|
Orang Kaya Terima
BLT
Oleh
Sahala Tua Saragih
Berbagai cap negatif direkatkan pada program Bantuan Langsung Tunai
(BLT). Ada yang mengatakan, BLT membuat rakyat miskin yang
menerimanya menjadi pengemis. Ada yang menyebut BLT sebagai politik
citra pemerintah sekarang mencari pujian dari rakyat miskin.
Ada pula yang menyebutnya politik uang dalam rangka memenangkan
Pemilihan Umum Presiden tahun depan. Ada yang mengibaratkan BLT
dengan obat penghilang rasa sakit atau demam, tanpa menyentuh sumber
sakitnya. Tiap orang, terutama yang menganggap dirinya tokoh, bebas
mencap atau menjuluki program pemerintah yang sangat kontroversial
ini.
Sumber utama anggaran untuk program BLT ini pastilah dari seluruh
rakyat yang setia dan jujur membayar pajak, apapun jenis pajaknya.
Sakit ekonomi-sosial mayoritas rakyat gara-gara tiga kali (1 Maret
dan 1 Oktober 2005 dan 24 Mei 2008) pemerintah menaikkan harga bahan
bakar minyak sampai hampir 160 persen, dicoba diobati dengan
menyuntikkan “obat” BLT. Menurut perhitungan Direktur ECONIT
Jakarta, Hendri Saparini, pada periode 2004-2008 alokasi dana (subsidi)
untuk rakyat miskin naik dari Rp 18 triliun menjadi Rp 60 triliun,
Rp 44,16 triliun di antaranya tergolong bantuan langsung (Media
Indonesia, 12/6).
Dana ini disalurkan melalui sembilan jenis subsidi/program. Tahun
depan, menjelang Pemilu, jumlah BLT pasti lebih menggelembung lagi
karena subsidi pupuk, minyak goreng, dan kedelai juga di-BLT-kan
oleh pemerintah.
Belanja Rokok 12,43 Persen
Terlepas dari kontroversi besar BLT, satu hal yang pasti, ternyata
tak semua orang miskin (berpenghasilan di bawah Rp 20.000/hari)
menerima “sedekah” tersebut. Sebaliknya, sebagian penerima BLT
sesungguhnya tak berhak menerimanya. Yang paling menarik, ternyata
ada segelintir orang kaya raya turut pula menerima BLT melalui
orang-orang miskin. Siapakah mereka? Para pemilik industri rokok.
Kini ada 62,8 juta perokok aktif di republik ini, 70 persen (43,96
juta orang) di antaranya tergolong kaum miskin. Tahun lalu mereka
mengonsumsi 215 miliar batang rokok bernilai Rp 130 triliun. Tiap
perokok aktif rata-rata mengonsumsi sepuluh batang rokok/hari. Bila
harga sebatang rokok Rp 500, berarti belanja rokok per orang
rata-rata Rp 150.000/bulan (bandingkan dengan uang BLT yang cuma Rp
100.000/bulan).
Menurut hasil Sensus Ekonomi Nasional 2003-2005, dari total konsumsi
harian keluarga miskin ternyata hanya 19,30 persen untuk makanan,
sedangkan untuk belanja rokok sebesar 12,43 persen, sementara
anggaran pendidikan hanya 1,47 persen dan untuk kesehatan 1,99
persen saja. Tahun ini sebanyak 19,12 juta keluarga miskin di 33
provinsi menerima BLT sebesar Rp 14,17 triliun (jatah Juni-Desember
2008), termasuk Rp 806,64 juta untuk biaya operasional. Uang ini
pastilah bersumber dari rakyat, termasuk dari kita/kami yang tak
merokok atau dipaksa menjadi perokok pasif.
Nah, bila semua keluarga miskin penerima BLT itu membelanjakan 12,43
persen saja uang tersebut untuk rokok, berarti lebih Rp 1,76 triliun
uang rakyat mereka “bakar” pada periode Juni-Desember 2008. Dengan
ungkapan lain, segenap pembayar pajak di negeri ini melalui
orang-orang miskin yang menerima BLT tahun ini menyumbang orang kaya
raya (para pengusaha rokok) sebesar hampir Rp 2 triliun.
Subsidi buat kaum miskin selama empat tahun ini lebih Rp 60 triliun.
Bila 12,43 persen saja dari dana ini mereka belanjakan untuk rokok,
mereka telah “membakar” uang rakyat, termasuk uang kita/kami yang
tak merokok, sebesar Rp 7,45 triliun. Silakan hitung sendiri bila 70
persen penerima BLT “membakar” semua “uang kaget” yang mereka terima
itu.
Bantuan Lunasi Tembakau
Tanpa sadar kaum miskin itu telah telah menjadi perantara negara dan
masyarakat untuk menyumbang orang-orang kaya raya (pemilik industri
rokok). Jadi kini BLT agaknya lebih pas dipanjangkan menjadi
“Bantuan Lunasi Tembakau”.
Siapa orang kaya raya di negeri ini? Globe Asia dan timnya meneliti
harta kekayaan orang-orang kaya di republik ini tahun lalu. Lembaga
itu menyusun peringkat 1-150 orang kaya raya. Hal yang menarik dari
pemeringkatan orang-orang kaya tersebut, ternyata orang terkaya raya
(peringkat 1), peringkat 2 dan 5 adalah pengusaha rokok merek yang
sangat terkenal.
Peringkat 1 Budi Hartono, pemilik pabrik rokok Djarum Kudus, Jawa
Tengah. Hartanya senilai Rp 37,8 triliun. Peringkat 2 Rachman Halim
(60 tahun), pemilik industri rokok Gudang Garam Kediri, Jawa Timur.
Hartanya senilai Rp 31,5 triliun.
Putera Sampoerna, pemilik pabrik rokok HM Sampoerna Surabaya berada
pada peringkat kelima dengan aset senilai Rp 19,8 triliun. Jadi
total harta ketiga “maharaja rokok” itu Rp 90 triliun. Beberapa
waktu lalu 97,95 persen saham HM Sampoerna dijual kepada pemilik
pabrik rokok Amerika Serikat, Philiip Morris. Kontan raja rokok
Paman Sam itu menikmati untungnya. Baru-baru ini Philiip menggendong
uang kita ke negerinya sebanyak Rp 1,6 triliun (Kontan, 29/5).
Oleh karena jasanya yang sangat besar, orang-orang kaya raya, yakni
semua pemilik pabrik rokok di negeri ini tak cukup berterima kasih
yang sebesar-besarnya saja kepada pemerintah sekarang.
Mereka juga perlu memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya
kepada Yudhoyono-Kalla dan jajarannya atas kecerdasan dan kebaikan
hati mereka menciptakan program BLT yang terus makin menggelembung.
Teman-teman saya pernah mengungkapkan, para pemilik pabrik rokok dan
segenap anggota keluarga mereka ternyata tidak merokok atau sangat
jarang merokok.
Penulis adalah dosen Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi,
Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
|
|