Sabtu, 28 Juni  2008

O L A H R A G A

No.  5933

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Promarketing
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Laporan Nonnie Rering dari Wina
Stadion Ernst Happel Lebih Steril

 
Wina – Bentuknya yang megah dan mewah membuat Stadion Ernst-Happel benar-benar jadi kebanggaan penduduk asli Wina , Austria. Sebelumnya, stadion ini tak saja jadi kebanggaan penduduk Wina, tapi juga seantero Austria . Stadion yang diresmikan pada 11 Juli 1931 ini, menjadi stadion yang paling megah, mewah, dan modern saat itu.
Sebelum perang dunia II, stadion Ernst Happel bahkan menjadi salah satu stadion terbaik di dunia. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, stadion yang pembangunannya dimulai pada 1928 ini kini memiliki kapasitas 50.865 penonton. Oleh UEFA, stadion ini masuk kategori bintang lima alias bisa disejajarkan dengan stadion-stadion raksasa lain di dunia.
Setelah menjadi markas tim nasional Austria , Ernst Happel juga menjadi markas klub Rapid Wina, yang memang merupakan klub asal Austria . Pada helatan akbar Piala Eropa stadion megah ini sudah menjadi tuan rumah bagi enam pertandingan. Minggu (29/6) akan jadi pertandingan ketujuh sekaligus partai puncak dan penutupan di Piala Eropa 2008.
Nama Ernst Happel sendiri diambil dari salah satu legenda sepakbola Austria . Selain untk sepakbola, stadion ini juga sering dipakai untuk acara-acara megah yang melibatkan ratusan bahkan ribuan orang. Atau kerap juga dipakai untuk konser-konser raksasa. Seperti stadion-stadion besar lain, di sepanjang stadion ini juga terdapat banyak sekali pusat perbelanjaan dan mini market yang tujuannya untuk kenyamanan para penonton. Akses untuk men jangkau stadion ini sangat mudah karena dari pusat kota Wina, ada kereta yang tersambung langsung ke Stadion, dan juga bisa dijangkau dengan bis dari pusat kota .
Sayang, persiapan panitia untuk satu partai semifinal dan final Piala Eropa ini sangat jauh berbeda ketimbang Stadion Olympiapark, Berlin, Jerman ketika jadi tuan rumah final Piala Dunia 2006 antara Italia melawan Prancis. Stadion Olympia begitu terbuka untuk siapa saja. Para suporter bebas masuk kawasan stadion kapan saja karena di seputar stadion juga disediakan banyak sekali toko-toko piranti olahraga atau sponsor. Sebaliknya, Ernst Happel lebih menutup diri.
Sejak pertama kali mempertandingkan partai pertama antara Austria melawan Kroasia pun, Ernst Happel sudah sangat steril. Sekitar 200 meter dari sisi stadion sudah dikelilingi pagar pembatas untuk menghalangi suporter masuk ke Stadion. Baru pada pukul 18.00, Stadion dibuka untuk umum. Ini membuat banyak sekali suporter dan pendukung masing-masing tim yang berkeliaran di seputar Stadion sejak siang hanya untuk menunggu stadion dibuka pada pukul 18.00.
Jangankan para suporter yang harus antri untuk masuk. Para wartawan peliput dengan akreditasi pun harus antri karena pemeriksaan ketat sangat makan waktu. Meski begitu, Presiden UEFA, Michael Platini tetap memuji Austria sebagai tuan rumah yang baik.
“Masing-masing tuan rumah punya aturan sendiri-sendiri dan pengurus Ernst Happel dan panitia sudah melakukan hal yang benar untuk regulasi masuk stadion ini. Semoga partai final nanti akan membuat Ernst Happel makin dikenal dunia sehingga lebih banyak datang tawaran untuk final Piala Champions, UEFA, atau sejumlah pertandingan bergengsi lain. Bravo Ernst Happel,” ucap Platini ketika mengunjungi Ernst Happel pada Jumat (27/6). (non)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003