|
Jembatani Perajin
Perak Lewat Promosi
Jakarta-Untuk memajukan industri kerajinan tangan (handicraft),
Sutrisno Lamin telah mempersiapkan inovasi teknologi. Inovasi
tersebut adalah berupa pelapisan logam tembaga yang dapat
dipergunakan untuk melapisi kerajinan dari bahan kayu dan batu.
“Dengan teknologi ini, kerajinan yang terbuat dari kayu atau batu
dijamin akan lebih berkilau dan tahan lama, tetapi ongkos
produksinya tetap rendah,” katanya. Dalam waktu dekat, dia berniat
mempatenkan teknologi pelapisan tersebut, mengingat teknologi
seperti ini belum pernah ditemui di dunia.
Selain teknologi pelapisan logam tersebut, Sutrisno juga berencana
menggalakkan pembuatan pelligri. Pelligri adalah sejenis handicraft
berupa rajutan benang, tetapi sebenarnya dari bahan perak yang
dipres. Saat ini, baru ada dua negara yang terkenal dengan kerajinan
pelligri, yaitu China dan Thailand.
Dengan kedua teknologi ini, Sutrisno yakin akan mampu mengangkat
kerajinan tangan dari Indonesia. “Kita sudah tidak mungkin lagi
menjual pesawat, sedangkan kerajinan tangan Indonesia masih
mempunyai ciri khas tersendiri di mata dunia,” katanya. Dia juga
yakin kalau handicraft merupakan salah satu sumber devisa juga.
Harga Bersaing
Niat untuk mengembangkan terobosan-terobosan baru tersebut
sebenarnya dilatarbelakangi kerisauan Sutrisno. Dia gusar setelah
mendengar cerita temannya, seorang perajin perak dari Yogyakarta,
bahwa mereka diminta menaikkan harga hasil kerajinan tangan
(handicraft) oleh para pemandu wisata.
“Para pemandu wisata meminta bagian 60% dari setiap hasil penjualan
yang dibeli para wisatawan,” kata Sutrisno. Menurut Sutrisno,
permintaan para pemandu wisata ini sebenarnya wajar. Sebab, dari
merekalah para perajin bisa memperoleh pemasukan yang besar. Namun,
bila permintaan tersebut dituruti, harga handicraft akan melambung
tinggi dan bukan tidak mungkin akan banyak orang berpaling dari
kerajinan perak yang menjadi ciri khas pariwisata Indonesia.
Dari latar belakang itulah timbul niat Sutrisno membantu para
perajin dengan ikut memasarkan hasil handicraft, langsung dari
tangan perajinnya. “Persoalan utama yang dihadapi perajin adalah
promosi,” katanya. Selain itu, modal juga menjadi persoalan untuk
berproduksi.
Sutrisno pun menawarkan model kerja sama dengan memberi bahan, dan
perajin yang membuatnya menjadi handicraft, lantas hasilnya dibeli
lagi oleh Sutrisno. Misalnya, Sutrisno memberikan bahan perak satu
kilogram. Setelah jadi, handicraft yang diterima Sutrisno pun
berjumlah satu kilogram.
Untuk pemasarannya, Sutrisno melakukannya lewat situs khusus yang
dibuatnya untuk menawarkan handicraft, bernama Balidoll. Nama ini
diambil karena Bali memang sudah sejak lama dikenal sebagai pusatnya
handicraft, mulai ke dalam negeri sampai mancanegara. “Saat ini,
situs tersebut masih dalam pengerjaan. Namun, sejauh ini sudah
banyak orang yang memesan kerajinan tangan dari saya,” kata Sutrisno.
Masuknya Sutrisno ke dalam bisnis handicraft tidak hanya bertujuan
memopulerkan kerajinan tangan dari Indonesia. “Saya juga ingin
memangkas harga-harga handicraft yang saat ini sudah melambung
tinggi,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa sebuah gelang dengan harga bahan Rp 60.000 dan
biaya pembuatan Rp 60.000, harga jualnya di pasaran bisa mencapai Rp
800.000-900.000. Bahkan, jika ditawarkan lewat jasa pemandu wisata
bisa sampai Rp 1,3 juta.
Sementara itu, Sutrisno berani menawarkan harga setengahnya untuk
produk yang sama.
“Kita berani lebih murah karena langsung kepada konsumen yang
menginginkan barang kerajinan,” kata dia. Sutrisno yakin tidak akan
menderita kerugian meski harga jual produk yang ditawarkan jauh
lebih murah dari harga turis. (cr-2)
|
|