|
Awas, Bakteri E
Coli pada Es Batu!
Oleh
Periksa Ginting
BOGOR - Anda yang gandrung konsumsi minuman atau makanan dengan
menggunakan es batu yang dijual di pinggir jalan agar hati-hati!
Kemungkinan besar minuman maupun makanan itu telah terkontaminasi
bakteri Escherichia coli atau disingkat E Coli.
Lho kok begitu? Sebagai acuan, lihat saja hasil uji sampel yang
dilakukan Iman Santoso Mphil dari Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA-UI) dan VitaCharm
Multi Probiotic ABC yang mengadakan pengayaan materi ”Pengenalan
Metode Pengujian Bakteri E Coli” (uji Coliform) kepada guru-guru
biologi se-Bogor dan sekitarnya.
Dalam uji sampel yang dilakukan pada kegiatan seminar dan
workshop, Kamis dan Jumat (15-16/5) itu, terungkap bahwa es buah
yang dibeli peserta di pinggir jalan mengandung koliform setinggi
1.600 koloni/100 ml.
Padahal, dengan kandungan 200 koloni/100 ml dalam suatu perairan,
sudah tidak layak dikonsumsi, sebab sangat berpotensi menyebarkan
penyakit infeksi seperti demam typhoid, hepatitis,
gastroenteritis, disentri, dan infeksi telinga.
“Memang dalam sampel es buah yang dibawa peserta seminar kita
menemukan kandungan koliform yang cukup tinggi. Tapi kita belum
bisa mengetahui kadar E colinya karena tidak tersedia alat untuk
pengujiannya,’’ kata Iman saat ditemui SH di sela-sela kegiatan
workshop, Jumat (16/5).
Selain pada es buah, kandungan koliform juga ditemukan dalam
kelapa murni ditambah es batu, dan air tanah SMA Negeri 2. Tapi
tidak setinggi kandungan es buah yang dijual pedagang di pinggir
jalan.
Dalam penjelasannya, Iman mengatakan seminar sekaligus workshop
yang diadakan di Ruang Serbaguna SMAN 2 Bogor Jalan Kranji Ujung
1–Budi Agung itu sebagai pengetahuan bagi tenaga pengajar mata
pelajaran biologi dan kimia di sekolah dasar, SMP dan SMA.
Pengayaan materi ”Pengenalan Metode Pengujian Bakteri E Coli” (uji
Coliform) diadakan guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan
bahaya yang ditimbulkan oleh kontaminasi bakteri patogen (bakteri
jahat) bagi keselamatan jiwa manusia serta bagaimana cara yang
paling efektif untuk mencegahnya.
Selain dilakukan uji bakteri E Coli, dalam workshop itu juga
dilakukan uji efek antagonis bakteri baik Multi Probiotic ABC
dalam menghambat bakteri patogen.
Didampingi PR Manager OT, Yuna Eka Kristina, pembicara Iman
Santoso menjadikan hubungan antara bakteri E Coli dengan penyakit
diare dan bagaimana pencegahan, sebagai isu pembahasan. Mengapa
diare? Karena sekilas penyakit ini terkesan tidak berbahaya karena
hampir setiap orang pernah mengalaminya. Padahal, diare merupakan
salah satu penyebab tingginya angka kematian pada balita,
khususnya di Indonesia.
Memang, kata Iman Santoso, E Coli bukan penyebab utama penyakit
diare. Namun, ditemukannya E Coli merupakan indikasi awal bahwa
suatu medium telah terkontaminasi bakteri-bakteri strains E Coli
yang bersifat patogen seperti Shigella, Salmonela, atau Yersinia.
Bakteri-bakteri tersebutlah yang menyebabkan diare.
Tingginya tingkat penyakit diare berkaitan dengan pencemaran
bakteri E Coli yang terdapat di air minum di Indonesia, khususnya
di kota-kota kecil. Minimnya pengetahuan masyarakat awam tentang
bahaya akan bakteri E Coli mengakibatkan kurangnya kesadaran untuk
mendeteksi dan mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap
bakteri tersebut.
Oleh karena itu, selain diberikan pembekalan materi mengenai
bakteri E Coli, para guru itu juga diberi kesempatan melakukan Uji
Bakteri Koliform di laboratorium untuk mengetahui keberadaan
bakteri tersebut dari beberapa sampel makanan dan minuman yang
mereka bawa dari rumah. Sehingga setelah dilakukan pengujian,
diketahui higienitas dari makanan atau minuman yang mereka biasa
konsumsi sehari-hari.
Bakteri Patogen
Iman Santoso menekankan jika jumlah koliform dalam suatu perairan
terdiri lebih dari 200 koloni/100 ml maka kemungkinan besar
perairan tersebut mengandung bakteri patogen. ”Kondisi perairan
yang demikian, berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit
infeksi. Salah satunya adalah penyakit saluran pencernaan seperti
diare,” jelasnya.
Di sisi lain, PR Manager OT, Yuna Eka Kristina, mengatakan latar
belakang VitaCharm mengadakan Program Pengayaan Materi Pengenalan
Metode Pengujian Bakteri E Coli ini agar para guru dapat melihat
secara langsung bagaimana wujud dan pergerakan dari bakteri E
Coli. Dengan demikian, para guru diharapkan semakin sadar akan
keberadaan bakteri E Coli dan dampak buruknya terhadap kesehatan
sehingga mampu meneruskan pengetahuan tersebut kepada
murid-muridnya.
”Tingkat pemahaman atau kepercayaan seseorang mengenai suatu
wacana akan bertambah ketika ditunjang dengan bukti visual. Saya
rasa, tingkat SMP dan SMA merupakan level edukasi yang membutuhkan
lebih dari sekadar teori, tapi juga pengalaman langsung,” komentar
Yuna.
Khalif, guru biologi SMA Al-Ghajaly Kota Bogor mengakui kalau
seminar dan workshop tentang uji bakteri koliform itu sangat
berguna. Dengan adanya penambahan pengetahuan yang didapatkan dari
seminar itu, guru bisa membimbing siswanya dalam melakukan
penelitian tentang E Coli. Melalui siswa itu kemudian diteruskan
kepada masyarakat awam tentang bagaimana menghindari makanan dan
minuman yang terkontaminasi bakteri E Coli. n
|
|