Rabu, 23 Juli  2008

NUSANTARA

No.  5954

 

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

Banjir dan Longsor Hantam Donggala


Donggala - Hujan lebat yang mengguyur kawasan pegunungan dan lembah di Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, selama sepekan ini mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor. Bahkan, Selasa (22/7), seorang warga tewas disapu banjir bandang tersebut.
Rumah Daud Yunus tiba-tiba ramai dikunjungi warga desa. Para tetangga dan kerabat Daud datang memberikan belasungkawa atas berpulangnya sang istri, Harsini (22). Harsini tewas diterjang banjir di Sungai Meno’o saat menuju kebun kakao miliknya. Beruntung Daud dan Riyan, suami dan anak korban berhasil selamat.
“Saat itu kami menyeberangi sungai, tapi kemudian tiba-tiba datang kepala banjir. Istri saya langsung terseret. Saat itu saya langsung mengambil tindakan penyelamatan, saya buang anak saya ke bantaran sungai. Sementara saya tidak bisa lagi menggapai tangan istri saya,” tutur Daud sesenggukan.
Karena dibuang ke bantaran sungai, wajah Riyan penuh luka goresan.
Daud terlihat sangat terpukul dengan kepergian istrinya. Dia beberapa kali mengucapkan rasa penyesalannya karena tidak berhasil menyelamatkan istrinya, sambil meninju lantai semen. Rabu (23/7) ini aliran Sungai Meno’o masih tetap deras. Warga masih khawatir akan datang lagi banjir yang besar.
Selain menewaskan seorang warga, bencana banjir dan tanah longsor ini juga mengakibatkan ratusan jiwa warga di dua desa, yakni Desa Rejeki dan Desa Berdikari terisolasi. Jalan menuju kedua desa tersebut terputus karena timbunan tanah longsor di sejumlah titik.
Sekitar 300 jiwa penduduk kedua desa belum berhasil dievakuasi. Mereka juga tetap dikhawatirkan akan menjadi korban longsor karena tanah yang labil. Sejumlah warga yang berhasil lolos mengaku saat tanah longsor dan banjir terjadi tidak dapat berbuat banyak.
(erna dwi lidiawati)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008