Selasa, 29 Januari  2008

J A B O T A B E K

No.  5809

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Rezeki Pedagang Buku Murah Kwitang Diuji?



Oleh
Gloria Natalia

JAKARTA - Siapa mahasiswa yang tidak kenal bursa buku murah di kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat? Entah sudah berapa banyak sarjana yang lahir karena memanfaatkan buku murah di sana. Kini Pemda Jakarta akan menggusur bursa buku murah itu.

Kwitang menyajikan berbagai jenis buku, dari buku untuk Sekolah Dasar (SD) sampai kuliah, keagamaan, hobi, dan pengetahuan umum. Buku-buku tersebut bisa baru bisa pula bekas. Harganya pun bisa digenjot lebih murah. Asalkan si pembeli pintar menawar.
Adalah Joni, pedagang buku yang telah berjualan di Kwitang lebih dari 25 tahun lamanya. Ia mengenal Kwitang cukup dalam. Kwitang yang dulu tidaklah seperti Kwitang sekarang. Pada awalnya tempat berjualan buku bekas bukan di Kwitang. Sayangnya ia tidak ingat kala itu tahun berapa. ”Pokoknya era Harmoko masih pimpin Departemen Penerangan,” tuturnya.
Pada 1979 Kwitang mulai ramai disesaki para pedagang buku bekas. Awalnya baru 40 pedagang. Mereka berjualan di depan Gedung GPI (Gabungan Pengusaha Indonesia) yang saat ini beralih menjadi Gedung Millenium. Waktu bergulir, banyak orang ikut berdagang di sana. Ramailah kawasan itu. Jenis buku pun bertambah. Tidak hanya buku-buku pengetahuan umum yang dijual bekas. Buku-buku bertema spesifik juga ada. Kualitasnya pun masih baru.
Maraknya pedagang membuat wilayah perdagangan semakin luas. Terus mereka merambah jalan raya. Sampai sekarang sudah setengah badan jalan dijadikan tempat berdagang.
Atas nama mengganggu ketertiban umum, Kwitang menjadi sasaran empuk Pemda Jakarta untuk menggusur para pedagang buku. Pemda Jakarta pernah merelokasi para pedagang buku ke Rawasari. Namun, di sana para pedagang tidak betah. Tempat yang tidak strategis merupakan faktor utama sepinya pembeli. Di Rawasari mereka hanya bertahan enam bulan. Satu per satu mulai meninggalkan Rawasari dan kembali lagi ke Kwitang.
Selang beberapa tahun, para pedagang kembali kena relokasi. Tujuan relokasi yakni di Kwini, Senen. Di sana penghasilan mereka turun drastis. Pembeli hanya sedikit. Karena tak tahan dengan kondisi tersebut, para pedagang pun kembali lagi ke Kwitang.
Dua kali relokasi pernah dirasakan Pak Item (60), pedagang yang telah jual beli buku di Kwitang selama 20 tahun. Pak Item termasuk pedagang buku yang telah lama berjualan. Jenis buku-buku yang dijualnya adalah pengetahuan umum. Ia menggelar dagangannya sejak jam sembilan pagi. Selama delapan jam berjualan, Pak Item bisa melayani 50 pengunjung, bahkan bisa lebih. Belum tentu si pengunjung membeli buku-buku jualannya.
Rupanya tidak hanya relokasi yang harus dicicip para pedagang buku Kwitang. Mereka pun harus rela main kucing-kucingan dengan para petugas keamanan dan ketertiban yang diturunkan dari pemerintah daerah. Pedagang buku yang doyan makan ini seolah sudah biasa menghadapi begitu seringnya penggusuran. Yohanes ingat ketika era Soeharto berkuasa para pedagang di Kwitang kerap kali digusur. Dagang di mana saja boleh asalkan jangan di Kwitang.
”Sejak 1991 kita udah main kucing-kucingan sama petugas. Kalau udah lihat petugas dari jauh, buku-buku diikat saja. Bawa pulang terus tidur. Besok kalau situasi aman jualan lagi. Udah biasa,” ungkap Yohanes (38).
Perasaan ”biasa-biasa saja” saat digusur juga dirasakan Ucok (32). Ayah dua anak ini menyatakan hampir tiap tahun terjadi penggusuran. Informasi penggusuran dari masyarakat menjadi bantuan yang amat berarti baginya untuk siap-siap lari.
”Masyarakat juga bantu. Kalau bus kota lewat nanti ada yang kasih tahu, tuh di sana ada penggusuran. Di sini nggak ada yang jadi informan,” ujarnya sembari membereskan buku.
Ucok telah menghabiskan waktu 10 tahun berdagang buku di Kwitang. Dalam sehari ia bisa melayani minimal sepuluh pengunjung. Baginya, tidak ada kata sepi di Kwitang. Pegawai kantor yang pulang sore hari dan melewati Jalan Kwitang Raya pastilah menengok buku-buku dahulu. Jika banyak pembeli ia bisa memperoleh Rp 100.000 per hari. Laki-laki asal Tapanuli yang sudah berdagang sejak lulus SMU ini amat menggantungkan hidup keluarganya dari keuntungan berdagang buku.

Belum Mendengar
Bursa buku murah Kwitang kembali akan menjadi sasaran relokasi. Pemerintah Kota (Pemkot) Pusat berencana memindahkan bursa buku murah karena lokasi berdagang saat ini mengganggu kegiatan masyarakat. Rencananya relokasi itu menuju beberapa tempat: bekas markas Kodim di Jalan Kramat Lontar, Jalan Prapatan Senen Nomor 24, Jalan Senen Raya Nomor 42, Jalan Prapatan Nomor 16 dan lahan bekas Depo PPD di Jalan Kramat Raya.
Banyak pedagang buku Kwitang ternyata belum mendengar rencana relokasi tersebut. Saat diberi tahu ada informasi rencana relokasi, mereka tenang-tenang saja. Ada pula yang sudah mengetahui informasi relokasi dari surat kabar. Bagi mereka, jika belum ada laporan resmi dari kantor camat langsung kepada para pedagang, berarti itu sekadar wacana yang tak perlu diperdebatkan. Beberapa komentar keluar dari mulut Joni, Ucok, dan Yohanes soal rencana relokasi.
”Kalau mau direlokasikan itu hak pemerintah, kan? Relokasinya tempatnya yang strategis. Jangan seperti kejadian di Barito, itu sama saja dengan membunuh. Pindahkan jangan seperti masukkan dalam tong sampah,” kata Ucok.
Rencana relokasi mengkhawatirkan beberapa pembeli buku. Jessica (19), misalnya. Mahasiswa Universitas Trisakti Jurusan Arsitektur ini sudah mendengar rencana relokasi Kwitang beberapa hari yang lalu. Sejak kelas 2 SMU ia sudah mengonsumsi buku-buku Kwitang. Baginya Kwitang merupakan tempat belanja buku sekolah dan kuliah yang murah. Di tempat ini pula ia bisa membeli novel-novel karya penulis Indonesia dengan harga Rp 15.000. (nor)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003