Selasa, 05 Februari  2008

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5815

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Presiden Minta Data BPS Dipercaya


Oleh
Dina Sasti Damayanti

Jakarta-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa peran Badan Pusat Statistik (BPS) sangat penting oleh karena data statistik yang dihasilkan BPS merupakan rujukan dan pedoman bagi pemerintah dalam memformulasikan kebijakan dan merencanakan pembangunan baik nasional, sektoral, dan regional.
 Oleh karena itu, Presiden meminta agar dalam menjalankan tugasnya seluruh jajaran BPS melaksanakannya secara akurat, akuntabel, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Presiden menambahkan data yang dihasilkan BPS juga sangat penting untuk evaluasi, koreksi, dan perbaikan kebijakan, rencana, program, serta anggaran yang akan pemerintah keluarkan, bahkan data yang dihasilkan BPS, bisa dijadikan bahan untuk telaah dan debat publik untuk tujuan mengkoreksi dan menyempurnakan pembangunan yang sedang berjalan.
“Saya adalah seorang yang percaya pada data BPS, dan menggunakan sebaik-baiknya atau yang dihasilkan BPS. Kalau ada catatan-catatan kecil saya, semata untuk meningkatkan kinerja, kualitas, dan capaian yang lebih baik bagi BPS,” kata Presiden saat membuka Rapat Teknis Nasional BPS tahun 2008 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/2).
Presiden kemudian memberikan contoh, bagaimana pentingnya data BPS sebagai landasan pemerintah untuk mengambil kebijakan. Pada tahun 2006 lalu misalnya, data BPS mengungkapkan bahwa tingkat inflasi di Indonesia naik dan angka kemiskinan meningkat. Menurut Presiden, hasil survei BPS ini bisa ia terima karena logis, mengingat beberapa bulan sebelumnya ada kenaikan harga BBM.
Presiden mengakui kebijakan untuk menaikkan harga BBM pada saat itu merupakan pilihan pahit yang harus diambil karena melonjaknya harga minyak mentah dan BBM di tingkat dunia. Pemerintah harus melakukan langkah untuk mengatasi masalah tersebut.
Tahun 2007 kemarin, BPS kembali melakukan survei dan ternyata angkanya membaik, baik dari segi inflasi, kemiskinan, maupun pengangguran. Semua ini adalah hasil dari kerja keras segenap pihak.
Lebih jauh, Presiden mengatakan, seandainya pada tahun 2005 lalu, pemerintah tidak mengambil keputusan yang memiliki risiko politik dan sosial yang tinggi, sama halnya dengan jika pada saat ini pemerintah tidak berbuat sesuatu, maka hampir pasti APBN kita akan kolaps.
“Langkah buruk perlu diambil pemerintah demi penyelamatan ke depan. Saya sebagai pengambil keputusan puncak, mengharapkan data BPS benar, baik angka yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, rapor biru atau rapor merah,” kata Presiden.
Jangan sampai kalau data hasilnya baik, lantas memuji BPS, tapi manakala dalam kurun waktu tertentu hasil survei jelek, kita marah dan menuduh BPS tidak objektif, dapat tekanan atau meragukan atau tiba-tiba pakai data pihak lain yang tidak kita gunakan karena negara kita puluhan tahun memakai BPS dan kita ingin konsisten, tidak ingin berpolitik dengan data dan menghormati proses yang sistemik dan akuntabel.
Presiden mengharapkan agar kedepannya BPS bisa melanjutkan survei yang bernilai strategis, seperti survey angkatan kerja nasional, biaya hidup, dan perekonomian nasional, karena permasalahan kemiskinan, pengangguran dan daya beli masyarakat kita adalah masalah yang fundamental.
Sementara itu, Kepala BPS Rusman Heriawan menyatakan tugas penting BPS pada tahun 2008 ini adalah pelaksanaan survei yang terkait dengan sosial ekonomi nasional dan ketenagakerjaan, survei yang terkait dengan perkembangan harga untuk menghitung angka inflasi, persiapan sensus penduduk 2010, pendataan potensi desa, dan lain-lain.
Menurut Rusman, survei yang terkait dengan sosial ekonomi nasional akan dilaksanakan pada bulan Maret ini untuk memproses kondisi masyarakat, termasuk tingkat kemiskinan. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003