|
PROFIL
Abdul Radjak
Membangun Rumah Sakit untuk Jakarta
Oleh
Wahyu Dramastuti
JAKARTA - Dr H Abdul Radjak DSOG, nama lengkapnya, tak pernah
berhenti memimpikan Jakarta menjadi kota dunia. Sebuah kota yang
menyenangkan, aman, bersih dan lalu lintasnya lancar.
Namun ia mempertanyakan mengapa atas nama pembangunan,
masyarakat sering digusur dengan cara kekerasan. Setiap jengkal
kemajuan Jakarta, selalu diiringi dengan kisah pengorbanan
rakyat.
“Bagi Jakarta, padahal masyarakat adalah basis utama pembangunan
wilayah,” kata Radjak kepada SH, baru-baru ini. Ia juga setuju
jika pedagang kaki lima (PKL) ditertibkan, namun di sisi lain
para konglomerat yang seenaknya mengubah peruntukan lahan atau
menyalahi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kota, juga harus
ditertibkan. Oleh sebab itu, Jakarta memerlukan figur pemimpin
yang berorientasi pada pelayanan publik.
Pemimpin Ibu Kota juga harus mampu mewujudkan aparatur
pemerintah daerah yang sejahtera, untuk menghindari tindak KKN
sehingga bisa mengemban tugas secara jujur dan adil. Selain itu,
pemimpin mesti dapat menjadikan Jakarta sebagai katalisator
persatuan dan kesatuan bangsa.
Melihat perkembangan kondisi Ibu Kota, Radjak memang pantas
gundah. Apalagi, dia merupakan putra Betawi asli, kelahiran 13
September 1943. Untuk mewujudkan obsesinya, pernah pada tahun
2002 ia melamar menjadi calon Gubernur DKI Jakarta dari kalangan
independen. Meski kemudian tersisih karena tidak ada dukungan
yang solid dari fraksi-fraksi di DPRD DKI.
Tersingkir dari jalur politik, tak membuat suami Dr Sudinaryati
MARS ini patah arang, karena memang sudah sejak lama ia
berkiprah untuk masyarakat, terutama di bidang kedokteran.
Yayasan Rumah Sakit MH Thamrin Internasional di Jl Salemba
Tengah yang dipimpinnya, merupakan salah satu contoh
pelayanannya. Belum lagi, beberapa akademi di antaranya akademi
perawat kesehatan, akademi gizi, akademi kebidanan, akademi
analis farmasi dan makanan, serta akademi manajemen rumah sakit.
Yayasan Rumah Sakit MH Thamrin membawahi RS MH Thamrin
Internasional Salemba, RS MH Thamrin Cileungsi, RS MH Thamrin
Pondok Gede, RS MH Thamrin Cengkareng, dan beberapa unit
pelayanan kesehatan (UPK) di beberapa wilayah di Jabotabek.
Abdul Radjak yang dokter bidang obstetri ginekologi (bidang
kebidanan dan penyakit kandungan) ini, memang kental jiwa
sosialnya. Dahulu, setelah menjadi dokter, hobi ngebreak-nya
pada era 1969-an dalam Organisasi Radio Amatir Republik
Indonesia (Orari), disalurkan dengan membentuk kelompok breaker
dokter.
Dari sinilah Radjak dan kawan-kawan memelopori penggunaan radio
panggil untuk kepentingan penanganan gawat darurat. Melalui
sistem komunikasi ini, keadaan gawat darurat diinformasikan ke
rumah sakit, ambulans, dan pemadam kebakaran. “Ini sangat
membantu masyarakat,” katanya.
Selanjutnya, setelah bertugas di Departemen Kesehatan, Radjak
berhasil menggolkan bantuan dari Dana Pembangunan Asia (ADB)
untuk mengembangkan konsep pelayanan medik darurat serta
pemerataan pelayanan kesehatan, hingga kemudian ia dipilih
menjadi konsultan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1996.
Hanya sayangnya, meski sejumlah negara mengambil konsep yang
disusun Radjak, yaitu sistem komunikasi dalam penanganan keadaan
gawat darurat, Indonesia justru kurang berhasil menerapkannya.
“Inilah penyakit di birokrasi Indonesia. Ketika ada proyek turun,
khususnya berkaitan dengan pengadaan barang, menjadi rebutan
para pejabatnya, dan akhirnya berantakan semua,” ungkapnya,
seperti yang tertuang dalam buku biografinya, Aktivis yang Belum
Mau Muncul.
Ia juga menyesalkan kurangnya perhatian pemerintah setelah ada
telemedicine. Dengan pemanfaatan sistem telemedicine, seorang
dokter padahal dapat melakukan operasi di daerah terpencil
dengan bimbingan para dokter senior. Dengan teknologi ini,
betapa banyak nyawa ibu yang sedang melahirkan dan bayinya, bisa
terselamatkan. Apalagi, tingkat kematian ibu dan bayi Indonesia
merupakan yang tertinggi di ASEAN.
Si Pitung Zaman Sekarang
Nama Rumah Sakit adalah MH Thamrin, mengadopsi semangat Mohammad
Hoesni Thamrin—tokoh Betawi—yang gigih berjuang melawan Belanda.
“Orang Betawi memang harus mampu berdiri di barisan paling depan,”
kata Radjak. Orang Betawi sesungguhnya juga berbudaya,
metropolis, modern, dan religius. Maka jangan sampai citra
Betawi hancur hanya gara-gara ulah “jawara Betawi” yang banyak
menjadi centeng atau preman bayaran.
“Kalau ingin menjadi jawara Betawi, tirulah tokoh Si Pitung.
Selain jagoan yang pintar bela diri, ia juga berotak dan
bermoral tinggi dalam menolong masyarakat dari
kesewenang-wenangan pemerintah kolonial,” ujar orang Betawi
pertama yang menjadi dokter spesialis kandungan ini. Hingga kini
sebagai wujud cinta Tanah Air, Radjak mewajibkan seluruh civitas
academikanya untuk melakukan upacara bendera setiap tanggal 17
Agustus di Kampus MH Thamrin Pondok Gede.
Salah satu pendiri Badan Musyawarah (Bamus) Betawi ini pernah
ditawari menjadi wali kota Jakarta Selatan oleh Gubernur
Tjokropranolo dan ditawari menjadi anggota DPR. Tetapi ia waktu
itu menolak karena ingin mengabdikan ilmu kedokteran untuk
masyarakat luas. n |
|