Sabtu, 12 Juli  2008

U K M

No.  5945

 

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

Jembatani Perajin Perak Lewat Promosi


Jakarta-Untuk memajukan industri kerajinan tangan (handicraft), Sutrisno Lamin telah mempersiapkan inovasi teknologi. Inovasi tersebut adalah berupa pelapisan logam tembaga yang dapat dipergunakan untuk melapisi kerajinan dari bahan kayu dan batu.
“Dengan teknologi ini, kerajinan yang terbuat dari kayu atau batu dijamin akan lebih berkilau dan tahan lama, tetapi ongkos produksinya tetap rendah,” katanya. Dalam waktu dekat, dia berniat mempatenkan teknologi pelapisan tersebut, mengingat teknologi seperti ini belum pernah ditemui di dunia.
Selain teknologi pelapisan logam tersebut, Sutrisno juga berencana menggalakkan pembuatan pelligri. Pelligri adalah sejenis handicraft berupa rajutan benang, tetapi sebenarnya dari bahan perak yang dipres. Saat ini, baru ada dua negara yang terkenal dengan kerajinan pelligri, yaitu China dan Thailand.
Dengan kedua teknologi ini, Sutrisno yakin akan mampu mengangkat kerajinan tangan dari Indonesia. “Kita sudah tidak mungkin lagi menjual pesawat, sedangkan kerajinan tangan Indonesia masih mempunyai ciri khas tersendiri di mata dunia,” katanya. Dia juga yakin kalau handicraft merupakan salah satu sumber devisa juga.

Harga Bersaing
Niat untuk mengembangkan terobosan-terobosan baru tersebut sebenarnya dilatarbelakangi kerisauan Sutrisno. Dia gusar setelah mendengar cerita temannya, seorang perajin perak dari Yogyakarta, bahwa mereka diminta menaikkan harga hasil kerajinan tangan (handicraft) oleh para pemandu wisata.
“Para pemandu wisata meminta bagian 60% dari setiap hasil penjualan yang dibeli para wisatawan,” kata Sutrisno. Menurut Sutrisno, permintaan para pemandu wisata ini sebenarnya wajar. Sebab, dari merekalah para perajin bisa memperoleh pemasukan yang besar. Namun, bila permintaan tersebut dituruti, harga handicraft akan melambung tinggi dan bukan tidak mungkin akan banyak orang berpaling dari kerajinan perak yang menjadi ciri khas pariwisata Indonesia.
Dari latar belakang itulah timbul niat Sutrisno membantu para perajin dengan ikut memasarkan hasil handicraft, langsung dari tangan perajinnya. “Persoalan utama yang dihadapi perajin adalah promosi,” katanya. Selain itu, modal juga menjadi persoalan untuk berproduksi.
Sutrisno pun menawarkan model kerja sama dengan memberi bahan, dan perajin yang membuatnya menjadi handicraft, lantas hasilnya dibeli lagi oleh Sutrisno. Misalnya, Sutrisno memberikan bahan perak satu kilogram. Setelah jadi, handicraft yang diterima Sutrisno pun berjumlah satu kilogram.
Untuk pemasarannya, Sutrisno melakukannya lewat situs khusus yang dibuatnya untuk menawarkan handicraft, bernama Balidoll. Nama ini diambil karena Bali memang sudah sejak lama dikenal sebagai pusatnya handicraft, mulai ke dalam negeri sampai mancanegara. “Saat ini, situs tersebut masih dalam pengerjaan. Namun, sejauh ini sudah banyak orang yang memesan kerajinan tangan dari saya,” kata Sutrisno.
Masuknya Sutrisno ke dalam bisnis handicraft tidak hanya bertujuan memopulerkan kerajinan tangan dari Indonesia. “Saya juga ingin memangkas harga-harga handicraft yang saat ini sudah melambung tinggi,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa sebuah gelang dengan harga bahan Rp 60.000 dan biaya pembuatan Rp 60.000, harga jualnya di pasaran bisa mencapai Rp 800.000-900.000. Bahkan, jika ditawarkan lewat jasa pemandu wisata bisa sampai Rp 1,3 juta.
Sementara itu, Sutrisno berani menawarkan harga setengahnya untuk produk yang sama.
“Kita berani lebih murah karena langsung kepada konsumen yang menginginkan barang kerajinan,” kata dia. Sutrisno yakin tidak akan menderita kerugian meski harga jual produk yang ditawarkan jauh lebih murah dari harga turis. (cr-2)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008