Jumat, 16 Mei  2008

N U S A N T A R A

No.  5897

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Polda Amankan Kayu Eboni Bernilai Miliaran 


Palu - Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah selama sebulan terakhir berhasil menggagalkan upaya penyelundupan kayu eboni yang ditaksir mencapai miliaran rupiah. Penyelundupan ratusan kubik kayu mewah tersebut rata-rata memanfaatkan jalur laut perairan Pantai Barat, Sulawesi Tengah dengan tujuan Tawau, Malaysia.
Demikian disampaikan Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Irfaizal NST, Kamis (15/5). “Kami berhasil menyita sebanyak 900 pcs kayu eboni di akhir bulan lalu sementara di bulan Januari lalu tercatat 234 pcs. Jika kami hitung kerugian negara yang diakibatkan dari upaya penyelundupan mencapai ratusan juta bahkan bisa miliaran,” ungkap Irfaizal.
Ia menyebutkan Polda Sulteng selama ini telah menangani 36 kasus penyelundupan kayu yang mempunyai nilai jual tinggi. Rata-rata kayu-kayu tersebut diselundupkan ke wilayah Tawau, Malaysia melalui jalur perairan laut dari kawasan Pantai Barat Kabupaten Donggala yang merupakan lokasi pengambilan kayu eboni.
Di pasaran dunia, harga kayu hitam yang dikenal dengan nama eboni mencapai Rp 30 juta per kubik. Karena itu, banyak cukong kayu yang tertarik berbisnis kayu mewah ini.
Namun, dari catatan SH, sejauh ini polisi belum berhasil mengungkap cukong di balik penyelundupan kayu-kayu ini. Rata-rata yang ditangkap dan ditahan hanyalah para pengemudi truk dan buruh pengangkut kayu.
Sementara itu, dalam catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah (Disperindagkop), realisasi ekspor kayu eboni olahan periode Januari hingga Februari 2008, 53,3697 meter kubik dengan nilai US$ 182.657,55. Sedangkan untuk kayu eboni tercatat sebanyak 30.000 pcs dengan total nilai US$ 3.299,98.
”Untuk saat ini usaha di bidang perkayuan mengalami penurunan dan tentu saja nilai ekspornya pun berkurang,” ujar Ali Landeng, SE, Kasi Bidang Perdagangan (Disperindagkop Sulteng). (erna dwi lidiawati)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003