Senin, 28 April  2008

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5882

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 PROFIL

Abdul Radjak
Membangun Rumah Sakit untuk Jakarta


Oleh
Wahyu Dramastuti

JAKARTA - Dr H Abdul Radjak DSOG, nama lengkapnya, tak pernah berhenti memimpikan Jakarta menjadi kota dunia. Sebuah kota yang menyenangkan, aman, bersih dan lalu lintasnya lancar.
Namun ia mempertanyakan mengapa atas nama pembangunan, masyarakat sering digusur dengan cara kekerasan. Setiap jengkal kemajuan Jakarta, selalu diiringi dengan kisah pengorbanan rakyat.
“Bagi Jakarta, padahal masyarakat adalah basis utama pembangunan wilayah,” kata Radjak kepada SH, baru-baru ini. Ia juga setuju jika pedagang kaki lima (PKL) ditertibkan, namun di sisi lain para konglomerat yang seenaknya mengubah peruntukan lahan atau menyalahi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kota, juga harus ditertibkan. Oleh sebab itu, Jakarta memerlukan figur pemimpin yang berorientasi pada pelayanan publik.
Pemimpin Ibu Kota juga harus mampu mewujudkan aparatur pemerintah daerah yang sejahtera, untuk menghindari tindak KKN sehingga bisa mengemban tugas secara jujur dan adil. Selain itu, pemimpin mesti dapat menjadikan Jakarta sebagai katalisator persatuan dan kesatuan bangsa.
Melihat perkembangan kondisi Ibu Kota, Radjak memang pantas gundah. Apalagi, dia merupakan putra Betawi asli, kelahiran 13 September 1943. Untuk mewujudkan obsesinya, pernah pada tahun 2002 ia melamar menjadi calon Gubernur DKI Jakarta dari kalangan independen. Meski kemudian tersisih karena tidak ada dukungan yang solid dari fraksi-fraksi di DPRD DKI.
Tersingkir dari jalur politik, tak membuat suami Dr Sudinaryati MARS ini patah arang, karena memang sudah sejak lama ia berkiprah untuk masyarakat, terutama di bidang kedokteran. Yayasan Rumah Sakit MH Thamrin Internasional di Jl Salemba Tengah yang dipimpinnya, merupakan salah satu contoh pelayanannya. Belum lagi, beberapa akademi di antaranya akademi perawat kesehatan, akademi gizi, akademi kebidanan, akademi analis farmasi dan makanan, serta akademi manajemen rumah sakit.
Yayasan Rumah Sakit MH Thamrin membawahi RS MH Thamrin Internasional Salemba, RS MH Thamrin Cileungsi, RS MH Thamrin Pondok Gede, RS MH Thamrin Cengkareng, dan beberapa unit pelayanan kesehatan (UPK) di beberapa wilayah di Jabotabek.
Abdul Radjak yang dokter bidang obstetri ginekologi (bidang kebidanan dan penyakit kandungan) ini, memang kental jiwa sosialnya. Dahulu, setelah menjadi dokter, hobi ngebreak-nya pada era 1969-an dalam Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (Orari), disalurkan dengan membentuk kelompok breaker dokter.
Dari sinilah Radjak dan kawan-kawan memelopori penggunaan radio panggil untuk kepentingan penanganan gawat darurat. Melalui sistem komunikasi ini, keadaan gawat darurat diinformasikan ke rumah sakit, ambulans, dan pemadam kebakaran. “Ini sangat membantu masyarakat,” katanya.
Selanjutnya, setelah bertugas di Departemen Kesehatan, Radjak berhasil menggolkan bantuan dari Dana Pembangunan Asia (ADB) untuk mengembangkan konsep pelayanan medik darurat serta pemerataan pelayanan kesehatan, hingga kemudian ia dipilih menjadi konsultan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1996.
Hanya sayangnya, meski sejumlah negara mengambil konsep yang disusun Radjak, yaitu sistem komunikasi dalam penanganan keadaan gawat darurat, Indonesia justru kurang berhasil menerapkannya.
“Inilah penyakit di birokrasi Indonesia. Ketika ada proyek turun, khususnya berkaitan dengan pengadaan barang, menjadi rebutan para pejabatnya, dan akhirnya berantakan semua,” ungkapnya, seperti yang tertuang dalam buku biografinya, Aktivis yang Belum Mau Muncul.
Ia juga menyesalkan kurangnya perhatian pemerintah setelah ada telemedicine. Dengan pemanfaatan sistem telemedicine, seorang dokter padahal dapat melakukan operasi di daerah terpencil dengan bimbingan para dokter senior. Dengan teknologi ini, betapa banyak nyawa ibu yang sedang melahirkan dan bayinya, bisa terselamatkan. Apalagi, tingkat kematian ibu dan bayi Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN.

Si Pitung Zaman Sekarang
Nama Rumah Sakit adalah MH Thamrin, mengadopsi semangat Mohammad Hoesni Thamrin—tokoh Betawi—yang gigih berjuang melawan Belanda. “Orang Betawi memang harus mampu berdiri di barisan paling depan,” kata Radjak. Orang Betawi sesungguhnya juga berbudaya, metropolis, modern, dan religius. Maka jangan sampai citra Betawi hancur hanya gara-gara ulah “jawara Betawi” yang banyak menjadi centeng atau preman bayaran.
“Kalau ingin menjadi jawara Betawi, tirulah tokoh Si Pitung. Selain jagoan yang pintar bela diri, ia juga berotak dan bermoral tinggi dalam menolong masyarakat dari kesewenang-wenangan pemerintah kolonial,” ujar orang Betawi pertama yang menjadi dokter spesialis kandungan ini. Hingga kini sebagai wujud cinta Tanah Air, Radjak mewajibkan seluruh civitas academikanya untuk melakukan upacara bendera setiap tanggal 17 Agustus di Kampus MH Thamrin Pondok Gede.
Salah satu pendiri Badan Musyawarah (Bamus) Betawi ini pernah ditawari menjadi wali kota Jakarta Selatan oleh Gubernur Tjokropranolo dan ditawari menjadi anggota DPR. Tetapi ia waktu itu menolak karena ingin mengabdikan ilmu kedokteran untuk masyarakat luas. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003