|
BUDAYA
Antologi Puisi
berhuruf Braile:
”Saya Hanya Debu yang Melukis
di Jalan itu”
”Aku hanya anak kecil, mama. Kakiku kecil, tubuhku kecil.
Aku hanya ingin mengerti semesta, dengan caraku sendiri.
Aku hanya punya mimpi...”
Jakarta - Ungkapan itu dilontarkan Zeffa Yurihana dari puisinya yang
tergabung bersama ayahanda dan ibundanya, Irwan Dwi Kustanto dan
Siti Atmamiah. Zeffa mengisi acara antologi ”Angin pun Berbisik”.
Sebuah pembacaan yang menyentuh karena puisi-puisi itu punya makna
sebagai penghubung kasih antara Irwan dengan istrinya. Irwan yang
tuna netra tinggal dan bekerja di Jakarta, sedangkan sang istri jauh
darinya.
Keduanya berkomunikasi dan terlibat dialog baik melalui short
message system dan hubungan telepon yang intens dengan medium
puisi-puisi mereka. Antologi ini yang kemudian disambut baik oleh
berbagai lembaga mulai dari Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Komite
Sastra Dewan Kesenian Jakarta (KJ) Yayasan Mitra Netra (YMN) dan
Voice of Human Rights (VHR) yang launchingnya digelar di Gedung
Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (23/1).
Acara yang diselenggarakan untuk peringatan Hari Braile yang jatuh
pada 4 Januari lalu serta dua tahun gerakan Seribu Buku untuk
Tunanetra ini, memang berisikan serangkaian pertunjukan seni baik
musik, teater serta pembacaan puisi.
Ungkapan yang rendah hati dari Irwan pun terlantun, ”Saya bukanlah
penyair, Angin pun Berbisik adalah kata-kata yang saya coba
kumpulkan untuk mengekspresikan perasaan, hasrat dan semua yang
pernah tumpah karena cinta yang mengalir dari kekasih, keluarga,
sahabat, alam dan yang mungkin tersibak oleh huruf. Saya hanya lah
debu yang melukis kaki-kakinya pada jalan itu.”
Ada juga musikalisasi dari Ricko yang berkuliah di Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung dan Dody yang adalah mahasiswa
jurusan Seni Musik di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Keduanya
adalah tunanetra, Dody yang didaulat sebagai penyanyinya membacakan
sebuah puisi karya Irwan : Karena sepi memanggil, karena rindu
menderu, karena cinta melanda.
”Saya mendapatkan kehormatan membaca puisi yang sudah lama saya
tinggalkan,” ujar Fajrul Rahman, penyair yang puisinya menjadi salah
satu unggulan Khatulistiwa Literay Awards dan rajin membaca puisi
semasa menjadi aktivis.
Sejak januari 2006, Mitra Netra mengundang penulis dan penerbit
bekerjasama. Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra ini berawal dari
para artis seperti Dewi Lestari, Rieke Dyah Pitaloka dan artis
lainnya yang dikenal sebagai penulis. Ketika itu memang ditawarkan
untuk menjadikan buku-buku yang populer di masyarakat untuk
diterbitkan juga dalam huruf braile. Kini, buku ”antologi pertama
karya sebuah keluarga ini” diterbitkan dalam huruf Braile hingga
akhirnya karya Irwan, seorang bapak yang tunanetra membuat
kolaborasi puisi dengan keluarganya.
Irwan juga adalah Wakil Direktur Mitra Netra, yang berpuisi dan
menghasilkan buku untuk pembacanya, masyarakat biasa atau pun buku
dalam bentuk huruf Braile untuk pembaca tuna netra. ”Seperti angin,
saya pun ingin dapat berbagi kepada sesama, untuk itu buku ”angin
pun berbisik” saya dedikasikan untuk mendorong dan mempercepat
gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra ini,” ujarnya.
Dengan jari mereka telah menjadi kan dirinya penerus gerakan
perjuangan Louis Braile, seorang tunanetra asal Prancis, dengan buku
mereka memandang dan merambah dunia. Dengan menulis huruf Braile,
mereka juga berbagi tentang dunia, imajinasi dan cara pandang mereka.
(sihar ramses simatupang)
|
|