|
IPO Adaro Ciptakan
Preseden Buruk
Oleh
Sigit Wibowo
Jakarta—Rencana penawaran perdana saham (IPO) PT Adaro Indonesia
bisa menciptakan preseden buruk bagi perkembangan pasar modal di
Indonesia. Pasalnya perusahaan batubara tersebut tersangkut masalah
transfer pricing dan dugaan penggelapan pajak yang mengakibatkan
kerugian negara triliunan rupiah.
Demikian rangkuman pendapat pengamat pasar modal Yanuar Rizky dan
Anggota Komisi VII Alvien Lie di Jakarta, Kamis (3/4). “Badan
Pengawas Pasar Modal (Bappepam) dan Dirjen Pajak dan institusi
terkait harus memberikan klarifikasi terlebih dahulu agar
permasalahan bisa jelas,” kata Yanuar.
Jika izin IPO dari Bapepam langsung diberikan kepada Adaro maka
perusahaan-perusahaan lain yang diduga melakukan tindak kriminal
juga akan melenggang ke lantai bursa untuk menutupi tindak kriminal.
Beberapa waktu lalu, Ditjen Pajak mengumumkan beberapa perusahaan
batubara dan kelapa sawit yang tidak membayar pajak dengan benar,
Adaro adalah salah satu perusahaan yang dimaksud.
“Esensi perusahaan go public adalah keterbukaan dan akuntabilitas,
buat apa go public kalau hanya upaya untuk melakukan rekayasa
keuangan,” katanya. Masalah perpajakan adalah masalah krusial karena
di situlah peran negara dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial.
“Bagaimana mungkin perusahaan yang sudah menipu pajak masih mau
diberikan insentif perpajakan,” tandasnya.
Ia menyatakan selama ini Bapepam dan Ditjen Pajak telah memberikan
insentif pajak namun insentif tersebut tidak dibangun malalui sistem
yang benar. Jika laporan keuangan dan perpajakan emiten disusun
dengan cara yang benar maka insentif bisa diberlakukan. Tetapi jika
tidak benar, itu justru akan memberikan hadiah pada kriminal yang
telah melakukan aksi kejahatan
Alvien Lie meminta Bapepam, BPK, dan Ditjen Pajak untuk menuntaskan
kasus transfer pricing Adaro yang merugikan keuangan negara. Oleh
karena itu, rencana IPO harus ditunda samapai permasalahan
benar-benar selesai. “Jika ini belum tuntas maka dikawatirkan akan
menanggung kerugian,” katanya.
Di sisi lain, kepentingan masyarakat luas juga dirugikan karena
Adaro telah menggunakan perusahaan-perusahaan di luar negeri untuk
melakukan aksi tipu menipu atau permainan harga batu bara. Pada hal
jika membayar pajak dengan benar, maka uang triliunan rupiah
tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
ditengah banyak orang miskin yang bunuh diri akibat himbitan ekonomi.
Sebelumnya, PT Adaro Indonesia, salah satu raksasa batu bara di
Indonesia, berencana menggelar roadshow ke luar negeri terkait
rencana melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public
Offering/IPO) September mendatang. “Roadshow rencananya akan
dilakukan Juli mendatang. Tentunya keluar negeri, karena nilai IPO
kita cukup besar. Jadi kita lebih banyak mencari investor asing,”
kata Presiden Direktur Adaro, Boy Garibaldi Thohir, di Jakarta, Rabu
(2/4).
Pihaknya saat ini sedang mencari underwriter lokal untuk mendampingi
3 underwriter asing yang telah ditunjuk Adaro. “Kami sedang mencari
1 underwriter lokal untuk rencana IPO September mendatang. Baru
kemudian ditentukan apakah akan menunjuk lead underwriter atau joint
underwriter,” kata Boy.
Sebelumnya, Adaro telah menunjuk Goldman Sachs, DBS Vickers
Securities, dan UBS AG Securities sebagai underwriter. Namun
konstelasi underwriter yang telah ditunjuk berubah menjadi DBS
Vickers Securities, UBS AG Securities, dan Morgan Stanley. Pihaknya
masih mencari satu lagi penjamin emisi lokal, “Kita sedang
mempertimbangkan antara Danatama, Danareksa, Bahana atau Trimegah,”
ungkap Boy.
Rencananya pada September 2008 mendatang. (ant)
|
|