|
“Seratus Coret &
amp; Ciprat”
Patriotisme dan Nasionalisme
dalam Tema Bali
Oleh
John JS
Jakarta – Pameran lukisan dan patung bertajuk “Seratus Coret & amp;
Ciprat” dari Jazz Pasay yang juga berprofesi sebagai perancang
busana sekaligus dokter di Alun Alun Indonesia, Grand Indonesia akan
berlangsung hingga 28 Mei 2008.
Eksibisinya itu terkait dengan kegiatan tema “Seratus Tahun
Kebangkitan Nasional, Seratus Langkah Mencintai Bumi Kita” di Alun
Alun Indonesia, yang pula menampilkan karya-karya seni “inspiring
innovation” (ilham-ilham inovasi) berupa (antara lain) mebel cantik
dari kayu-kayu bekas bongkaran rumah tua; tas tangan dan map dari
limbah produksi dari Desa Sudimara, Tangerang yang berkualitas
ekspor; busana katun karya Oscar Lawalata, kriya kertas dari serat
pisang Abaka, kertas bungkus semen yang diubah jadi bungkus kado
spesial, kaleng bekas jadi aneka pajangan, limbah kayu jadi kursi
malas, serta karya inovasi lainnya termasuk sisa kertas majalah dan
sampah plastik yang dibuat berdaya guna.
Pilihan pada Jazz Pasay untuk menampilkan karya seni di galeri Alun
Alun Indonesia, menurut Business Development Executive Vice
President Pincky SR Sudarman, karena dia bisa berpikir di luar kotak
kebiasaan.
“Kami tidak bisa menerima ilusi seni yang biasa, sebab seniman harus
bisa memberikan solusi kreatif untuk berkontribusi pada kecintaan
lingkungan. Jazz bergaya minimalis, dan kebetulan kami mencari
seniman muda yang berpotensi bagus dan mencintai Indonesia. Kesenian
Bali yang dilukiskan dan dipatungkannya adalah melalui dimensi seni
tari. Sapuan dan pahatannya dinamis, selaras dengan misi Alun Alun
Indonesia yang cinta lingkungan dan kebudayaan sendiri,” papar
Pincky usai peresmian “Seratus Coret & Ciprat”, Minggu (18/5)
petang.
Tetap berjalan pada pola hidup modern, namun dengan menghargai seni
budaya leluhur, menjadi nilai tambah karya-karya seni Jazz.
“Membuktikan orang Indonesia memiliki kreativitas yang tiada
habisnya,” kata Pincky memuji.
Mencintai Bali
“Seratus Coret & Ciprat” menampilkan 21 karya lukisan terbaru
Jazz, ditambah sebuah karya patung perunggu berjudul “Trinity”
(2006). Untuk pamerannya kali ini, Jazz tetap bermain dengan media
akrilik yang dari dulu dianggap mewakili sifatnya yang ekspresif dan
ingin cepat selesai.
“Bagi kepentingan kerja yang lain sebagai perancang dan dokter,
adrenalin saya lebih terasa pas ketika melukis menggunakan akrilik,”
katanya kepada SH.
Mengenai tema Bali, menurut dia, dikaitkan dengan seratus tahun
kebangkitan nasional. “Tentang patriotisme dan nasionalisme
Indonesia, orang luar melihatnya cuma dari Bali. Target saya kan
memang market kolektor bangsa lain di samping dari orang Indonesia
sendiri yang mencintai budaya lokal,” kata Jazz.
Sampai acara peresmian, hari Minggu lalu, lukisan Jazz telah terjual
tiga buah senilai antara Rp 5-10 juta. Adapun keseluruhan lukisannya
memiliki harga jual antara Rp 2.500.000 hingga Rp 15 juta.
Sikapnya memilih berekspresi melukis dengan gerak tari Bali, diakui
Jazz, lantaran ia dari dulu mencintai tari Bali dengan pernah
menjadi penari Bali (dulu ikut aktif di Swara Mahardika pimpinan
Guruh Sukarno Putra).
“Saya sampai sekarang masih menguasai tarian Baris Gede, Legong dan
Janger. Melukis malah awalnya iseng sejak tiga tahun lalu. Namun
kini ternyata juga bisa menjadi mata pencaharian, dan malah membuka
kelas pengajaran di rumah,” tuturnya. n
|
|