|
Rezeki Pedagang
Buku Murah Kwitang Diuji?
Oleh
Gloria Natalia
JAKARTA - Siapa mahasiswa yang tidak kenal bursa buku murah di
kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat? Entah sudah berapa banyak
sarjana yang lahir karena memanfaatkan buku murah di sana. Kini
Pemda Jakarta akan menggusur bursa buku murah itu.
Kwitang menyajikan berbagai jenis buku, dari buku untuk Sekolah
Dasar (SD) sampai kuliah, keagamaan, hobi, dan pengetahuan umum.
Buku-buku tersebut bisa baru bisa pula bekas. Harganya pun bisa
digenjot lebih murah. Asalkan si pembeli pintar menawar.
Adalah Joni, pedagang buku yang telah berjualan di Kwitang lebih
dari 25 tahun lamanya. Ia mengenal Kwitang cukup dalam. Kwitang yang
dulu tidaklah seperti Kwitang sekarang. Pada awalnya tempat
berjualan buku bekas bukan di Kwitang. Sayangnya ia tidak ingat kala
itu tahun berapa. ”Pokoknya era Harmoko masih pimpin Departemen
Penerangan,” tuturnya.
Pada 1979 Kwitang mulai ramai disesaki para pedagang buku bekas.
Awalnya baru 40 pedagang. Mereka berjualan di depan Gedung GPI (Gabungan
Pengusaha Indonesia) yang saat ini beralih menjadi Gedung Millenium.
Waktu bergulir, banyak orang ikut berdagang di sana. Ramailah
kawasan itu. Jenis buku pun bertambah. Tidak hanya buku-buku
pengetahuan umum yang dijual bekas. Buku-buku bertema spesifik juga
ada. Kualitasnya pun masih baru.
Maraknya pedagang membuat wilayah perdagangan semakin luas. Terus
mereka merambah jalan raya. Sampai sekarang sudah setengah badan
jalan dijadikan tempat berdagang.
Atas nama mengganggu ketertiban umum, Kwitang menjadi sasaran empuk
Pemda Jakarta untuk menggusur para pedagang buku. Pemda Jakarta
pernah merelokasi para pedagang buku ke Rawasari. Namun, di sana
para pedagang tidak betah. Tempat yang tidak strategis merupakan
faktor utama sepinya pembeli. Di Rawasari mereka hanya bertahan enam
bulan. Satu per satu mulai meninggalkan Rawasari dan kembali lagi ke
Kwitang.
Selang beberapa tahun, para pedagang kembali kena relokasi. Tujuan
relokasi yakni di Kwini, Senen. Di sana penghasilan mereka turun
drastis. Pembeli hanya sedikit. Karena tak tahan dengan kondisi
tersebut, para pedagang pun kembali lagi ke Kwitang.
Dua kali relokasi pernah dirasakan Pak Item (60), pedagang yang
telah jual beli buku di Kwitang selama 20 tahun. Pak Item termasuk
pedagang buku yang telah lama berjualan. Jenis buku-buku yang
dijualnya adalah pengetahuan umum. Ia menggelar dagangannya sejak
jam sembilan pagi. Selama delapan jam berjualan, Pak Item bisa
melayani 50 pengunjung, bahkan bisa lebih. Belum tentu si pengunjung
membeli buku-buku jualannya.
Rupanya tidak hanya relokasi yang harus dicicip para pedagang buku
Kwitang. Mereka pun harus rela main kucing-kucingan dengan para
petugas keamanan dan ketertiban yang diturunkan dari pemerintah
daerah. Pedagang buku yang doyan makan ini seolah sudah biasa
menghadapi begitu seringnya penggusuran. Yohanes ingat ketika era
Soeharto berkuasa para pedagang di Kwitang kerap kali digusur.
Dagang di mana saja boleh asalkan jangan di Kwitang.
”Sejak 1991 kita udah main kucing-kucingan sama petugas. Kalau udah
lihat petugas dari jauh, buku-buku diikat saja. Bawa pulang terus
tidur. Besok kalau situasi aman jualan lagi. Udah biasa,” ungkap
Yohanes (38).
Perasaan ”biasa-biasa saja” saat digusur juga dirasakan Ucok (32).
Ayah dua anak ini menyatakan hampir tiap tahun terjadi penggusuran.
Informasi penggusuran dari masyarakat menjadi bantuan yang amat
berarti baginya untuk siap-siap lari.
”Masyarakat juga bantu. Kalau bus kota lewat nanti ada yang kasih
tahu, tuh di sana ada penggusuran. Di sini nggak ada yang jadi
informan,” ujarnya sembari membereskan buku.
Ucok telah menghabiskan waktu 10 tahun berdagang buku di Kwitang.
Dalam sehari ia bisa melayani minimal sepuluh pengunjung. Baginya,
tidak ada kata sepi di Kwitang. Pegawai kantor yang pulang sore hari
dan melewati Jalan Kwitang Raya pastilah menengok buku-buku dahulu.
Jika banyak pembeli ia bisa memperoleh Rp 100.000 per hari.
Laki-laki asal Tapanuli yang sudah berdagang sejak lulus SMU ini
amat menggantungkan hidup keluarganya dari keuntungan berdagang buku.
Belum Mendengar
Bursa buku murah Kwitang kembali akan menjadi sasaran relokasi.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pusat berencana memindahkan bursa buku
murah karena lokasi berdagang saat ini mengganggu kegiatan
masyarakat. Rencananya relokasi itu menuju beberapa tempat: bekas
markas Kodim di Jalan Kramat Lontar, Jalan Prapatan Senen Nomor 24,
Jalan Senen Raya Nomor 42, Jalan Prapatan Nomor 16 dan lahan bekas
Depo PPD di Jalan Kramat Raya.
Banyak pedagang buku Kwitang ternyata belum mendengar rencana
relokasi tersebut. Saat diberi tahu ada informasi rencana relokasi,
mereka tenang-tenang saja. Ada pula yang sudah mengetahui informasi
relokasi dari surat kabar. Bagi mereka, jika belum ada laporan resmi
dari kantor camat langsung kepada para pedagang, berarti itu sekadar
wacana yang tak perlu diperdebatkan. Beberapa komentar keluar dari
mulut Joni, Ucok, dan Yohanes soal rencana relokasi.
”Kalau mau direlokasikan itu hak pemerintah, kan? Relokasinya
tempatnya yang strategis. Jangan seperti kejadian di Barito, itu
sama saja dengan membunuh. Pindahkan jangan seperti masukkan dalam
tong sampah,” kata Ucok.
Rencana relokasi mengkhawatirkan beberapa pembeli buku. Jessica
(19), misalnya. Mahasiswa Universitas Trisakti Jurusan Arsitektur
ini sudah mendengar rencana relokasi Kwitang beberapa hari yang lalu.
Sejak kelas 2 SMU ia sudah mengonsumsi buku-buku Kwitang. Baginya
Kwitang merupakan tempat belanja buku sekolah dan kuliah yang murah.
Di tempat ini pula ia bisa membeli novel-novel karya penulis
Indonesia dengan harga Rp 15.000. (nor)
|
|