|
Pertumbuhan
Semester I Belum Terpengaruh Minyak
Jakarta-Dampak lonjakan harga minyak belum tampak pada semester
pertama 2008. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi pada periode
tersebut masih cukup tinggi. “Dampak global baru akan terlihat
setelah satu semester, sehingga setelah semester dua baru terasa
perlambatan ekonominya,” ujar Ekonom dari Indef, Ikhsanmodjo, dalam
Seminar Kajian Tengah Tahun Indef 2008 bertema Minyak, Pangan dan
Kemiskinan, Evaluasi Kebijakan Pemerintah, yang diselenggarakan,
Kamis (10/7).
Menurutnya, perlambatan akan ditunjukkan semua sisi. “Kemarin
Menteri Keuangan menyatakan pertumbuhan ekspor pada triwulan II 2008
sebesar 11,9-12 persen, tidak akan terjadi lagi pada paruh kedua
tahun 2008,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi
pada triwulan II 2008 sebesar 6,1 persen. Pertumbuhan tersebut
terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh antara 5,2-5,3
persen. Lantas, investasi tumbuh 10,4-10,5 persen, ekspor 11,9-12
persen, dan impor 11,1-11,2 persen.
Sri Mulyani mengatakan, konsumsi rumah tangga memiliki peran
signifikan, karena porsinya mencapai 70 persen dari total
pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan konsumsi ditunjukkan oleh
pertumbuhan penjualan motor, mobil, penjualan listrik, kredit
konsumsi, dan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri.
"Secara umum konsumsi masih kuat, meskipun menunjukkan tren melambat,"
kata Sri Mulyani, Rabu (9/8).
Indikator masih tingginya investasi adalah impor barang modal,
realisasi investasi langsung baik asing maupun dalam negeri (PMA dan
PMDN), juga masih bertumbuhnya penjualan semen dalam negeri. Menteri
Keuangan menyebutkan meskipun belum memenuhi target 12 persen,
investasi sudah menembus dua digit.
Dengan pertumbuhan pada triwulan I 2008 sebesar 6,3 persen,
pertumbuhan pada semester pertama tahun ini mencapai 6,2 persen. Hal
ini berarti target pertumbuhan pada tahun 2008 sebesar 6,4 persen,
tidak akan tercapai. Sri Mulyani menyebutkan kondisi perekonomian
tidak akan lepas dari perlambatan ekonomi dunia. (esther fin
harini)
|
|