|
TEROPONG
Orang Miskin
Dilarang Sakit!
Pengantar Redaksi:
Pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di Ibu Kota masih jauh
dari harapan. Pemerintah telah menggulirkan Kartu Gakin, namun
nyatanya justru banyak keluarga berkantong tebal yang memiliki
kartu itu. Sementara keluarga miskin yang mengurus kartu itu
terbentur birokrasi, bahkan dipusingkan dengan calo.
Terkait itulah laporan khusus SH kali ini menurunkan problem
pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di Jakarta. Laporan
terkait tersaji di halaman 9 tentang keluarga miskin di Bekasi
yang dipusingkan dengan harga obat.
JAKARTA – Diombang-ambing, itulah yang dialami Sukirno (26) –
bukan nama sebenarnya. Dia mengalami hal itu ketika harus
berhubungan dengan pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)
Jakarta Pusat. Warga Cipinang Kebembem Jakarta Timur yang baru
di-PHK dari sebuah perusahaan percetakan itu harus bolak-balik
membawa kehamilan istrinya yang tidak normal memasuki bulan
kedelapan.
“Saya sudah tiga minggu mengurus kartu gakin, tapi dari pihak
puskesmas belum juga keluar, padahal saya butuh sekali,” katanya.
Sukirno mengatakan, seandainya dirinya masih bekerja tentu tidak
ingin capai-capai mengurus kartu gakin ini. “Kalau saja masih
punya pekerjaan, mungkin saya tidak akan berharap penuh untuk
mendapatkan kartu gakin,” imbuhnya.
Menurutnya kelengkapan surat-surat dari pihak RT, RW sudah
dikantonginya. “Pihak puskesmas juga sudah melakukan survei ke
rumah, tapi mana nggak ada kabarnya,” katanya.
Padahal, untuk mengantongi kartu gakin, Sukirno masih harus
mengantongi satu izin lagi yaitu dari Dinas Kesehatan Jakarta.
“Saya nggak tahu lagi harus bagaimana,” ungkapnya lirih.
Lelaki yang ditemui SH, Selasa (29/4) pagi itu, berada di salah
satu lorong RSCM, memang tak mampu menutupi kegalauannya.
Tangannya membekap arsip-arsip yang dibutuhkan untuk mendapatkan
kartu gakin yang tak kunjung tergenggam. “Saya khawatir banget
dengan kondisi istri saya, karena menurut dokter ari-arinya berada
di bawah,” katanya.
Sukirno mengaku sebelum berobat ke RSCM, istrinya sempat dirawat
ke Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur selama dua minggu.
“Kata dokter di sana, saya dirujuk untuk ke sini karena peralatan
di sana nggak lengkap,” katanya.
Anehnya, ungkap Sukirno, yang selama seminggu istrinya dirawat
ternyata kartu gakin bisa dengan mudah didapatnya di RSCM. “Di
sini banyak banget calo untuk buat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)
mulai dari satpam hingga sopir ambulans,” katanya.
Tapi, laki-laki yang sedang ketar-ketir akan nasib kesehatan istri
dan jabang bayinya ini urung terlibat urusan dengan calo. “Selain
saya nggak punya uang, saya juga takut kalau calonya kabur. Nasib...
jadi orang susah udah susah malah dibuat susah lagi, bisa-bisanya
mereka ngeduitin orang yang lagi kesusahan,” kesalnya.
Tarif yang ditawarkan calo-calo yang berseliweran di area RSCM
beragam. “Harga tergantung dengan jenis penyakitnya, semakin mahal
biaya berobatnya semakin mahal pula ongkos buatnya,” katanya.
Kisaran yang ditawarkan calo di RSCM diawali dari angka Rp 500.000
hingga jutaan.
“Kalau saya kemarin ditawarin Rp 500.000 untuk bisa pelayanan
cepat dari pihak rumah sakit itu janjinya si calo,” ungkapnya.
Bukan hanya itu yang harus dihadapi Sukirno, tapi juga pelayanan
suster-suster RSCM yang tidak ramah. “Sepertinya kami tidak berhak
mendapatkan pelayanan yang maksimal seperti orang berduit,”
ujarnya.
Antre Buru Kartu Gakin
Lepas dari itu ternyata kartu gakin kian diburu banyak orang
termasuk mereka yang berkantong tebal. Pengamatan SH di gedung
Dinas Kesehatan Jakarta, Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat tampak
jejeran pengantre ramai menunggu keluarnya kartu gakin.
Di antaranya adalah Tatang (60) warga Kelapa Dua Wetan, Cibubur,
Jakarta Timur. Ia yang bekerja sebagai buruh selayaknya memperoleh
manfaat kartu gakin.
Kamis (1/5) pagi itu ia sedang mengurus kartu gakin untuk ibunya
yang dirawat karena rawat jalan cuci darah di Rumah Sakit Asrama
Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Sudah enam bulan ia mengakui
keringanan berobat dari kartu gakin. Namun, ia sedikit
menyayangkan kenapa kartu gakin dibagikan belum merata.
”Orang yang memperoleh kartu gakin dalam proses pelayanan banyak
dibedakan dan kenapa masih ada orang yang justru mampu juga
memperoleh kartu gakin,” tuturnya.
Dia menyebut di tempat tinggalnya banyak orang berkantong tebal
yang mempunyai kartu gakin. Meski enggan menyebutkan namanya
Tatang mencontohkan tetangganya. “Biasanya ada unsur nepotisme,
atau hubungan saudara antara peminta kartu gakin yang mampu dengan
ketua RT yang memberikan surat keterangan tidak mampu (miskin),”
tutur Tatang seolah iri.
Cara lainnya, mereka melakukan pura-pura mengontrak ke rumah yang
lebih kecil saat tim survei Dinkes datang mengecek. Atau juga di
balik itu ada kesepakatan tidak resmi (salam tempel). Bila mereka
menggunakan kartu gakin, tentunya terbebas dari biaya total
pengobatan.
Sementara itu, orang yang tidak mampu di tempatnya banyak telantar.
Kebanyakan dari mereka yang miskin di daerahnya tidak tahu tentang
manfaat kartu gakin. Mereka (orang miskin) hanya mengandalkan obat
warung, termasuk Tatang. Kalau bukan karena tersandung salah satu
keluarganya terkena penyakit akut, Tatang tidak mengerti manfaat
kartu gakin. Yang menarik dari ceritanya adalah perihal
orang-orang yang sebenarnya mampu dengan mudah selalu
memperpanjang masa berlaku kartu gakin.
Ia mengaku selalu bertemu di waktu yang bersamaan dengan orang
yang datang menggunakan mobil dan perhiasan mengkilat saat
memperpanjang masa berlakunya kartu gakin. “Saya iri dengan mereka,
karena saya tahu persis di tempat tinggal saya masih banyak orang
miskin yang tidak pernah mendapatkan manfaat kartu gakin,”
pungkasnya dengan nada keras.
Mulyanto warga Jalan Pesing Koneng, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
mempunyai cerita sendiri. Ia bekerja sebagai sopir sedang mengurus
perpanjangan kartu gakin untuk keenam kalinya selama enam bulan.
Tak dipungkirinya, untuk adiknya yang setiap bulan harus dirawat
cuci darah di Rumah Sakit Islam, Cempaka Putih keluarganya
memperoleh manfaat dari kartu gakin. Biaya setiap pengobatan cuci
darah yang seharusnya Rp 650.000 tak dibayar semuanya. Ia hanya
membayar Rp 100.000 setiap kali pengobatan.
Namun, ia memiliki pendapat sendiri tentang keyakinannya supaya
adiknya dirawat di rumah sakit itu daripada rumah sakit pemerintah.
Rumah sakit pemerintah dinilai kurang bagus. Kurangnya tenaga
dokter dan perawat pada pelayanan pasien yang menggunakan kartu
gakin. Ia pun mengakui rumah sakit tempat adiknya dirawat pun
terkadang tak menghargainya.
“Saya tak mengerti semua rumah sakit di Jakarta, kenapa tidak bisa
menghargai orang miskin. Apa di sekolahnya tidak diajari moral
sebagai pelayan publik atau karena saya menggunakan kartu gakin
ini,” katanya bertanya. (ninuk cucu suwanti/juliadi prananta/norman
meoko)
|
|