|
Kalah Pilkada
Ketua DPD Golkar Jateng Diminta
Mundur
Oleh
SU Herdjoko
Semarang - Calon Gubernur Jawa Tengah yang diusung Partai Golkar,
Bambang Sadono, dan dipastikan kalah dalam pemilihan gubernur yang
digelar pada 22 Juni lalu, diminta mundur dari jabatan Ketua Dewan
Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Tengah.
Permintaan itu muncul dari Dewan Penasihat Partai Golkar Jateng
pimpinan mantan gubernur Jateng periode 1993–1998 Soewardi yang
telah mengirimkan surat kepada DPD Golkar. Selain itu, Ketua Umum
DPP PG Jusuf Kalla juga telah mengeluarkan isyarat akan mengevaluasi
ketua DPD yang kalah dalam pertarungan pilkada
Karena permintaan Dewan Penasihat itu membuat suhu politik di Golkar
Jateng langsung menghangat. Kekalahan telak pasangan Bambang Sadono–Muhammad
Adnan yang telah menyosialisasikan diri jauh lebih lama dibandingkan
para calon gubernur lainnya, membuat terkejut kubu Golkar.
Dari hasil penghitungan cepat empat lembaga survei, pasangan dari
PDIP Bibit Waluyo–Rustriningsih mengantongi suara 40 persen lebih
dari pemilih yang mencoblos. Sementara itu, pasangan Bambang–Adnan
hanya mendapatkan dukungan sekitar 22 persen. Pengumuman final baru
akan dilakukan KPU Jateng pada 1 Juli besok.
Pada rapat internal Dewan Penasihat Golkar Jateng yang berlangsung,
Jumat (27/6) lalu, di Hotel Graha Santika Semarang yang dipimpin
oleh Ketua Dewan Penasihat Soewardi, dewan ini meminta agar Bambang
melakukan introspeksi. Untuk mencegah perpecahan di tubuh Golkar,
Dewan Penasihat juga meminta Bambang mundur dari jabatan Ketua DPD
Golkar Jateng.
Sebenarnya awal dari menggulirkan permintaan Bambang lengser itu
justru muncul dari Wakil Ketua DPD II Partai Golkar Kota Semarang
Djoko Purnomo dan desakan agar DPD Golkar Jateng segera merombak
kepengurusan. Caranya dengan menggelar musyawarah daerah luar biasa.
Menanggapi permintaan Dewan Penasihat itu, DPD Golkar Jateng
bergerak cepat mengonsolidasi diri. Mereka menggelar rapat pengurus
se-Provinsi Jateng dengan memanggil semua Ketua DPD tingkat II.
Berdasarkan rapat harian DPD PG Jateng yang berlangsung Minggu
(29/6), ternyata saran dari Dewan Penasihat tersebut tidak akan
dipenuhi. Pengurus DPD I PG Jateng justru meminta kepada Dewan
Penasihat Partai Golkar Jateng untuk berhati-hati dalam mengeluarkan
keputusan.
”Kami dari pengurus Partai Golkar Jateng memohon dengan hormat agar
sebelum mengambil kesimpulan, Dewan Penasihat mendengar dulu
penjelasan dari pengurus, dan tidak mengumumkan lebih dulu saran
yang disampaikan sebelum saran dan masukan tersebut sampai ke
pengurus DPD,” ujar Wakil Ketua DPD PG Jateng Sutoyo Abadi.
Soal permintaan agar Bambang mundur dari jabatannya sebagai Ketua
DPD, Sutoyo menerangkan bahwa hal itu sudah dikonsultasikan dengan
Dewan Pengurus Pusat dan pengurus kabupaten/kota. Hasilnya, saran
Dewan Penasihat itu dinilai bukan merupakan solusi yang tepat dan
semua persoalan partai tetap harus mengacu pada AD/ART serta
peraturan organisasi lainnya.
“Bila ingin menggelar musyawarah daerah luar biasa, sesuai aturan
harus diajukan oleh dua pertiga DPD tingkat II. Secara faktual semua
pimpinan DPD II ternyata menolak musdalub,” tuturnya.
“Legowo”
Gubernur Jateng Ali Mufiz mengomentari hasil sementara pilkada
Jateng meminta agar lima pasang kandidat agar tulus dan “legowo” (lapang
dada) menerima hasil. “Mari kita dukung siapa yang terpilih menjadi
gubernur dan wakil gubernur Jateng. Ini adalah kemenangan seluruh
rakyat Jateng,” ujarnya.
KPU Jateng masih menerima hasil rekapitulasi penghitungan suara dari
KPU kabupaten dan kota hingga Senin ini. Berdasarkan jadwal, KPU
Jateng akan menetapkan calon gubernur/wakil gubernur Jateng melalui
rapat pleno pada 1–2 Juli nanti. n
|
|