Senin, 05 Mei  2008

J A B O T A B E K

No.  5887

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 TEROPONG

Orang Miskin Dilarang Sakit!



Pengantar Redaksi:
Pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di Ibu Kota masih jauh dari harapan. Pemerintah telah menggulirkan Kartu Gakin, namun nyatanya justru banyak keluarga berkantong tebal yang memiliki kartu itu. Sementara keluarga miskin yang mengurus kartu itu terbentur birokrasi, bahkan dipusingkan dengan calo.
Terkait itulah laporan khusus SH kali ini menurunkan problem pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di Jakarta. Laporan terkait tersaji di halaman 9 tentang keluarga miskin di Bekasi yang dipusingkan dengan harga obat.


JAKARTA – Diombang-ambing, itulah yang dialami Sukirno (26) – bukan nama sebenarnya. Dia mengalami hal itu ketika harus berhubungan dengan pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Warga Cipinang Kebembem Jakarta Timur yang baru di-PHK dari sebuah perusahaan percetakan itu harus bolak-balik membawa kehamilan istrinya yang tidak normal memasuki bulan kedelapan.
“Saya sudah tiga minggu mengurus kartu gakin, tapi dari pihak puskesmas belum juga keluar, padahal saya butuh sekali,” katanya.
Sukirno mengatakan, seandainya dirinya masih bekerja tentu tidak ingin capai-capai mengurus kartu gakin ini. “Kalau saja masih punya pekerjaan, mungkin saya tidak akan berharap penuh untuk mendapatkan kartu gakin,” imbuhnya.
Menurutnya kelengkapan surat-surat dari pihak RT, RW sudah dikantonginya. “Pihak puskesmas juga sudah melakukan survei ke rumah, tapi mana nggak ada kabarnya,” katanya.
Padahal, untuk mengantongi kartu gakin, Sukirno masih harus mengantongi satu izin lagi yaitu dari Dinas Kesehatan Jakarta. “Saya nggak tahu lagi harus bagaimana,” ungkapnya lirih.
Lelaki yang ditemui SH, Selasa (29/4) pagi itu, berada di salah satu lorong RSCM, memang tak mampu menutupi kegalauannya. Tangannya membekap arsip-arsip yang dibutuhkan untuk mendapatkan kartu gakin yang tak kunjung tergenggam. “Saya khawatir banget dengan kondisi istri saya, karena menurut dokter ari-arinya berada di bawah,” katanya.
Sukirno mengaku sebelum berobat ke RSCM, istrinya sempat dirawat ke Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur selama dua minggu. “Kata dokter di sana, saya dirujuk untuk ke sini karena peralatan di sana nggak lengkap,” katanya.
Anehnya, ungkap Sukirno, yang selama seminggu istrinya dirawat ternyata kartu gakin bisa dengan mudah didapatnya di RSCM. “Di sini banyak banget calo untuk buat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) mulai dari satpam hingga sopir ambulans,” katanya.
Tapi, laki-laki yang sedang ketar-ketir akan nasib kesehatan istri dan jabang bayinya ini urung terlibat urusan dengan calo. “Selain saya nggak punya uang, saya juga takut kalau calonya kabur. Nasib... jadi orang susah udah susah malah dibuat susah lagi, bisa-bisanya mereka ngeduitin orang yang lagi kesusahan,” kesalnya.
Tarif yang ditawarkan calo-calo yang berseliweran di area RSCM beragam. “Harga tergantung dengan jenis penyakitnya, semakin mahal biaya berobatnya semakin mahal pula ongkos buatnya,” katanya. Kisaran yang ditawarkan calo di RSCM diawali dari angka Rp 500.000 hingga jutaan.
“Kalau saya kemarin ditawarin Rp 500.000 untuk bisa pelayanan cepat dari pihak rumah sakit itu janjinya si calo,” ungkapnya. Bukan hanya itu yang harus dihadapi Sukirno, tapi juga pelayanan suster-suster RSCM yang tidak ramah. “Sepertinya kami tidak berhak mendapatkan pelayanan yang maksimal seperti orang berduit,” ujarnya.

Antre Buru Kartu Gakin
Lepas dari itu ternyata kartu gakin kian diburu banyak orang termasuk mereka yang berkantong tebal. Pengamatan SH di gedung Dinas Kesehatan Jakarta, Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat tampak jejeran pengantre ramai menunggu keluarnya kartu gakin.
Di antaranya adalah Tatang (60) warga Kelapa Dua Wetan, Cibubur, Jakarta Timur. Ia yang bekerja sebagai buruh selayaknya memperoleh manfaat kartu gakin.
Kamis (1/5) pagi itu ia sedang mengurus kartu gakin untuk ibunya yang dirawat karena rawat jalan cuci darah di Rumah Sakit Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Sudah enam bulan ia mengakui keringanan berobat dari kartu gakin. Namun, ia sedikit menyayangkan kenapa kartu gakin dibagikan belum merata.
”Orang yang memperoleh kartu gakin dalam proses pelayanan banyak dibedakan dan kenapa masih ada orang yang justru mampu juga memperoleh kartu gakin,” tuturnya.
Dia menyebut di tempat tinggalnya banyak orang berkantong tebal yang mempunyai kartu gakin. Meski enggan menyebutkan namanya Tatang mencontohkan tetangganya. “Biasanya ada unsur nepotisme, atau hubungan saudara antara peminta kartu gakin yang mampu dengan ketua RT yang memberikan surat keterangan tidak mampu (miskin),” tutur Tatang seolah iri.
Cara lainnya, mereka melakukan pura-pura mengontrak ke rumah yang lebih kecil saat tim survei Dinkes datang mengecek. Atau juga di balik itu ada kesepakatan tidak resmi (salam tempel). Bila mereka menggunakan kartu gakin, tentunya terbebas dari biaya total pengobatan.
Sementara itu, orang yang tidak mampu di tempatnya banyak telantar. Kebanyakan dari mereka yang miskin di daerahnya tidak tahu tentang manfaat kartu gakin. Mereka (orang miskin) hanya mengandalkan obat warung, termasuk Tatang. Kalau bukan karena tersandung salah satu keluarganya terkena penyakit akut, Tatang tidak mengerti manfaat kartu gakin. Yang menarik dari ceritanya adalah perihal orang-orang yang sebenarnya mampu dengan mudah selalu memperpanjang masa berlaku kartu gakin.
Ia mengaku selalu bertemu di waktu yang bersamaan dengan orang yang datang menggunakan mobil dan perhiasan mengkilat saat memperpanjang masa berlakunya kartu gakin. “Saya iri dengan mereka, karena saya tahu persis di tempat tinggal saya masih banyak orang miskin yang tidak pernah mendapatkan manfaat kartu gakin,” pungkasnya dengan nada keras.
Mulyanto warga Jalan Pesing Koneng, Kebon Jeruk, Jakarta Barat mempunyai cerita sendiri. Ia bekerja sebagai sopir sedang mengurus perpanjangan kartu gakin untuk keenam kalinya selama enam bulan. Tak dipungkirinya, untuk adiknya yang setiap bulan harus dirawat cuci darah di Rumah Sakit Islam, Cempaka Putih keluarganya memperoleh manfaat dari kartu gakin. Biaya setiap pengobatan cuci darah yang seharusnya Rp 650.000 tak dibayar semuanya. Ia hanya membayar Rp 100.000 setiap kali pengobatan.
Namun, ia memiliki pendapat sendiri tentang keyakinannya supaya adiknya dirawat di rumah sakit itu daripada rumah sakit pemerintah. Rumah sakit pemerintah dinilai kurang bagus. Kurangnya tenaga dokter dan perawat pada pelayanan pasien yang menggunakan kartu gakin. Ia pun mengakui rumah sakit tempat adiknya dirawat pun terkadang tak menghargainya.
“Saya tak mengerti semua rumah sakit di Jakarta, kenapa tidak bisa menghargai orang miskin. Apa di sekolahnya tidak diajari moral sebagai pelayan publik atau karena saya menggunakan kartu gakin ini,” katanya bertanya. (ninuk cucu suwanti/juliadi prananta/norman meoko)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003