Sabtu, 26 April  2008

N A S I O N A L

No.  5881

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Menpora: Jangan Asal Pilih Pemimpin Muda



Semarang-Menpora Adhyaksa Dault mendorong pemuda menjadi pemimpin, namun masyarakat jangan asal memilih pemimpin muda dan hanya melihat dari segi usianya saja tetapi juga harus melihat kemampuannya.
“Kalau muda tapi korupsi dan mabuk-mabukan buat apa dipilih. Lebih baik yang tua tapi tidak korupsi,” kata Adhyaksa saat berbicara pada Pertemuan Senat Mahasiswa Se-Jawa Tengah di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Jumat (25/4).
Untuk itu, Adhyaksa meminta generasi muda meningkatkan kemampuannya. Sementara bagi generasi muda yang sudah menjadi pemimpin atau juga duduk di legislatif dan lainnya, harus mampu memberikan suri tauladan kepada masyarakat. Dengan memberikan suri tauladan, katanya, kepercayaan masyarakat kepada generasi muda akan meningkat.
Sementara itu, generasi muda yang ingin maju sebagai pemimpin harus memadukan figur dan juga mesin partai politik. “Figur dengan mesin politik yang baik merupakan paduan yang baik,” katanya.
Adhyaksa juga mengingatkan bahwa pemimpin muda yang tampil ini harus bisa menghargai pendahulunya dan bukannya mencaci maki. “Ambillah yang baik dari pendahulu-pendahulunya itu dan dipadukan dengan yang baru. Kalian yang muda-muda di sini, bersiap-siaplah untuk mengambil tongkat estafet kepemimpinan di masa datang,” kata Adhyaksa.
Dia juga mengatakan imperialisme modern telah merasuki generasi muda bangsa Indonesia melalui nilai-nilai materialis dan liberalis. “Penjajahan pola lama yang terjadi pada bangsa kita, ‘devide et impera’, kini muncul dalam imperialisme moderen melalui nilai-nilai materalis, liberalis masuk dalam diri anak-anak muda kita, calon pemimpin bangsa,” katanya.
Menpora menjelaskan, nilai materialis dan liberalis itu masuk melalui bidang informasi, investasi, industrialisasi, dan institusi. “Mahasiswa harus berhati-hati, karena bangsa ini tergantung pada generasi muda. Mereka menghendaki supaya Indonesia ini pecah, seperti dulu jaman kerajaan, saling bermusuhan. Untuk itu diperlukan kekuatan generasi muda, karena merupakan kekuatan paling besar,” katanya.(ant)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003