|
BBM, Bersepeda
Bersama Masyarakat
Oleh
Eko Nugroho
Bersepeda mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk lebih
memotivasi masyarakat kita dalam menghemat energi. Kalau dulu
gedung-gedung perkantoran diminta untuk membatasi penggunaan lift
dan pencahayaan yang berlebihan, mungkin sebaiknya sekarang
pemerintah meminta semua perusahaan untuk menyediakan insentif
khusus bagi karyawannya yang menggunakan sepeda.
Budaya bersepeda mungkin akan lebih cepat menyebar jika para wakil
rakyat dan para pejabat pemerintahan bersedia memberi teladan
langsung. Tentu sulit untuk melakukannya setiap hari, namun satu
atau dua hari bersepeda ke kantor dalam satu minggu, sebagaimana
dilakukan oleh komunitas Bike to Work Indonesia, tentunya masih
sangat memungkinkan dan penulis yakin jika para pejabat kita
bersedia melakukan hal tersebut, budaya bersepeda bisa lebih cepat
menyebar di masyarakat kita.
Kita bisa berlindung di balik banyak alasan mengapa kita tidak mau
atau sangat sulit untuk bisa bersepeda ke tempat kerja,
infrastruktur pendukung yang sangat minim, faktor keamanan dalam
bersepeda, efisiensi waktu, kesehatan, dan alasan-alasan lainnya.
Tapi mari kita luangkan waktu sejenak untuk melihat bahwa sebenarnya
budaya bersepeda mampu memberikan banyak manfaat, bagi diri kita
sendiri dan lingkungan sekitar kita.
Dalam bukunya yang berjudul Bicycling Science, DG Wilson, Jim
Papadopoulos, dan Frank Rowland Whitt, tiga orang ahli teknik dari
MIT (Massachusetts Institute of Technology) mengemukakan bahwa
sepeda adalah alat transportasi tenaga manusia yang paling efisien.
Untuk selang waktu 10 menit, berapa jauh jarak yang ditempuh dengan
bersepeda dan berjalan, kemudian membandingkan jumlah kalori yang
dibutuhkan untuk kedua aktivitas tersebut, disimpulkan bahwa
bersepeda setidaknya 117% lebih efisien dibanding dengan berjalan
kaki.
Terdapat banyak buku serta jurnal yang membahas berbagai aspek tenik
dan sains dari bersepeda. Jika kita benar-benar bisa membudayakan
kegiatan bersepeda, secara tidak langsung kita juga akan memotivasi
kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi baru dalam bersepeda.
Polusi
Beberapa pihak berargumentasi bahwa secara tidak langsung sepeda
juga menghasilkan polusi. Argumentasi tersebut didasarkan pada
pemikiran bahwa ketika seseorang bersepeda, seseorang membakar
kalori lebih banyak sehingga akan mengkonsumsi makanan lebih banyak
dan dalam setiap proses pembuatan makanan, dari bahan mentah menjadi
makanan yang siap dimakan, dibutuhkan sejumlah energi dan juga
menghasilkan sejumlah polusi.
David Pimentel, profesor ekologi dari Cornell University
mengungkapkan bahwa rata-rata dibutuhkan 28 kilo kalori energi fosil
untuk memproduksi 1 kilo kalori makanan. Ken Kifer, penulis dan
pencinta sepeda, menulis sebuah artikel menarik terkait tentang
polusi yang dihasilkan oleh sepeda.
Ken mengungkapkan bahwa dilihat dari berbagai sudut pandang,
termasuk mencoba menghitung penggunaan energi dan polusi yang
dihasilkan dari proses pembuatan makanan, sepeda tetap merupakan
alat transportasi yang paling ramah lingkungan.
Hampir semua pihak sepakat bahwa bersepeda baik untuk kesehatan,
yang hingga saat ini masih banyak dipertanyakan adalah apakah
bersepeda di tengah lalu lintas kota dengan tingkat polusi yang
relatif tinggi juga tetap baik untuk kesehatan?
Bersepeda memacu jantung dan paru-paru kita untuk bekerja lebih
optimal, ketika udara yang dihirup kurang sehat, tentu akan
berdampak kurang baik terhadap kesehatan. Namun, seperti diungkap
dalam salah satu artikel komunitas bersepeda di Australia yang
mengutip hasil penelitian yang termuat dalam Health and Promosion
Journal of Australia, dampak polusi lalu lintas yang diderita para
pengendara sepeda umumnya lebih rendah jika dibanding para pengguna
kendaraan bermotor.
Salah satu alasannya adalah karena para pengendara sepeda umumnya
menghindari jalan-jalan utama yang penuh dengan kendaraan bermotor
dan mereka juga jarang terjebak dalam waktu lama di tengah kemacetan
lalu lintas. Para pengendara kendaraan bermotor umumnya sulit
menghindari kemacetan dan ketika mereka terjebak di kemacetan,
mereka berada tepat di bela-kang kendaraan lain dan terkena efek
langsung dari polusi yang dihasilkan.
Daripada Berkeras Hati
Dari sudut pandang sosial dan ekonomi, bersepeda bisa mendatangkan
beberapa keuntungan. Ketika penulis masih berdomisili di kota
Kaisers-lautern, Jerman. Pemerintah kota itu benar-benar berusaha
mengoptimalkan budaya bersepeda. Salah satu upaya mereka adalah
dengan menyediakan peminjaman sepeda gratis, bahkan dilengkapi
dengan bantuan perbaikan dan suku cadang yang juga gratis.
Masyarakat yang membutuhkan sepeda tinggal datang ke pusat
peminjaman sepeda, menyimpan sejumlah uang jaminan, dan mereka bisa
langsung mendapat pinjaman sepeda hingga kurun waktu maksimal 6
bulan (setelah itu bisa diperpanjang). Untuk proses pemeliharaan dan
perbaikan, pemerintah kota memanfaatkan jasa para siswa sekolah
kejuruan dan kaum pengangguran yang ada. Secara tidak langsung
pemerintah kota juga bisa menurunkan tingkat pengangguran dan
berbagai dampak negatif lain yang mungkin terjadi dari tingginya
tingkat pengangguran.
Hal yang sama sebenarnya sangat mungkin bisa kita lakukan di banyak
kota di Indonesia, dengan syarat budaya bersepeda telah menyebar
luas di masyarakat. Mari kita berimajinasi sejenak, jika masyarakat
Jakarta, termasuk semua pejabat di dalamnya, bersedia untuk
bersepeda ria ke tempat kerja mereka, pasar sepeda dan berbagai
industri kecil lainnya yang berhubungan dengan sepeda (misalkan
usaha bengkel sepeda) akan lebih bergairah, menciptakan lapangan
kerja baru dan berbagai keuntungan lainnya. Hal ini sangatlah
mungkin dilakukan, yang kita perlukan saat ini adalah kesadaran dan
teladan dari para pemimpin kita, sayangnya kita tidak bisa pungkiri
bahwa kedua hal tersebut mungkin hal yang paling sulit untuk kita
dapatkan.
Budaya bersepeda memang masih sulit untuk diterapkan di sini dan
sangat mungkin menghasilkan beberapa masalah baru. Namun kadang
memecah satu permasalahan yang sulit menjadi beberapa permasalahan
yang lebih sederhana adalah jauh lebih baik ketimbang berkeras hati
menolak menghadapi masalah yang tidak bisa kita hindari.
Kita sadar bahwa kenaikan harga BBM adalah suatu hal yang tidak bisa
kita hindari, daripada berkeras hati menolak kenaikan tersebut,
mengapa kita tidak coba melatih diri sendiri dan berperan serta
dalam mendidik masyarakat dalam menghemat energi.
Penulis adalah staf pengajar jurusan Statistika Universitas
Padjadjaran.
|
|