Sabtu, 05 Januari  2008

O P I N I

No.  5789

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

KONTAK PEMBACA

 

Usut Tuntas Pejabat yang Mengobral Aset Konglomerat

Redaksi Yth,
Menarik sekali pernyataan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli yang jujur mengakui bahwa di era pemerintahan Gus Dur, pihaknya enggan menjual murah aset-aset konglomerat yang dalam penguasaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Sayangnya di era pemerintahan berikutnya justru aset-aset tersebut akhirnya diobral murah oleh BPPN, tentu atas restu pemerintah.
Oleh sebab itu, keinginan Rizal Ramli (yang sempat hadir di Gedung Bundar) agar Kejaksaan Agung bukan hanya memeriksa dirinya, namun juga memangil pejabat saat ini yang waktu itu dinilai memiliki andil dalam pengambilan keputusan tersebut, yaitu Menko Perekonomian Budiono.
Harapan Rizal Ramli tentu patut mendapat apresiasi, apalagi kasus BLBI yang sebenarnya sudah jelas, dalam pemerintahan Yudhoyono saat ini malah semakin tidak jelas.
Sebagai ilustrasi, penjualan saham BCA merupakan kisah tragis penjualan asset bekas milik konglomerat oleh BPPN waktu itu. Seperti diketahui, BCA hanya dijual Rp 5 triliun padahal pada saat yang sama bank swasta terbesar itu memiliki hak tagih kepada pemerintah sebesar Rp 40 triliun. Dalam perkembangannya, kini bank tersebut memiliki nilai Rp 95 triliun.
Demikian besar potensi kerugian yang dialami oleh pemerintah, dan juga konglomerat pemilik asal asset tersebut. Sudah sepantasnya penegak hukum mencari siapa saja pejabat-pejabat yang paling bertanggung jawab atas obral aset murah secara sembrono ini. Bukan tidak mungkin, terjadi kolusi dan nepotisme antara pejabat dengan konglomerat hitam yang gemar mengambil aset-aset BPPN. Inilah yang seharusnya dauber-uber oleh Kejaksaan Agung.
Apalagi media massa sering memberitakan informasi bahwa ada konglomerat hitam yang membeli aset konglomerat lain dengan biaya minimal, namun ogah membayar kewajiban-kewajiban kepada krediturnya. Ini sangat memprihatinkan karena dengan demikian konglomerat hitam tersebut tidak bedanya dengan mengobrak-abrik bangunan investasi nasional yang dengan susah payah sedang ditata oleh pemerintahan

Yudhoyono.
Teguh Bangun Nusantara, Koordinator
BLBI Monitor Network, Jakarta






Bencana Visi Kebangsaan


Redaksi Yth,
Bangsa ini memang dikenal pantang menyerah dan tak pernah pasrah. Di tengah deraan dan terpaan bencana yang silih berganti, harapan dan kepedulian atas kelestarian seni budayanya tak juga susut seperti arus banjir yang melumat harta benda mereka. Hal ini terlihat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi korban bencana di Jawa Timur, tepatnya di Wonogiri.
Kedatangan Presiden disambut dengan tari Bedoyo Mustiko Retno yang merupakan tari yang menggambarkan salah satu upacara penolakan terhadap berbagai bencana agar tidak datang kembali. Betapa di tengah bencana, masih tersisa kesadaran masyarakat untuk mengekspresikan harapannya melalui tari sebagai produk budaya leluhurnya. Namun di balik itu, terkandung harapan yang luar biasa
Tentu harapan ini tidaklah ringan, apalagi di tengah berbagai bencana melanda negeri ini. Kesadaran bisa luntur apabila derita ini tak kunjung usai. Namun demikian, beban ini akan terkurangi beratnya apabila semua pihak mau bekerjasama untuk kepentingan bangsa.
Hal inilah yang semakin langka belakangan ini akibat orientasi kekuasaan yang lebih mengemuka. Masing-masing berbicara untuk memenangkan kepen-tingannya tanpa visi kebangsaan yang mengharuskan kebersamaan.
Para tokoh (ketua) partai politik mulai berkampanye untuk kepentingan partainya, bukan kepentingan bangsa. Padahal eksistensi mereka ditentukan sepenuhnya oleh rakyat, bukan oleh kekayaan dan jabatannya. Karena itu, di tengah bencana dan transisi ini dibutuhkan kebersamaan untuk rakyat. Kalau tidak, bencana ini akan tambah berat dan partai politik akan menjadi bagian dari bencana itu. Semoga tidak.

Sugiyono
Jl Kemang Selatan Raya, Kemang,
Jakarta Selatan

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003