|
UKM
Bordir Bangil
di Antara Pesaing dan Dampak Lumpur
Oleh
Chusnun Hadi
PASURUAN-Lumpur Sidoarjo tidak hanya memukul pelaku UKM (usaha
kecil dan menengah) di daerah Sidoarjo, tetapi juga berimbas
pada pelaku UKM di Pasuruan. Seperti yang dialami oleh perajin
Bordir Bangil, sempat terpuruk karena omzetnya anjlok hingga
70 persen. Untungnya para perajin bisa bangkit lagi meski
harus tertatih-tatih.
Kami ingin mengembalikan kejayaan Bordir Bangil. Kami harus
bangkit lagi kalau ingin tetap bertahan,C kata Hj Faiz
Yunianti, pemilik pusat busana Faizah Bordir, Jalan Bader
Kalirejo, Bangil, Pasuruan.
Kejayaan yang dimaksud oleh Faiz adalah saat awal-awal
ditetapkannya Bangil sebagai Kota Bordir pada 11 September
2005 lalu. “Saat itu Bangil benar-benar menjadi pusat
perdagangan berbagai pakaian dan aksesori dengan motif bordir.
Lebih dari 250 perajin bordir di Bangil dapat menyerap ribuan
tenaga kerja,” tambahnya.
Tetapi sejak terjadi semburan lumpur Sidoarjo, yang berlanjut
hingga terputusnya jalur tol, omzet para perajin bordir di
Bangil menurun drastis. Bahkan beberapa perajin terpaksa
menutup usahanya karena produknya tidak laku lagi. “Sebab
mayoritas konsumen kami adalah dari Surabaya, baik dipakai
sendiri maupun dikirim kembali ke luar pulau,” tambahnya.
Tetapi Faiz tidak ingin terus meratapi lesunya bisnis ini.
Sebab selama ini UKM sudah terbukti menjadi penyelamat ekonomi.
Oleh karena itu, pihaknya terus bertahan hidup dengan
melakukan berbagai kegiatan di luar Pasuruan. “Kami harus
menjemput bola, karena pada dasarnya di luar Pasuruan banyak
orang yang berminat dengan bordir kami,” ungkapnya.
Ia merasa bangga karena peran pemerintah sangat besar dalam
melakukan recovery para pelaku UKM, khususnya perajin bordir
di Bangil. Peran tersebut di antaranya memberikan kesempatan
pada perajin bordir Bangil ikut berbagai even pameran di
Jakarta. “Selama satu bulan kami pameran di Jakarta dalam even
Jakarta Expo, pameran Industri dan Perdagangan yang digelar
Depdag, serta pameran khusus UKM korban lumpur Sidoarjo,”
paparnya.
Tersaingi Produk China
Mengapa Faizahh Bordir masih bisa bertahan? Hal itu karena ia
memiliki pelanggan di Malaysia, Singapura, dan Uni Emirat
Arab. Secara berkala, Faiz harus mengirim produk bordirnya
sesuai dengan pesanan. “Volume ekspornya memang tidak terlalu
besar, tetapi pesanan mereka rata-rata jenisnya dari bahan
sutera, sehingga harganya cukup mahal,” jelas Faiz.
“Perkenalan” Faiz dengan pembeli dari luar negeri, karena pada
tahun 2003 lalu ia pernah membuka stan pameran di
negara-negara tersebut. “Ekspor pakaian bordir ke Singapura
dan Malaysia untuk produk butik menangah ke atas. Jumlahnya
tidak terlalu banyak, antara 200 hingga 300 potong, tetapi
harganya cukup lumayan. Sedangkan untuk ke UEA adalah pakaian
dengan jenis menengah ke bawah,” jelasnya.
Sedangkan untuk pasar dalam negeri, produk dari Faizah Bordir
sudah menembus hampir seluruh kota besar di Indonesia, seperti
Jakarta, Bandung, Bali, Yogyakarta, Semarang dan lain-lain.
Bahkan dalam benaknya, Faiz berniat akan membuka rumah-rumah
busana khusus bordir di kota-kota tersebut.
Sayangnya, saat ini produknya mulai tersaingi oleh produk dari
China dan Hong Kong. Sebab dari sisi harga produk pakaian
bordir dari China dan Hong Kong sangat murah. “Kami sampai
heran, mengapa mereka bisa menjual dengan harga yang murah
seperti itu. Padahal kalau dihitung dari bahan-bahannya, harga
yang dipatok sangat tidak masuk akal,” paparnya.
Persaingan itu membuat pasokan Bordir Bangil ke pusat
perkulakan Jakarta mulai menurun. Sebelumnya, lanjut Faiz,
dirinya merupakan salah satu pemasok utama di pusat
perbelanjaan Mangga Dua Jakarta. Ia secara rutin mengirimkan
kerudung bordir sebanyak 3.500 kodi dalam waktu dua bulan dan
kebaya sebanyak 6.000 potong untuk sekali kirim.
Tetapi saat ini jumlahnya terus menurun, karena pusat
perkulakan tersebut juga diserbu produk bordir dari China dan
Hong Kong. “Terpaksa kami harus mengurangi jumlah karyawan
tetap. Kalau dulu lebih dari 100 orang, kini hanya 75 orang,”
tandasnya.
Untuk memperluas pasar, Faizah Bordir juga telah membuka pusat
bordir di Jakarta untuk mendekatkan diri dengan kosumen di
Jakarta. Pusat bordir yang berdiri di Jalan Benda Raya 35-37,
Kemang, Jakarta Selatan itu merupakan cabang dari Bordir
Bangil yang diharapkan semakin memperkenalkan Bordir Bangil di
Jakarta.
Hanya saja, Faizah Bordir masih tetap mempertahankan sekitar
20 subusaha bordir di Bangil. Masing-masing subusaha memiliki
20 orang pekerja. “Kalau ada pesanan yang jumlahnya cukup
besar, kami mengirim bahan untuk dikerjakan di subusaha.
Bahkan ada subusaha yang kami bantu mesin jahit dan mesin
bordir,” paparnya.
Harga Bahan Naik
Setelah dapat mengatasi satu masalah, muncul masalah lainnya.
Saat pasar lesu sebagai dampak lumpur Sidoarjo lambat laun
dapat diatasi, muncul persaingan ketat dengan produk China dan
Hong Kong. Saat persaingan tersebut bisa ditekan, kini muncul
masalah baru, yakni kenaikan harga benang dan kain. “Rasanya
masalah selalu datang pada para pelaku UKM seperti kami ini,”
terangnya dengan nada lemah.
Sebelumnya, ia berharap di tahun 2008 ini usahanya terus
meningkat setelah ia berhasil mengatasi berbagai masalah yang
mendera. “Pada awal tahun ini, kami langsung dihadapkan pada
kenaikan harga bahan, baik benang maupun kain,” ungkapnya.
Kenaikan harga bahan tersebut membuat dirinya akan menaikkan
harga produknya di pasaran. Tetapi risikonya, daya beli
masyarakat semakin turun, dan pada akhirnya omzetnya kembali
turun. “Kami bingung mengatasinya,” sergahnya.
Meskipun demikian, pihaknya tetap berusaha bertahan atas usaha
yang telah dirintisnya sejak tahun 1997 lalu itu. Bahkan sikap
Pemkab Pasuruan yang terus mengampanyekan Bangil sebagai Kota
Bordir akan menjadi bordir produk Bangil semakin dikenal
masyarakat. “Kami bersyukur akhirnya Pemerintah Daerah
Pasuruan benar-benar menjadikan Bangil sebagai Kota Bordir,
kota ini semakin dikenal orang karena bordirnya,” paparnya.
Oleh karena itu, Faiz merasa belum lengkap jika di kota ini
belum dibangun sentra industri bordir. Melihat dari pengalaman
selama ini, gairah pengusaha akan terus meningkat saat mereka
berada di sentra industri, seperti sentra industri sepatu di
Wedoro, Sidoarjo dan sentra industri tas dan koper di
Tanggulangin, Sidoarjo. n
|
|