Jumat, 22 Februari  2008

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5829

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

PLN Akan Dituntut




Jakarta – Kalangan pengusaha dan pelaku industri nasional meminta pemerintah memberikan jaminan pasokan menyusul terjadinya krisis listrik karena defisit yang dialami PLN (Perusahaan Listrik Negara) dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan terus terulang. PLN harus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami dunia usaha.
”Saya mengharapkan kami (pengusaha-red) jangan terlalu lama dan terlalu banyak dirugikan. Kami juga mengusulkan kepada pengusaha yang betul-betul dirugikan oleh PLN agar menuntut kerugiannya kepada PLN,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi kepada SH di Jakarta, Jumat (22/2).
Menurut Sofjan, dampak dari krisis yang dialami PLN yang berujung pada pemadaman listrik di sejumlah wilayah ini, jelas merugikan dan mengganggu proses produksi di pabrik-pabrik mereka. Dia juga berharap PLN tidak mengorbankan kalangan pengusaha dan pelaku industri nasional dalam krisis listrik ini.
”PLN seharusnya memberitahukan kepada kita kapan mereka akan melakukan pemadaman listrik dan berapa lama waktunya agar pengusaha bisa merencanakan produksi. Kalau tiba-tiba mati akan banyak menimbulkan kerugian banyak pengusaha,” katanya.

Bayar Lembur
Jika pasokan listrik untuk industri terganggu, kata Sofjan, pengusaha pun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi order yang telah mereka sepakati dalam kontrak. ”Kalau hari ini padam, otomatis esok harinya kita harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar upah lembur pekerja. Apalagi kalau matinya sampai berhari-hari, sudah pasti kita akan mengalami kerugian yang sangat besar karena kita bisa kena pinalti akibat telat memenuhi order,” katanya.
Sofjan juga mengusulkan kepada pemerintah untuk meninjau status monopoli PLN jika mereka tidak bisa lagi memberikan jaminan pasokan kepada pelanggannya.

”Kita memang sangat tergantung kepada PLN karena cuma PLN sekarang ini yang memonopoli. Sekarang ini kita tidak siap diesel dan power plan karena memang investasinya besar sekali,” katanya.
Hal senada juga dikemukakan oleh para pelaku industri nasional yang produksinya sangat bergantung kepada pasokan listrik PLN. Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, Sekjen Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (Inaplas) Budi Susanto Sadiman, dan Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono yang dikonfirmasi secara terpisah juga mengkhawatirkan kondisi krisis listrik yang terjadi saat ini.
Baik API, Inaplas, maupun ASI sangat berharap pemerintah bisa mengatasi krisis listrik ini, jika tidak ingin melihat kehancuran industri nasional di masa yang akan datang. Seperti diketahui, sektor industri tekstil dan produk tekstil, industri kimia berbasis plastik maupun industri semen dalam negeri memang sangat mengandalkan pasokan listrik dari PLN.
”Jika krisis energi benar-benar terjadi dalam seminggu ke depan, kami harus bersiap-siap menghentikan produksi,” kata Ade.
Ade menambahkan dari sekitar 1.800 perusahaan TPT nasional, hanya 10 persen saja yang memiliki pembangkit listrik sendiri, sementara sisanya sangat bergantung kepada PLN. Kondisi serupa juga dialami sektor industri kimia berbasis plastik yang memiliki tingkat ketergantungan listrik PLN mencapai 90 persen. ”Kebutuhan listrik di industri plastik sangat besar. Sekitar 8 perusahaan petrokimia setidaknya membutuhkan pasokan listrik sebesar 240 MW per hari,” kata Budi.
Pasokan listrik PLN juga memegang peranan yang penting dalam proses produksi industri semen nasional. "Listrik kita dipasok dari PLN, kalau PLN-nya mati karena batu baranya tidak ada ya pabrik semennya ikut mati. Pokoknya kalau listrik mati, ya pabrik semen mati," kata Urip.

Tidak Masuk Akal
Sementara itu, pengusaha yang juga Ketua Ikatan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Palar Batubara, mengatakan krisis listrik yang terjadi saat ini luar biasa dan tidak masuk akal. Alasan yang disampaikan PLN maupun pemerintah hanya untuk melempar tangung jawab atas cuaca buruk karena tidak dapat mengangkut bahan batu bara.
Batu bara itu juga diangkut melalui laut. Kesalahannya adalah mengatur distribusi yang tidak becus. Para pengusaha batu bara hanya memikirkan uang untuk kantongnya sendiri dan tidak ada koordinasi dan ketegasan siapa yang harus bertanggung jawab. ”Tampaknya Presdien Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla harus nongkrong di terminal pengumpul batu bara seperti dilakukan ketika meninjau kasus Lumpur Sidiarjo,” kata Palar.
Di bagian lain, Koordinator Working Group on Power Sector Restructuring (WGPSR) Fabby Tumiwa mengatakan PT PLN (Persero) didesak melakukan evaluasi terhadap mekanisme penyediaan stok batu bara, terutama dalam hal pengangkutan. ”PLN harus berani meminta pada pemerintah untuk dapat menggunakan kapal asing mengangkut pasokan batu baranya,” katanya yang dihubungi SH, Jumat (22/2) pagi.
Fabby menilai pemerintah juga perlu mempertimbangkan kembali izin penggunaan kapal-kapal asing khususnya sektor strategis. Gangguan cuaca dalam beberapa bulan terakhir diakui Fabby sangat menghambat kemampuan PLN dalam mengamankan ketersediaan batu bara.
Saat ini, PLN hanya menggunakan kapal tongkang untuk mengangkut batu bara. ”Apalagi dengan cuaca seperti ini. Mereka akan sangat kesulitan,” tambahnya. Masalah pengadaan batu bara juga sempat muncul dan berujung pada pencopotan salah seorang direksi PLN.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menegaskan krisis listrik yang terjadi lebih disebabkan faktor kegiatan operasional khususnya pengangkutan batu bara. ”Ini (krisis) tidak berkaitan dengan kebijakan makro ketersediaan energi nasional,” katanya, Kamis (21/2). Masalah gangguan ketersediaan batu bara juga sempat terjadi beberapa waktu lalu yang menyebabkan dicopotnya salah satu direksi PLN.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Pembangkit dan Energi Primer PLN Fahmi Mochtar menjelaskan pasokan bahan bakar pengganti batu bara beberapa pembangkit PLN mulai berdatangan. Tambahan bahan bakar bisa membantu memperpanjang umur operasi pembangkit yang sudah kritis.
”Di PLTGU Muara Karang saat ini sedang unloading 20.000 KL BBM jenis MFO (marine fuel oil). Tambahan ini bisa memperpanjang stok BBM yang seharusnya habis hari ini menjadi 9 hari, selanjutnya akan tiba 18.000 KL MFO lagi yang bisa menambah 6 hari.” katanya di sela-sela penjelasan bersama Menteri ESDM.
Pasokan juga tiba untuk PLTGU Muara Tawar yang telah disuplai 34.000 KL MFO. Suplai ini memperpanjang stok bahan bakar yang tinggal 3 hari jadi 6 hari. ”Selanjutnya akan tiba lagi 35.000 KL sehingga umurnya bertambah 6 hari lagi. Jadi semuanya rata-rata 15 hari, sudah bisa agak lega,” katanya. (kbn)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003