Kamis, 10 Juli  2008

KEUANGAN & BURSA

No.  5943

 

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

Pertumbuhan Semester I Belum Terpengaruh Minyak  


Jakarta-Dampak lonjakan harga minyak belum tampak pada semester pertama 2008. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut masih cukup tinggi. “Dampak global baru akan terlihat setelah satu semester, sehingga setelah semester dua baru terasa perlambatan ekonominya,” ujar Ekonom dari Indef, Ikhsanmodjo, dalam Seminar Kajian Tengah Tahun Indef 2008 bertema Minyak, Pangan dan Kemiskinan, Evaluasi Kebijakan Pemerintah, yang diselenggarakan, Kamis (10/7).
Menurutnya, perlambatan akan ditunjukkan semua sisi. “Kemarin Menteri Keuangan menyatakan pertumbuhan ekspor pada triwulan II 2008 sebesar 11,9-12 persen, tidak akan terjadi lagi pada paruh kedua tahun 2008,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2008 sebesar 6,1 persen. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh antara 5,2-5,3 persen. Lantas, investasi tumbuh 10,4-10,5 persen, ekspor 11,9-12 persen, dan impor 11,1-11,2 persen.
Sri Mulyani mengatakan, konsumsi rumah tangga memiliki peran signifikan, karena porsinya mencapai 70 persen dari total pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan konsumsi ditunjukkan oleh pertumbuhan penjualan motor, mobil, penjualan listrik, kredit konsumsi, dan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri. "Secara umum konsumsi masih kuat, meskipun menunjukkan tren melambat," kata Sri Mulyani, Rabu (9/8).
Indikator masih tingginya investasi adalah impor barang modal, realisasi investasi langsung baik asing maupun dalam negeri (PMA dan PMDN), juga masih bertumbuhnya penjualan semen dalam negeri. Menteri Keuangan menyebutkan meskipun belum memenuhi target 12 persen, investasi sudah menembus dua digit.
Dengan pertumbuhan pada triwulan I 2008 sebesar 6,3 persen, pertumbuhan pada semester pertama tahun ini mencapai 6,2 persen. Hal ini berarti target pertumbuhan pada tahun 2008 sebesar 6,4 persen, tidak akan tercapai. Sri Mulyani menyebutkan kondisi perekonomian tidak akan lepas dari perlambatan ekonomi dunia. (esther fin harini)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2008