Senin, 30 Juni  2008

N U S A N T A R A

No.  5934

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Gunung Anak Krakatau yang Memesona, Tapi Menakutkan



Oleh
Iman Nur Rosyadi

Serang – Suara dentuman begitu keras terdengar dari Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Suara itu dibarengi dengan asap yang membentuk rangkaian gulungan memanjang di langit. Jika malam hari, terlihat seperti kembang api raksasa dengan warna merah membara dan tampak indah.
Tak ada kepanikan warga di sepanjang pantai mulai dari Merak, Cilegon, Anyer, Carita, Labuan hingga ke Sumur di dekat Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang. “Kami mah sudah biasa. Insya Allah, enggak terjadi gunung meletus. Kan enggak ada getaran yang dahsyat. Itu mah hiburan buat kita,” kata Sukiman, nelayan di Anyer, Kabupaten Serang, baru-baru ini.
Sukiman dan nelayan lainnya di sepanjang pesisir malah senang jika Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas. “Saya juga heran. Sesudahnya, ya kami suka banyak ikan yang bisa ditangkap. Mungkin ikannya pada keluar karena getaran gunung,” kata Sukiman yang hanya memiliki perahu kecil dengan menggunakan motor tempel. Kekuatan jelajah perahunya tak lebih 2 mil dari pantai.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau akhir-akhir ini pun tidak mempengaruhi kegiatan lainnya. Misalnya, kapal roro dan kapal cepat tetap melayani penyeberangan Merak (Banten)-Bakauhuni (Lampung). Ratusan pabrik di Cilegon pun berproduksi termasuk PT Krakatau Steel. Kesibukan warga menjalani hari-hari pun berlangsung tanpa terlihat panik. Pagi hingga malam hari, kesibukan luar biasa tetap berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya pengelola hotel dan objek wisata pantai yang benar-benar “terpukul” dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ashok Kumar, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten, mengatakan tingkat hunian hotel merosot drastis hingga lebih 50 persen. Bahkan, ada hotel yang terhuni 5-10 kamar selama tahun terakhir.

Status Siaga
Anton Tripambudi, Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, mengungkapkan dentuman keras yang dikeluarkan gunung itu mulai muncul pada Jumat (30/5) sebanyak 17 kali. “Dentuman itu terjadi karena lubang kawah yang membesar, tetapi kondisinya belum membahayakan bagi penduduk di sepanjang pantai ini,” jelasnya.
Status Gunung Anak Krakatau ditetapkan sebagai siaga sejak dua tahun lalu, meskipun tingkat kegempaannya mulai menurun dari 1.000 kali per hari menjadi 300-500 kali per hari. Dengan status ini, Gunung Anak Krakatau tidak boleh didekati oleh siapa pun dari radius 2-3 kilometer.
Anton tak berani memberikan prediksi soal aktivitas gunung tersebut. Namun, dia mengingatkan gunung ini memiliki sejarah panjang. “Kami hanya mencatat dan melaporkannya ke Direktorat Vulkanologi di Bandung. Sampai saat ini aktivitas gunung belum mengkhawatirkan bagi masyarakat,” katanya.
Menurut catatan, pada tahun 1927 atau 40 tahun setelah Gunung Krakatau meletus, mulai muncul gunung api dari kawasan kawah dan gunung itu masih aktif. Pertumbuhan gunung api itu 20 inci per bulan. Gunung api ini dikenal dengan nama Gunung Anak Krakatau. Kini gunung ini tercatat tingginya sekitar 813 meter dari permukaan laut, masuk wilayah administrasi Provinsi Lampung. Namun, wisatawan yang ingin mengunjunginya lebih mudah dari Banten.
Tak ada yang tahu pasti kapan Gunung Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan ini bakal terjadi antara 2015-2083. Namun, pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
Sejumlah pakar geologi dan vulkanologi mengemukakan Gunung Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil. Hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003