|
Adaptasi Pertanian
dalam Pemanasan Global
Oleh
Subejo
Masih lekat dalam ingatan kita perhelatan akbar UN Summit on Climate
Change yang diadakan di Bali pada awal Desember 2007. Konferensi ini
menandai kesepahaman internasional akan resiko perubahan cuaca
global bagi keberlangsungan kehidupan. Meskipun berbagai kalangan
telah merasakan dampak perubahan pemanasan global, namun tampaknya
grand design yang nyata dan operasional belum disosialisakan secara
luas.
Ancaman dan krisis pangan dunia yang menggejala secara global sejak
awal 2008 memiliki kaitan sangat erat dengan perubahan iklim global.
Ancaman penurunan produksi pangan di berbagai negara oleh perubahan
iklim yang memicu banjir, kemarau panjang dan kekeringan, kenaikan
suhu, penurunan kualitas lahan dan lain-lain menjadi semakin nyata.
Dampak perubahan iklim pada peningkatan temperatur sebenarnya sudah
ditengarai sejak tahun 1990-an. DFID (Department for International
Development, badan dari pemerintah Inggeris yang mengurusi bantuan
pembangunan untuk negara-negara lain) dan World Bank (2007)
melaporkan rata-rata ke-naikan suhu per tahun sebesar 0.3 derajat
celsius.
Pada tahun 1998 terjadi kenaikan suhu yang luar biasa mencapai 1
derajat celsius. Indonesia diprediksi akan me-ngalami lebih banyak
hujan dengan perubahan 2-3 persen per tahun. Intensitas hujan akan
meningkat, namun jumlah hari hujan akan semakin pendek. Dampak yang
nyata adalah meningkatnya risiko banjir.
Secara umum, perubahan cuaca akan memicu kemarau panjang dan
penurunan kesuburan tanah. Hal ini akan mempengaruhui kelangsungan
produksi pangan secara nasional. Pemanasan global juga mengandung
resiko yang besar akan kegegalan panen dan kematian hewan ternak.
Ancaman Produksi Pangan
Global warming mempengaruhi pola presipitasi, evaporasi, water
run-off, kelembaban tanah dan variasi iklim yang sangat fluktuatif
yang secara keseluruhan mengancam keberhasilan produksi pangan.
Kajian terkait dampak perubahan iklim pada bidang pertanian oleh
National Academy of Science/NAS (2007) menunjukkan bahwa pertanian
di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi
hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Austral-Asia
Monsoon and El Nino-Southern Oscilation (ENSO).
Sebagaimana dilaporkan oleh FAO (1996), kekeringan akibat kemarau
panjang yang merupakan efek El Nino pada tahun 1997 telah
menyebabkan gagalnya produksi padi dalam skala yang sangat besar
yaitu mencakup luasan 426.000 ha. Selain tanaman padi, komoditas
pertanian non-pangan yang lain seperti kopi, coklat, karet dan
kelapa sawit juga mengalami penurunan produksi yang nyata akibat
adanya kemarau panjang.
Suatu simuasi model yang dikembangkan oleh UK Meteorgical Office
sebagaimana dilaporkan DFID (2007), memprediksikan bahwa perubahan
cuaca akan menurunkan produksi pangan di Jawa Barat dan Jawa Timur
akibat penurunan kesuburan tanah sebesar 2-8 persen.
Degradasi kesuburan lahan tersebut akan memicu penurunan produksi
padi 4 persen per tahun, kedele sebesar 10 persen serta produksi
jagung akan mengaklami penurunan luar biasa sampai dengan 50 persen.
Menurut laporan Rossane Skirble (2007), perubahan cuaca dan
pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian antara 5-20
persen. Negara-negara dengan kondisi geografis yang lebih khusus
seperti India dan Afrika akan mengalami penurunan produksi pertanian
yang lebih tinggi lagi.
Strategi Adaptasi
Sebagaimana disinyalir oleh DFID dan World Bank (2007), Indonesia
nampaknya belum menyiapkan secara komprehensif kebijakan dan
strategi operasional untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan
iklim global. Padahal tindakan ini sangat mendesak untuk berbagai
aspek pembangunan, khususnya ketahanan pangan.
Beberapa rekomendasi dari World Development Report (2008) antara
lain: menanam varitas yang memiliki daya adaptasi tinggi, mengubah
masa tanam menyesuaikan cuaca, mempraktekkan pertanian dengan masa
tanam yang lebih singkat.
Dalam konteks Indonesia, petani memiliki tingkat kerentanan yang
tinggi. Selain karena kepemilikan lahan yang sangat kecil serta
lemahnya akses terhadap berbagai input pertanian serta keterbatasan
akses pada pasar dan pengolahan hasil pertanian, petani juga
memiliki pengetahuan dan ”know how” yang sangat minim tentang
strategi adaptasi produksi pertanian terhadap perubahan iklim
global.
Tampaknya tidak mungkin bagi petani diharapkan mencari strategi
sendiri. Pemerintah sebagai penyedia public goods harus mampu
mendukung petani beradaptasi terhadap perubahan iklim global.
Berbagai kebijakan yang dapat ditempuh antara lain melalui skema
asuransi tanaman dan ternak, penelitian yang intensif serta
diseminasi yang terpadu atas berbagai varietas baru komoditas
pertanian yang memiliki daya tahan tinggi terhadap kekeringan,
banjir, peningkatan temperatur serta memiliki potensi emisi CO2 yang
rendah.
Penyediaan informasi cuaca yang akurasinya tinggi dan terintegrasi
akan sangat bermanfaat untuk kepentingan produksi pertanian dan juga
menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Informasi tersebut mestinya
mencakup variasi lokal sehingga dapat diakses oleh petani-petani
lokal dan digunakan untuk antisipasi dalam produksi pertaniannya.
Pemerintah perlu menyiapkan dukungan berbagai sumber daya baik
sumber daya manusia, finasial maupun prasarana untuk mempercepat
proses pengembangan berbagai komoditas yang memiliki daya
adaptabilitas tinggi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.
Kerjasama penelitian dan diseminasi produk antara peneliti di
lembaga penelitian, universitas, pusat penelitian private
corporation dan NGO dengan melibatkan penyuluh lapangan dan tokoh
asosiasi petani sangat perlu dilakukan.
Penulis adalah dosen Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta dan Mahasiswa
Doktoral The University of Tokyo.
|
|