|
Nuno Gomes
Yang Tersisa dari Generasi Emas
Jakarta - Generasi emas Portugal dikenal sejak tim nasional ini
datang dengan talenta-talenta mudanya di Euro 1996 di Inggris.
Sederet nama seperti Luis Figo, Rui Costa, Paolo Sosa, dan Fernando
Couto menjadi bintang dan pilar dari generasi tersebut.
Di Piala Eropa kelima mereka kali ini pasukan merah marun lolos
sebagai runner-up grup dari babak kualifikasi dan kembali membawa
sebagian besar pasukan mudanya. Christiano Ronaldo, Nani, Miguel
Veloso, dan Joao Moutinho yang merupakan generasi baru dari
negaranya disebut-sebut bakal bersinar di putaran final di Swiss dan
Austria. Tapi di saat perhatian publik sepakbola tertuju kepada
mereka ternyata ada salah satu pemain dari generasi emas yang masih
bertahan dalam skuad asuhan Luis Felipe Scolari.
Nuno Miguel Soares Pereira Ribeiro, lebih terkenal sebagai Nuno
Gomes merupakan salah satu penyerang tangguh dari era generasi emas.
Bersama Armando Petit, Gomes merupakan sisa dari generasi lama yang
masih bertahan di timnas Portugal. Pensiunnya Luis Figo, Costinha,
dan Pedro Pauletta dari tim nasional selepas Piala Dunia terakhir
menjadikan Gomes ujung tombak andalan Portugal saat ini. Daya juang
tinggi dipadu dengan skil level atas dan produktivitas gol yang
tetap terjaga membuatnya tetap terpilih masuk skuad Scolari.
Nuno Gomes memulai karirnya bersama Boavista di musim 1993-1994. Dia
mencetak 23 gol dalam 79 kali penampilan bersama klub tersebut,
sebelum kemudian pindah di paruh musim ke Benfica pada 1997.
Ironisnya setelah sempat membela Boavista sebanyak 15 kali di musim
terakhirnya, Gomes memenangkan Piala Portugal pertamanya bersama
Benfica setelah mengkandaskan mantan klubnya tersebut di Final.
Tiga tahun mebela klub asal Lisbon itu, pemain kelahiran Amarante 32
tahun lalu ini mencetak 60 gol dalam 101 penampilannya dan
menjadikan dirinya dipanggil tim nasional untuk Euro 2000. Piala
Eropa yang diselenggarakan di Belanda dan Belgia itu mungkin paling
menyesakkan sepanjang kariernya. Mencetak 4 gol sepanjang turnamen,
Nuno Gomes membawa Portugal menghadapi Prancis di semifinal. Ia
mencetak satu gol indah, namun mendapat kartu merah karena mendorong
wasit saat itu, Gunter Benko, dan dihukum tujuh bulan tidak boleh
tampil di pertandingan internasional karena insiden tersebut.
Namun larangan tersebut tidak menghalangi keinginan klub Seri A
Fiorentina untuk memakai jasanya. Bergabung bersama Rui Costa,
rekannya di tim nasional, Gomes mempersembahkan Coppa Italia di
musim pertamanya dan total mencetak 14 gol dari 53 penampilan
bersama La Viola. Masalah finansial klub tersebut akhirnya
membuatnya balik ke Portugal bergabung kembali dengan Benfica.
Di level internasional, penyerang dengan tinggi badan 1,81 meter ini
mulai masuk tim senior Portugal di usia 19 dan debutnya dilakukan
saat pertandingan persahabatan melawan Prancis. Namun gol perdananya
bersama tim nasional senior baru bisa dicetak di Olimpiade Atlanta
setelah empat tahun bergabung.
Belakangan karirnya di tim nasional lebih banyak menjadi pelapis
dari Pauletta. Formasi 4-5-1 atau 4-3-3 yang dipakai sang pelatih,
membuat Portugal hanya membutuhkan satu penyerang di depan mulut
gawang lawan.
Saat Piala Eropa 2004 di negerinya sendiri, Gomes mencetak gol
penentuan atas Spanyol untuk membawa timnya ke babak kedua. Dan di
Piala Dunia 2006 di Jerman satu gol di lesakkan dalam perebutan
tempat ketiga melawan tuan rumah. Tiga gol juga dipersembahkannya
dalam babak kualifikasi menuju Swiss-Austria ini. Bersama Seleccao,
pemain yang mengidolakan Marco Van Basten ini sudah mencetak 28 gol
dari 68 penampilannya.
Sebuah prestasi yang langsung mendapat pujian dari salah satu
legenda Portugal, Luis Figo. “Sebagai rekan satu tim Nuno sangat
luar biasa, teman yang baik, dia pantas mendapatkan semuanya. Salah
satu penyerang berbahaya dengan teknik tinggi yang pandai
memanfaatkan setiap peluang yang pernah ada di tim ini.” puji mantan
kapten Seleccao. Fernando Meira, pemain belakang Vfb Stuttgart yang
turut serta ke Swiss-Austria juga turut memberikan pujian. “Dia
sungguh seorang teman sejati dan seorang pemain yang memberikan
seluruh kemampuannya dalam bertanding.”
Yang menarik nama Gomes bukanlah nama aslinya tetapi diambil dari
nama belakang penyerang favoritnya Fernando Gomes, mantan ujung
tombak Portugal yang menjadi penyerang top di tahun 1983 dan 1985.
(portugoal.net/ghn)
|
|