Rabu, 21 Mei  2008

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5900

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

“Seratus Coret & amp; Ciprat”
Patriotisme dan Nasionalisme dalam Tema Bali



Oleh
John JS

Jakarta – Pameran lukisan dan patung bertajuk “Seratus Coret & amp; Ciprat” dari Jazz Pasay yang juga berprofesi sebagai perancang busana sekaligus dokter di Alun Alun Indonesia, Grand Indonesia akan berlangsung hingga 28 Mei 2008.

Eksibisinya itu terkait dengan kegiatan tema “Seratus Tahun Kebangkitan Nasional, Seratus Langkah Mencintai Bumi Kita” di Alun Alun Indonesia, yang pula menampilkan karya-karya seni “inspiring innovation” (ilham-ilham inovasi) berupa (antara lain) mebel cantik dari kayu-kayu bekas bongkaran rumah tua; tas tangan dan map dari limbah produksi dari Desa Sudimara, Tangerang yang berkualitas ekspor; busana katun karya Oscar Lawalata, kriya kertas dari serat pisang Abaka, kertas bungkus semen yang diubah jadi bungkus kado spesial, kaleng bekas jadi aneka pajangan, limbah kayu jadi kursi malas, serta karya inovasi lainnya termasuk sisa kertas majalah dan sampah plastik yang dibuat berdaya guna.
Pilihan pada Jazz Pasay untuk menampilkan karya seni di galeri Alun Alun Indonesia, menurut Business Development Executive Vice President Pincky SR Sudarman, karena dia bisa berpikir di luar kotak kebiasaan.
“Kami tidak bisa menerima ilusi seni yang biasa, sebab seniman harus bisa memberikan solusi kreatif untuk berkontribusi pada kecintaan lingkungan. Jazz bergaya minimalis, dan kebetulan kami mencari seniman muda yang berpotensi bagus dan mencintai Indonesia. Kesenian Bali yang dilukiskan dan dipatungkannya adalah melalui dimensi seni tari. Sapuan dan pahatannya dinamis, selaras dengan misi Alun Alun Indonesia yang cinta lingkungan dan kebudayaan sendiri,” papar Pincky usai peresmian “Seratus Coret & Ciprat”, Minggu (18/5) petang.
Tetap berjalan pada pola hidup modern, namun dengan menghargai seni budaya leluhur, menjadi nilai tambah karya-karya seni Jazz. “Membuktikan orang Indonesia memiliki kreativitas yang tiada habisnya,” kata Pincky memuji.

Mencintai Bali
“Seratus Coret & Ciprat” menampilkan 21 karya lukisan terbaru Jazz, ditambah sebuah karya patung perunggu berjudul “Trinity” (2006). Untuk pamerannya kali ini, Jazz tetap bermain dengan media akrilik yang dari dulu dianggap mewakili sifatnya yang ekspresif dan ingin cepat selesai.
“Bagi kepentingan kerja yang lain sebagai perancang dan dokter, adrenalin saya lebih terasa pas ketika melukis menggunakan akrilik,” katanya kepada SH.
Mengenai tema Bali, menurut dia, dikaitkan dengan seratus tahun kebangkitan nasional. “Tentang patriotisme dan nasionalisme Indonesia, orang luar melihatnya cuma dari Bali. Target saya kan memang market kolektor bangsa lain di samping dari orang Indonesia sendiri yang mencintai budaya lokal,” kata Jazz.
Sampai acara peresmian, hari Minggu lalu, lukisan Jazz telah terjual tiga buah senilai antara Rp 5-10 juta. Adapun keseluruhan lukisannya memiliki harga jual antara Rp 2.500.000 hingga Rp 15 juta.
Sikapnya memilih berekspresi melukis dengan gerak tari Bali, diakui Jazz, lantaran ia dari dulu mencintai tari Bali dengan pernah menjadi penari Bali (dulu ikut aktif di Swara Mahardika pimpinan Guruh Sukarno Putra).
“Saya sampai sekarang masih menguasai tarian Baris Gede, Legong dan Janger. Melukis malah awalnya iseng sejak tiga tahun lalu. Namun kini ternyata juga bisa menjadi mata pencaharian, dan malah membuka kelas pengajaran di rumah,” tuturnya. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003