|
OTOMOTIF
Balapan Produksi Kendaraan
Ramah Lingkungan
Jakarta-Di kawasan Asean, Thailand merupakan negara yang
paling maju dalam industri otomotif. Di sana bercokol banyak
pabrikan global yang merupakan kepanjangan tangan dari
prinsipalnya (pemegang merek). Mereka tak terlalu risau soal
mobil nasional, yang penting rakyat makmur dan investor terus
menambah investasinya.
Contohnya Toyota Motor Corporation dan Mitsubishi Motors
Corporation, Desember lalu. mengirimkan rencana produksi mobil
ramah lingkungan kepada Thailand's Board of Investment. Jika
rencana mereka disetujui, kedua perusahaan itu akan
meningkatkan investasinya di di Thailand untuk menambah
produksinya.
Ini yang tak bisa ditiru oleh pemerintah Indonesia. Bayangkan,
menurut rencana Mitsubishi akan menambah modal hingga 20
miliar yen atau setara US$179 juta, dan Toyota juga akan
mengucurkan dana segar sebesar 17 miliar yen. Mereka akan
memproduksi mobil ramah lingkungan di kisaran 100.000 unit
pertahun mulai 2010.
Mengapa ini bisa terjadi? Pasalnya, pemerintah Thailand
memberi keringanan pajak untuk produsen mobil bila produksi
dan mobil-mobilnya memenuhi syarat-syarat tertentu. Termasuk
menggunakan mesin 1.3 liter atau lebih kecil, efisiensi bahan
bakar paling sedikit 20 km/liter dan memproduksi paling
sedikit 100.000 unit per tahun.
Program ini menarik minat banyak produsen mobil. Selain Toyota
dan Mitsubishi, juga Honda, Suzuki, dan Nissan. Honda sudah
menginvestasikan 6,7 miliar yen di Thailand. Suzuki dan Nissan
diperkirakan masing-masing 9,5 miliar yen dan 5,5 miliar yen.
Progam ini juga menarik minat produsen otomotif India, Tata,
yang investasi US$ 39 juta.
Riuhnya para pabrikan berlomba membuat mobil ramah lingkungan,
membuat pemain Korea ikut ambil bagian. Hyundai-Kia Automotive
Group cukup jeli melihat hal itu dan menjadwalkan produksi
massal mobil hibrida mulai 2009.
Untuk itu mereka memilih LG Chem, perusahaan kimia terbesar
Korea Selatan untuk menjadi pemasok eksklusif baterai isi
ulang mobil hbrida. Baterai itu nanti akan dipakai mobil-mobil
hibrida Hyundai dan Kia. “Pesanan ini membuktikan keunggulan
teknologi kami dalam baterai isi ulang untuk mobil,” ungkap LG
Chem Vice Chairman Kim Ban-seok, belum lama ini.
Pasar global untuk baterai lithium polymer diperkirakan
mencapai 1, 4 triliun won (US $1,5 miliar) pada 2012, saat
produsen mobil memperluas pilihan ke model-model hibrida.
Untuk menyongsong era mobil hibrida, Mitsubishi Motors
Coporation bersama induknya, Mitsubishi Corporation,
menggandeng produsen batere GS Yuasa untuk mengembangkan
baterai lithium ion berukuran besar untuk aplikasi di mobil.
Ketiga perusahaan itu membentuk perusahaan patungan bernama
Lithium Energy Japan yang akan mulai produksi pada 2009 dengan
volume 200.000 unit pe rtahun.
(berbagai sumber/tot) |
|