Sabtu, 19 April  2008

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5875

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 BUDAYA

Bunyi 20 Jari


Oleh
Roy Thaniago

Pernahkah Anda duduk santai di ruangan gelap, bertekun dalam melek atau terbelalak, dan membenamkan diri dalam bunyi hingga kuyup?
LEWAT sebongkah benda hitam mengkilap, yang menyulitkan empat dewasa sekalipun mengangkatnya bersamaan, dan di salah satu bagiannya terdapat papan hitam putih berjumlah 88 buah itulah, kita sekalian, tuan-puan, dapat menjawab dengan bergairah sepotong pertanyaan di atas.
Dengan produksi suara yang kaya, piano selalu menjadi primadona di atas panggung-panggung pertunjukan. Bukan saja panggung, tapi juga menempati ruang-ruang dingin di rumah-rumah. Entah diperlakukan fungsional sebagai alat musik, atau pun simbol identitas. Namun siapa sangka, instrumen tua ini – masuk Indonesia sekitar 200 tahun lalu lewat penjajahan Belanda – dapat disajikan dengan berbagai wajah. Salah satunya dalam permainan empat tangan pada satu piano.
Mungkin karena ketangguhan piano lewat luasnya rentang suara, beragamnya dinamika, hingga kestabilan nada menginspirasikan banyak komponis untuk melakukan eksplorasi. Karya empat tangan adalah karya yang mulai ditekuni WA Mozart (1756-1791) sejak kecil.
Pelacakan eksistensi repertoar permainan piano empat tangan ini bertitik mula dari Mozart kecil dengan kakak perempuannya, Maria Anna yang melakukan resital harpsichord di London (1765). Setelah itu, komponis lain seakan tersihir akan pesona piano yang dimainkan dua orang, sehingga berlomba-lomba menjajal piano dengan wajah barunya. Salah satunya adalah Franz Schubert.
Pada 12 April 2008, di kawasan Kuningan, Jakarta, sebuah tempat yang biasa digunakan sebagai kegiatan kesenian, yakni Erasmus Huis, boleh jadi ingin menjawab sepotong pertanyaan menggoda di kepala tulisan tadi. Dengan tajuk Piano Duo, pasangan pianis dari Belanda, Wyneke Jordans dan Leo van Doeselaar, tahu benar bagaimana menjamu penonton dengan permainan piano empat tangan. Bukan saja tahu menjamu, tapi mereka mengimani dengan pasti jalan kesenian yang mereka tempuh lewat ketekunannya mengolah detail-detail nada. Tak ayal, penonton yang hampir membuat sesak gedung konser ini datang dengan tidak percuma.
Diguyur pertama kali oleh serbuan bunyi dari karya JS Bach (1685-1750) berjudul Toccata en Fuga in d BWV 565 yang sudah akrab di telinga. Pasalnya karya Barok berstruktur polifonik ini sering dipakai untuk ilustrasi film (misalnya The Phantom of the Opera), musik rock, bahkan video games.
Dengan mantap, duo yang sudah bersama sejak lebih dari 20 tahun yang lalu ini, menerjemahkan Bach dengan gaya yang agak lain. Karya Barok yang cenderung menihilkan keluasan dinamika, justru dibawakan dengan dinamika yang beragam. Dari piano hingga fortissimo.
Adalah Rondo in A, op. 107, D.951 karya Franz Schubert (1797-1828) yang dijadikan nomor berikut yang membuat teduh pendengarnya. Dengan keintiman, Jordans dan Doeselaar seakan sedang saling bercerita tentang sebuah narasi kehidupan yang syahdu. Kadang Doeselaar yang bercerita, Jordans mendengarkan. Begitu sebaliknya. Dan penonton terlena, terbuai dalam dunia melankolik, sampai gemuruh tepuk tangan menyadarkan.
Tidak seperti dua komposer sebelumnya yang sudah dikenal baik oleh publik musik klasik, dua karya berikutnya datang dari dua nama yang jarang terdengar, yakni Julius Rontgen (1855-1932) dan Robert Nasveld (1955). Bahkan, karya Nasveld yang berjudul Traumblatter baru pertama kali diperdengarkan pada publik.
Dengan arah tonalitas yang kabur, serta bunyi-bunyi yang jauh dari konsep harmoni konservatif, karya ini mempertontonkan keindahannya dengan teknik yang sulit. Bahkan, pada teknik itu pula keindahan tersebut dihadirkan. Memperlihatkan pada penonton, bahwa teknik mampu menjadi mandiri lewat keindahannya, bukan melulu sarana menuju keindahan.
Babak kedua disajikan secara lebih menarik dan menghibur setelah sebelumnya babak pertama ditutup dengan 3 Legenden-nya Antonin Dvorak (1841-1904). Karya-karya untuk tarian dari Maurice Ravel (1875-1937), L’Enfant et les Sortileges dan William Walton (1902-1983) bernama Façade, memang amat pas ditaruh pada babak kedua. Setelah sebelumnya dijamu dengan karya-karya yang serius, kedua karya yang bernuansa riang ini memang menyegarkan. Maka tak heran, di babak kedua ini – khususnya pada kedua lagu ini – suasana lebih cair dan hangat. Penonton pun tak sungkan-sungkan memasang senyum sebelum, ketika, serta sesudah karya dibawakan.
Hingga pada Rhapsody in Blue yang sedikit jazzy milik George Gershwin (1898-1937), kita sekalian, tuan-puan, menjadi mahfum. Bahwa keuletan mereka berdua, Jordans dan Doeselaar, berhasil membuat penonton enggan beranjak dan memilih setia untuk dimandikan bunyi yang dihasilkan 20 jari. Bahkan, terkesan ketagihan dengan meminta encore sampai dua kali. Dan dengan tulusnya, duo piano suami istri ini membayarnya dengan dua karya pendek milik Igor Stravinski (1882-1971) yang jenaka.


Penulis adalah Penggiat Agenda 18,Mahasiswa Jurusan Musik Universitas Pelita Harapan

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003