang diketukkan bisa diatur.
"Masih ada penegak hukum yang bersih nuraninya melarat, negeri kita disayangi Tuhan karena mereka, doa orang sakit di permukiman sederhana setelah ditolak di rumah sakit karena tak mampu membayar. 15 juta penganggur rindukan lapangan kerja, bertani, merawat birokrasi, menegakkan hukum dan keadilan. Mereka rindu lapangan kerja," kata Taufik.
Orasi Taufik Ismail ini dilakukan di tengah Perhelatan Kongkow Sastra, Sastra Urban dan Musik Merdeka di Komunitas Planet Senen, Jumat (29/8).
Materi lain dari acara yang digelar Komunitas Sastra Indonesia dan KoPS (Komunitas Planet Senen) adalah Diskusi Sastra, Pentas Sastra, Pentas Musik dan Demo Sastra. Di patung perjuangan Planet Senen, suara bergaung terdengar. Asep Sutajaya dan Abah Bopeng dari Bandung menggulirkan suara jeritan memekakkan.
Penampilan di depan patung dengan mikrofon, bunyi mulut dengan tubuh dirona cat dan motif-motif aneh. Grup musik Prasta yang bermukim di Bogor dengan vokalis Irma, membawakan lagu mellow dengan syair kemerdekaan.
Grup yang dikomandoi Uthe ini juga mengeksplorasi bunyi gendang, jimbe dan perkusi lainnya: "Di belahan timur sana, di hari-hari yang ada, burung merpatiku terbang pekikkan suara perdamaian, jangan hentikan kepak sayap merpatiku. Jangan kau bungkam suara damai merpatiku..." Prasta lalu menyambungnya dengan nomor karya lain, kali ini tepukan tangan menghiasi perkusi yang bergemuruh, berseling syair puisi: "Mari bermain dengan nurani apakah akan mendapat jawaban atau sebaiknya, cakrawala gerhana sirna, ngeri merambah jiwa yang terbang melayang cari jawaban, darah, air mata telah menjelma jadi telaga yang mengerikan, bumi menggeliat menggoyang nusantara, haruskah kita biarkan? Haruskah kita pergi jauh, untuk menjemput damai yang ternoda".

Nostalgia Planet Senen
Hamparan taman di depan Stasiun Planet Senen kembali menerima kehadiran sastrawan gaek yang pernah kenal dengan irama dan dinamika Planet Senen di masa lalu. Sastrawan Misbach Yusa Biran, Hamsad Rangkuti, tokoh film Deddy Mizwar dan Taufik Ismail berada di antara hadirin.
Maka, sastrawan Misbach Yusa Biran pun berkata, "Di tempat inilah mulainya pembaruan teater, ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) baru lima tahun kemudian. Tapi teater modern pertama kali justru di sini," ujarnya. Disambung dengan orasi budaya oleh penyair Taufik Ismail, yang mengungkapkan bahwa 50 tahun yang lalu, Planet Senen memang tempat berkumpulnya sejumlah seniman, calon pemuka masyarakat, yang kata saudaraku Misbach berpikir besar, di antara kawasan segi tiga antara Warung Padang Merapi, Warung Kopi dan Kedai Putu Cirebon.
"Di spasi tanah (ruang) di Kedai Putu, ada aktor yang pernah memainkan lakon 'Caligula' (karya sastrawan dan teaterawan Prancis 'eksistensialisme' Albert Camus, red). Saya minta izin Misbach Yusa Biran untuk menyebut nama-nama mereka. Tokoh aktor panggung dan perfilman Soekarno M Noor, juga sutradara yang waktu itu anak muda, Wim Umboh," ujarnya.
Taufik Ismail juga menyebut nama beberapa sastrawan yang dulunya masih celana pendek Ajip Rosidi dan SM Ardan.
"Sekarang sudah bercelana panjang," ujarnya, disambut tawa hadirin. Ada yang namanya melambung dari kesenian. Pembaharu teater Anjar Asmara juga beredar di sekitar Senen ini. Juga penyair yang akhiri hidup di negeri lain FL Risakota dan cerpenis Hamsad Rangkuti.
"Sesekali kritikus HB Jassin datang kemari, walau dia bukan tipe nongkrong," ujar Taufik. Sekali pun pelakunya sudah banyak yang tiada, berkecambah dan tumbuh besar, juga berpikir besar. "Aktivis dari tempat ini, sekarang, diharapkan akan ada yang berpikiran besar," ujarnya. Acara ini juga dihadiri dan diisi dengan pembacaan karya para sastrawan lainnya antara lain Mustofa Ismail, Widodo Arumdono, Diah Hadaning, Jamal D Rahman, Agus R Sardjono, Ahmadun Yosi Herfanda, A Badri AQT, Irman Syah, Imam Ma'arif, Giyanto Subagio, Yohana Gabe Threenov Siahaan dan Ahmad Sekhu. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008