|
BUDAYA
Bunyi 20 Jari
Oleh
Roy Thaniago
Pernahkah Anda duduk santai di ruangan gelap, bertekun dalam melek
atau terbelalak, dan membenamkan diri dalam bunyi hingga kuyup?
LEWAT sebongkah benda hitam mengkilap, yang menyulitkan empat dewasa
sekalipun mengangkatnya bersamaan, dan di salah satu bagiannya
terdapat papan hitam putih berjumlah 88 buah itulah, kita sekalian,
tuan-puan, dapat menjawab dengan bergairah sepotong pertanyaan di
atas.
Dengan produksi suara yang kaya, piano selalu menjadi primadona di
atas panggung-panggung pertunjukan. Bukan saja panggung, tapi juga
menempati ruang-ruang dingin di rumah-rumah. Entah diperlakukan
fungsional sebagai alat musik, atau pun simbol identitas. Namun
siapa sangka, instrumen tua ini – masuk Indonesia sekitar 200 tahun
lalu lewat penjajahan Belanda – dapat disajikan dengan berbagai
wajah. Salah satunya dalam permainan empat tangan pada satu piano.
Mungkin karena ketangguhan piano lewat luasnya rentang suara,
beragamnya dinamika, hingga kestabilan nada menginspirasikan banyak
komponis untuk melakukan eksplorasi. Karya empat tangan adalah karya
yang mulai ditekuni WA Mozart (1756-1791) sejak kecil.
Pelacakan eksistensi repertoar permainan piano empat tangan ini
bertitik mula dari Mozart kecil dengan kakak perempuannya, Maria
Anna yang melakukan resital harpsichord di London (1765). Setelah
itu, komponis lain seakan tersihir akan pesona piano yang dimainkan
dua orang, sehingga berlomba-lomba menjajal piano dengan wajah
barunya. Salah satunya adalah Franz Schubert.
Pada 12 April 2008, di kawasan Kuningan, Jakarta, sebuah tempat yang
biasa digunakan sebagai kegiatan kesenian, yakni Erasmus Huis, boleh
jadi ingin menjawab sepotong pertanyaan menggoda di kepala tulisan
tadi. Dengan tajuk Piano Duo, pasangan pianis dari Belanda, Wyneke
Jordans dan Leo van Doeselaar, tahu benar bagaimana menjamu penonton
dengan permainan piano empat tangan. Bukan saja tahu menjamu, tapi
mereka mengimani dengan pasti jalan kesenian yang mereka tempuh
lewat ketekunannya mengolah detail-detail nada. Tak ayal, penonton
yang hampir membuat sesak gedung konser ini datang dengan tidak
percuma.
Diguyur pertama kali oleh serbuan bunyi dari karya JS Bach
(1685-1750) berjudul Toccata en Fuga in d BWV 565 yang sudah akrab
di telinga. Pasalnya karya Barok berstruktur polifonik ini sering
dipakai untuk ilustrasi film (misalnya The Phantom of the Opera),
musik rock, bahkan video games.
Dengan mantap, duo yang sudah bersama sejak lebih dari 20 tahun yang
lalu ini, menerjemahkan Bach dengan gaya yang agak lain. Karya Barok
yang cenderung menihilkan keluasan dinamika, justru dibawakan dengan
dinamika yang beragam. Dari piano hingga fortissimo.
Adalah Rondo in A, op. 107, D.951 karya Franz Schubert (1797-1828)
yang dijadikan nomor berikut yang membuat teduh pendengarnya. Dengan
keintiman, Jordans dan Doeselaar seakan sedang saling bercerita
tentang sebuah narasi kehidupan yang syahdu. Kadang Doeselaar yang
bercerita, Jordans mendengarkan. Begitu sebaliknya. Dan penonton
terlena, terbuai dalam dunia melankolik, sampai gemuruh tepuk tangan
menyadarkan.
Tidak seperti dua komposer sebelumnya yang sudah dikenal baik oleh
publik musik klasik, dua karya berikutnya datang dari dua nama yang
jarang terdengar, yakni Julius Rontgen (1855-1932) dan Robert
Nasveld (1955). Bahkan, karya Nasveld yang berjudul Traumblatter
baru pertama kali diperdengarkan pada publik.
Dengan arah tonalitas yang kabur, serta bunyi-bunyi yang jauh dari
konsep harmoni konservatif, karya ini mempertontonkan keindahannya
dengan teknik yang sulit. Bahkan, pada teknik itu pula keindahan
tersebut dihadirkan. Memperlihatkan pada penonton, bahwa teknik
mampu menjadi mandiri lewat keindahannya, bukan melulu sarana menuju
keindahan.
Babak kedua disajikan secara lebih menarik dan menghibur setelah
sebelumnya babak pertama ditutup dengan 3 Legenden-nya Antonin
Dvorak (1841-1904). Karya-karya untuk tarian dari Maurice Ravel
(1875-1937), L’Enfant et les Sortileges dan William Walton
(1902-1983) bernama Façade, memang amat pas ditaruh pada babak kedua.
Setelah sebelumnya dijamu dengan karya-karya yang serius, kedua
karya yang bernuansa riang ini memang menyegarkan. Maka tak heran,
di babak kedua ini – khususnya pada kedua lagu ini – suasana lebih
cair dan hangat. Penonton pun tak sungkan-sungkan memasang senyum
sebelum, ketika, serta sesudah karya dibawakan.
Hingga pada Rhapsody in Blue yang sedikit jazzy milik George
Gershwin (1898-1937), kita sekalian, tuan-puan, menjadi mahfum.
Bahwa keuletan mereka berdua, Jordans dan Doeselaar, berhasil
membuat penonton enggan beranjak dan memilih setia untuk dimandikan
bunyi yang dihasilkan 20 jari. Bahkan, terkesan ketagihan dengan
meminta encore sampai dua kali. Dan dengan tulusnya, duo piano suami
istri ini membayarnya dengan dua karya pendek milik Igor Stravinski
(1882-1971) yang jenaka.
Penulis adalah Penggiat Agenda 18,Mahasiswa Jurusan Musik
Universitas Pelita Harapan |
|