Sabtu, 19 Juli  2008


O P I N I
 

No.  5951

 

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

Orang Kaya Terima BLT



Oleh
Sahala Tua Saragih

Berbagai cap negatif direkatkan pada program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ada yang mengatakan, BLT membuat rakyat miskin yang menerimanya menjadi pengemis. Ada yang menyebut BLT sebagai politik citra pemerintah sekarang mencari pujian dari rakyat miskin.
Ada pula yang menyebutnya politik uang dalam rangka memenangkan Pemilihan Umum Presiden tahun depan. Ada yang mengibaratkan BLT dengan obat penghilang rasa sakit atau demam, tanpa menyentuh sumber sakitnya. Tiap orang, terutama yang menganggap dirinya tokoh, bebas mencap atau menjuluki program pemerintah yang sangat kontroversial ini.
Sumber utama anggaran untuk program BLT ini pastilah dari seluruh rakyat yang setia dan jujur membayar pajak, apapun jenis pajaknya. Sakit ekonomi-sosial mayoritas rakyat gara-gara tiga kali (1 Maret dan 1 Oktober 2005 dan 24 Mei 2008) pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak sampai hampir 160 persen, dicoba diobati dengan menyuntikkan “obat” BLT. Menurut perhitungan Direktur ECONIT Jakarta, Hendri Saparini, pada periode 2004-2008 alokasi dana (subsidi) untuk rakyat miskin naik dari Rp 18 triliun menjadi Rp 60 triliun, Rp 44,16 triliun di antaranya tergolong bantuan langsung (Media Indonesia, 12/6).
Dana ini disalurkan melalui sembilan jenis subsidi/program. Tahun depan, menjelang Pemilu, jumlah BLT pasti lebih menggelembung lagi karena subsidi pupuk, minyak goreng, dan kedelai juga di-BLT-kan oleh pemerintah.

Belanja Rokok 12,43 Persen
Terlepas dari kontroversi besar BLT, satu hal yang pasti, ternyata tak semua orang miskin (berpenghasilan di bawah Rp 20.000/hari) menerima “sedekah” tersebut. Sebaliknya, sebagian penerima BLT sesungguhnya tak berhak menerimanya. Yang paling menarik, ternyata ada segelintir orang kaya raya turut pula menerima BLT melalui orang-orang miskin. Siapakah mereka? Para pemilik industri rokok.
Kini ada 62,8 juta perokok aktif di republik ini, 70 persen (43,96 juta orang) di antaranya tergolong kaum miskin. Tahun lalu mereka mengonsumsi 215 miliar batang rokok bernilai Rp 130 triliun. Tiap perokok aktif rata-rata mengonsumsi sepuluh batang rokok/hari. Bila harga sebatang rokok Rp 500, berarti belanja rokok per orang rata-rata Rp 150.000/bulan (bandingkan dengan uang BLT yang cuma Rp 100.000/bulan).
Menurut hasil Sensus Ekonomi Nasional 2003-2005, dari total konsumsi harian keluarga miskin ternyata hanya 19,30 persen untuk makanan, sedangkan untuk belanja rokok sebesar 12,43 persen, sementara anggaran pendidikan hanya 1,47 persen dan untuk kesehatan 1,99 persen saja. Tahun ini sebanyak 19,12 juta keluarga miskin di 33 provinsi menerima BLT sebesar Rp 14,17 triliun (jatah Juni-Desember 2008), termasuk Rp 806,64 juta untuk biaya operasional. Uang ini pastilah bersumber dari rakyat, termasuk dari kita/kami yang tak merokok atau dipaksa menjadi perokok pasif.
Nah, bila semua keluarga miskin penerima BLT itu membelanjakan 12,43 persen saja uang tersebut untuk rokok, berarti lebih Rp 1,76 triliun uang rakyat mereka “bakar” pada periode Juni-Desember 2008. Dengan ungkapan lain, segenap pembayar pajak di negeri ini melalui orang-orang miskin yang menerima BLT tahun ini menyumbang orang kaya raya (para pengusaha rokok) sebesar hampir Rp 2 triliun.
Subsidi buat kaum miskin selama empat tahun ini lebih Rp 60 triliun. Bila 12,43 persen saja dari dana ini mereka belanjakan untuk rokok, mereka telah “membakar” uang rakyat, termasuk uang kita/kami yang tak merokok, sebesar Rp 7,45 triliun. Silakan hitung sendiri bila 70 persen penerima BLT “membakar” semua “uang kaget” yang mereka terima itu.

Bantuan Lunasi Tembakau
Tanpa sadar kaum miskin itu telah telah menjadi perantara negara dan masyarakat untuk menyumbang orang-orang kaya raya (pemilik industri rokok). Jadi kini BLT agaknya lebih pas dipanjangkan menjadi “Bantuan Lunasi Tembakau”.
Siapa orang kaya raya di negeri ini? Globe Asia dan timnya meneliti harta kekayaan orang-orang kaya di republik ini tahun lalu. Lembaga itu menyusun peringkat 1-150 orang kaya raya. Hal yang menarik dari pemeringkatan orang-orang kaya tersebut, ternyata orang terkaya raya (peringkat 1), peringkat 2 dan 5 adalah pengusaha rokok merek yang sangat terkenal.
Peringkat 1 Budi Hartono, pemilik pabrik rokok Djarum Kudus, Jawa Tengah. Hartanya senilai Rp 37,8 triliun. Peringkat 2 Rachman Halim (60 tahun), pemilik industri rokok Gudang Garam Kediri, Jawa Timur. Hartanya senilai Rp 31,5 triliun.
Putera Sampoerna, pemilik pabrik rokok HM Sampoerna Surabaya berada pada peringkat kelima dengan aset senilai Rp 19,8 triliun. Jadi total harta ketiga “maharaja rokok” itu Rp 90 triliun. Beberapa waktu lalu 97,95 persen saham HM Sampoerna dijual kepada pemilik pabrik rokok Amerika Serikat, Philiip Morris. Kontan raja rokok Paman Sam itu menikmati untungnya. Baru-baru ini Philiip menggendong uang kita ke negerinya sebanyak Rp 1,6 triliun (Kontan, 29/5).
Oleh karena jasanya yang sangat besar, orang-orang kaya raya, yakni semua pemilik pabrik rokok di negeri ini tak cukup berterima kasih yang sebesar-besarnya saja kepada pemerintah sekarang.
Mereka juga perlu memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Yudhoyono-Kalla dan jajarannya atas kecerdasan dan kebaikan hati mereka menciptakan program BLT yang terus makin menggelembung. Teman-teman saya pernah mengungkapkan, para pemilik pabrik rokok dan segenap anggota keluarga mereka ternyata tidak merokok atau sangat jarang merokok.

Penulis adalah dosen Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008