|
Gunung Anak
Krakatau yang Memesona, Tapi Menakutkan
Oleh
Iman Nur Rosyadi
Serang – Suara dentuman begitu keras terdengar dari Gunung Anak
Krakatau di perairan Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan
Pulau Sumatera. Suara itu dibarengi dengan asap yang membentuk
rangkaian gulungan memanjang di langit. Jika malam hari, terlihat
seperti kembang api raksasa dengan warna merah membara dan tampak
indah.
Tak ada kepanikan warga di sepanjang pantai mulai dari Merak,
Cilegon, Anyer, Carita, Labuan hingga ke Sumur di dekat Taman
Nasional (TN) Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang. “Kami mah sudah
biasa. Insya Allah, enggak terjadi gunung meletus. Kan enggak ada
getaran yang dahsyat. Itu mah hiburan buat kita,” kata Sukiman,
nelayan di Anyer, Kabupaten Serang, baru-baru ini.
Sukiman dan nelayan lainnya di sepanjang pesisir malah senang jika
Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas. “Saya juga heran.
Sesudahnya, ya kami suka banyak ikan yang bisa ditangkap. Mungkin
ikannya pada keluar karena getaran gunung,” kata Sukiman yang hanya
memiliki perahu kecil dengan menggunakan motor tempel. Kekuatan
jelajah perahunya tak lebih 2 mil dari pantai.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau akhir-akhir ini pun tidak
mempengaruhi kegiatan lainnya. Misalnya, kapal roro dan kapal cepat
tetap melayani penyeberangan Merak (Banten)-Bakauhuni (Lampung).
Ratusan pabrik di Cilegon pun berproduksi termasuk PT Krakatau
Steel. Kesibukan warga menjalani hari-hari pun berlangsung tanpa
terlihat panik. Pagi hingga malam hari, kesibukan luar biasa tetap
berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya pengelola hotel dan objek wisata pantai yang benar-benar
“terpukul” dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ashok Kumar, Ketua
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten, mengatakan
tingkat hunian hotel merosot drastis hingga lebih 50 persen. Bahkan,
ada hotel yang terhuni 5-10 kamar selama tahun terakhir.
Status Siaga
Anton Tripambudi, Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa
Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten,
mengungkapkan dentuman keras yang dikeluarkan gunung itu mulai
muncul pada Jumat (30/5) sebanyak 17 kali. “Dentuman itu terjadi
karena lubang kawah yang membesar, tetapi kondisinya belum
membahayakan bagi penduduk di sepanjang pantai ini,” jelasnya.
Status Gunung Anak Krakatau ditetapkan sebagai siaga sejak dua tahun
lalu, meskipun tingkat kegempaannya mulai menurun dari 1.000 kali
per hari menjadi 300-500 kali per hari. Dengan status ini, Gunung
Anak Krakatau tidak boleh didekati oleh siapa pun dari radius 2-3
kilometer.
Anton tak berani memberikan prediksi soal aktivitas gunung tersebut.
Namun, dia mengingatkan gunung ini memiliki sejarah panjang. “Kami
hanya mencatat dan melaporkannya ke Direktorat Vulkanologi di
Bandung. Sampai saat ini aktivitas gunung belum mengkhawatirkan bagi
masyarakat,” katanya.
Menurut catatan, pada tahun 1927 atau 40 tahun setelah Gunung
Krakatau meletus, mulai muncul gunung api dari kawasan kawah dan
gunung itu masih aktif. Pertumbuhan gunung api itu 20 inci per bulan.
Gunung api ini dikenal dengan nama Gunung Anak Krakatau. Kini gunung
ini tercatat tingginya sekitar 813 meter dari permukaan laut, masuk
wilayah administrasi Provinsi Lampung. Namun, wisatawan yang ingin
mengunjunginya lebih mudah dari Banten.
Tak ada yang tahu pasti kapan Gunung Anak Krakatau akan meletus.
Beberapa ahli geologi memprediksi letusan ini bakal terjadi antara
2015-2083. Namun, pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada
26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
Sejumlah pakar geologi dan vulkanologi mengemukakan Gunung Anak
Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil.
Hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan
ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. n
|
|