Selasa, 08 April  2008

N U S A N T A R A

No.  5865

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Petualangan Madi Berakhir di Ujung Timah Panas Polisi



Oleh
Erna Dwi Lidiawati

Palu - Madi (41), pemimpin spiritual “ajaran ikat kepala putih” di Salena, Buluri, Palu Barat, Sulawesi Tengah akhirnya ditembak aparat Detasemen Khusus 88 Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Sabtu (5/4) sekitar pukul 18.00 Waktu Indonesia Tengah. Lelaki yang sudah diburu lebih dari dua tahun ini, terpaksa ditembak setelah melakukan perlawanan kepada aparat kepolisian yang menyergapnya di Dusun Lompu, di kawasan pegunungan Gawalise. Madi pun tewas, padahal dia disebut-sebut memiliki ilmu kekebalan tubuh.
Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Badrodin Haiti, mengatakan bahwa Madi yang bernama asli Arifin ditembak karena hendak membacok aparat kepolisian yang menyergapnya. ”Dia awalnya ditembak di kaki, namun masih melawan, karenanya kemudian ditembak di bahu. Karena masih melawan lagi, akhirnya kita melumpuhkannya,” ujar Badrodin kepada SH, Minggu (6/4).
Jenazah Madi setelah diotopsi dan diinapkan semalam di Kamar Jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulteng, akhirnya pada Minggu diserahkan kepada keluarga. Madi pun dikebumikan di tanah lahirnya di Salena.
Sekadar diketahui, Madi dengan sejumlah pengikutnya pada 2005 sempat meresahkan warga Palu Barat, Sulawesi Tengah dengan ajarannya. Mereka selalu mengenakan ikat kepala putih dari kain kafan dan berselempang kain kuning. Lalu pada Sabtu, 22 Oktober 2005, polisi yang dipimpin Kepala Kepolisian Sektor Kota AKP Bayu Wijanarko mengadakan pertemuan dengan Madi dan kelompoknya. Polisi meminta agar Madi memberikan keterangan kepada polisi terkait ajarannya yang dianggap meresahkan itu. Namun, ia menolak mengikuti kemauan polisi.
Lantaran suasana sempat menegang, apalagi Madi dikawal dengan pengawal bersenjata tombak dan parang, polisi pun mengambil langkah mundur. Madi pun tidak ditahan. Namun, pada Selasa, 25 Oktober 2005, sejumlah aparat kepolisian dari Samapta, Reserse dan Intelijen mendatangi Madi di padepokannya di Dusun Salena II. Sayang, bukan sambutan hangat yang diterima para polisi itu, justru perlawanan sengit dari Madi dan kelompoknya.
Akhirnya tiga polisi tewas. Mereka adalah Kepala Satuan Samapta Kepolisian Resor Kota Palu AKP Fuadi Chalis, Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan AKP Imam Dwi Haryadi dan Kepala Unit Reserse dan Intelijen Polsekta Palu Barat Brigadir Polisi Satu Arwansyah. Sementara itu, sejumlah polisi lainnya luka-luka.
Sejak saat itu, Madi dan pengikutnya diburu polisi. Sebanyak 13 pengikutnya ditangkap dan diadili di Pengadilan Negeri Palu. Mereka mendapat hukuman 4-6 tahun kurungan penjara. Namun, Madi sendiri raib entah ke mana, sampai kemudian ditembak Sabtu sore lalu.
Ajaran aneh yang dikembangkan Madi sebenarnya hanyalah padepokan ilmu bela diri. Mereka mempunyai kitab bertajuk “Karangan Dentete 10 Kungfu Anak Ramah Membela Masyarakat Kaili”. Meski itu sepintas terlihat seperti kitab ilmu bela diri, namun di dalamnya berisi sejumlah pegangan.
Dalam kitab itu disebutkan lima hal yang harus dilakukan kelompoknya. Pertama, jaga ketaatan kepada amir (pimpinan). Kedua, tinggalkan mengharap daripada Allah. Ketiga, tinggalkan meminta kepada Allah. Keempat, tinggalkan memakai barang teman tanpa seizin, dan kelima tinggalkan sifat boros dan mubazir.
Selain mengharamkan hal-hal di atas, ada beberapa hal yang harus dikurangi oleh pengikut Mahdi. Pertama, kurangi masa makan dan minum. Dua, kurangi masa tidur dan istrirahat. Tiga, kurangi berbicara sia-sia. Dan empat, kurangi keluar masjid.
Apakah Madi sendiri taat dengan aturan ini? Ketika polisi mendatangi Madi dan berdialog beberapa hari sebelum terjadi bentrokan, Madi malah tidak puasa. Ia tetap makan, minum dan mengunyah sirih saat puasa. Padahal, ajarannya mengurangi masa makan dan minum.
Bagaimana pula komentar Misna, yang ditinggali Madi lima orang anak? “Biarlah saya sudah ikhlas. Saya sudah ingatkan dia jangan lagi buka-buka perguruan itu. Tapi dia tetap buka. Akhirnya begini jadinya,” tutur Misna.
Sementara itu, tiga orang yang ditangkap bersama Madi, yakni Sania, Lumi dan Aminuddin, Senin (7/4), akan dibebaskan polisi. Mereka tidak terbukti sebagai pengikut Madi. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003