Senin, 02 Juni  2008

O P I N I

No.  5910

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

BBM, Bersepeda Bersama Masyarakat



Oleh
Eko Nugroho

Bersepeda mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk lebih memotivasi masyarakat kita dalam menghemat energi. Kalau dulu gedung-gedung perkantoran diminta untuk membatasi penggunaan lift dan pencahayaan yang berlebihan, mungkin sebaiknya sekarang pemerintah meminta semua perusahaan untuk menyediakan insentif khusus bagi karyawannya yang menggunakan sepeda.
Budaya bersepeda mungkin akan lebih cepat menyebar jika para wakil rakyat dan para pejabat pemerintahan bersedia memberi teladan langsung. Tentu sulit untuk melakukannya setiap hari, namun satu atau dua hari bersepeda ke kantor dalam satu minggu, sebagaimana dilakukan oleh komunitas Bike to Work Indonesia, tentunya masih sangat memungkinkan dan penulis yakin jika para pejabat kita bersedia melakukan hal tersebut, budaya bersepeda bisa lebih cepat menyebar di masyarakat kita.
Kita bisa berlindung di balik banyak alasan mengapa kita tidak mau atau sangat sulit untuk bisa bersepeda ke tempat kerja, infrastruktur pendukung yang sangat minim, faktor keamanan dalam bersepeda, efisiensi waktu, kesehatan, dan alasan-alasan lainnya. Tapi mari kita luangkan waktu sejenak untuk melihat bahwa sebenarnya budaya bersepeda mampu memberikan banyak manfaat, bagi diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita.
Dalam bukunya yang berjudul Bicycling Science, DG Wilson, Jim Papadopoulos, dan Frank Rowland Whitt, tiga orang ahli teknik dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) mengemukakan bahwa sepeda adalah alat transportasi tenaga manusia yang paling efisien. Untuk selang waktu 10 menit, berapa jauh jarak yang ditempuh dengan bersepeda dan berjalan, kemudian membandingkan jumlah kalori yang dibutuhkan untuk kedua aktivitas tersebut, disimpulkan bahwa bersepeda setidaknya 117% lebih efisien dibanding dengan berjalan kaki.
Terdapat banyak buku serta jurnal yang membahas berbagai aspek tenik dan sains dari bersepeda. Jika kita benar-benar bisa membudayakan kegiatan bersepeda, secara tidak langsung kita juga akan memotivasi kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi baru dalam bersepeda.

Polusi
Beberapa pihak berargumentasi bahwa secara tidak langsung sepeda juga menghasilkan polusi. Argumentasi tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa ketika seseorang bersepeda, seseorang membakar kalori lebih banyak sehingga akan mengkonsumsi makanan lebih banyak dan dalam setiap proses pembuatan makanan, dari bahan mentah menjadi makanan yang siap dimakan, dibutuhkan sejumlah energi dan juga menghasilkan sejumlah polusi.
David Pimentel, profesor ekologi dari Cornell University mengungkapkan bahwa rata-rata dibutuhkan 28 kilo kalori energi fosil untuk memproduksi 1 kilo kalori makanan. Ken Kifer, penulis dan pencinta sepeda, menulis sebuah artikel menarik terkait tentang polusi yang dihasilkan oleh sepeda.
Ken mengungkapkan bahwa dilihat dari berbagai sudut pandang, termasuk mencoba menghitung penggunaan energi dan polusi yang dihasilkan dari proses pembuatan makanan, sepeda tetap merupakan alat transportasi yang paling ramah lingkungan.
Hampir semua pihak sepakat bahwa bersepeda baik untuk kesehatan, yang hingga saat ini masih banyak dipertanyakan adalah apakah bersepeda di tengah lalu lintas kota dengan tingkat polusi yang relatif tinggi juga tetap baik untuk kesehatan?
Bersepeda memacu jantung dan paru-paru kita untuk bekerja lebih optimal, ketika udara yang dihirup kurang sehat, tentu akan berdampak kurang baik terhadap kesehatan. Namun, seperti diungkap dalam salah satu artikel komunitas bersepeda di Australia yang mengutip hasil penelitian yang termuat dalam Health and Promosion Journal of Australia, dampak polusi lalu lintas yang diderita para pengendara sepeda umumnya lebih rendah jika dibanding para pengguna kendaraan bermotor.
Salah satu alasannya adalah karena para pengendara sepeda umumnya menghindari jalan-jalan utama yang penuh dengan kendaraan bermotor dan mereka juga jarang terjebak dalam waktu lama di tengah kemacetan lalu lintas. Para pengendara kendaraan bermotor umumnya sulit menghindari kemacetan dan ketika mereka terjebak di kemacetan, mereka berada tepat di bela-kang kendaraan lain dan terkena efek langsung dari polusi yang dihasilkan.

Daripada Berkeras Hati
Dari sudut pandang sosial dan ekonomi, bersepeda bisa mendatangkan beberapa keuntungan. Ketika penulis masih berdomisili di kota Kaisers-lautern, Jerman. Pemerintah kota itu benar-benar berusaha mengoptimalkan budaya bersepeda. Salah satu upaya mereka adalah dengan menyediakan peminjaman sepeda gratis, bahkan dilengkapi dengan bantuan perbaikan dan suku cadang yang juga gratis.
Masyarakat yang membutuhkan sepeda tinggal datang ke pusat peminjaman sepeda, menyimpan sejumlah uang jaminan, dan mereka bisa langsung mendapat pinjaman sepeda hingga kurun waktu maksimal 6 bulan (setelah itu bisa diperpanjang). Untuk proses pemeliharaan dan perbaikan, pemerintah kota memanfaatkan jasa para siswa sekolah kejuruan dan kaum pengangguran yang ada. Secara tidak langsung pemerintah kota juga bisa menurunkan tingkat pengangguran dan berbagai dampak negatif lain yang mungkin terjadi dari tingginya tingkat pengangguran.
Hal yang sama sebenarnya sangat mungkin bisa kita lakukan di banyak kota di Indonesia, dengan syarat budaya bersepeda telah menyebar luas di masyarakat. Mari kita berimajinasi sejenak, jika masyarakat Jakarta, termasuk semua pejabat di dalamnya, bersedia untuk bersepeda ria ke tempat kerja mereka, pasar sepeda dan berbagai industri kecil lainnya yang berhubungan dengan sepeda (misalkan usaha bengkel sepeda) akan lebih bergairah, menciptakan lapangan kerja baru dan berbagai keuntungan lainnya. Hal ini sangatlah mungkin dilakukan, yang kita perlukan saat ini adalah kesadaran dan teladan dari para pemimpin kita, sayangnya kita tidak bisa pungkiri bahwa kedua hal tersebut mungkin hal yang paling sulit untuk kita dapatkan.
Budaya bersepeda memang masih sulit untuk diterapkan di sini dan sangat mungkin menghasilkan beberapa masalah baru. Namun kadang memecah satu permasalahan yang sulit menjadi beberapa permasalahan yang lebih sederhana adalah jauh lebih baik ketimbang berkeras hati menolak menghadapi masalah yang tidak bisa kita hindari.
Kita sadar bahwa kenaikan harga BBM adalah suatu hal yang tidak bisa kita hindari, daripada berkeras hati menolak kenaikan tersebut, mengapa kita tidak coba melatih diri sendiri dan berperan serta dalam mendidik masyarakat dalam menghemat energi.

Penulis adalah staf pengajar jurusan Statistika Universitas Padjadjaran.

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003