|
UKM
Handoko
Konsultan Cat dari Banjarmasin
Oleh
Danang J Murdono
Banjarmasin-Toko yang menyediakan aneka cat tidak terhitung
jumlahnya di Indonesia, dari kota besar hingga pelosok bisa
dengan mudah kita jumpai. Tanpa kita sadari cat telah menjadi
kebutuhan vital manusia.
Pendek kata, seluruh permukaan benda di muka bumi ini bisa
dicat, terkecuali api. Tetapi, Sumber Tanjung Jaya yang
beralamat di Jalan Haryono MT No 12-14 Banjarmasin Kalimantan
Selatan berbeda dengan toko-toko sejenis lainnya.
Selain membeli cat, konsumen juga bisa mendapatkan konsultasi
gratis mengenai cat, langsung dari si pemilik A Handoko T
secara gratis. Tak hanya itu, Handoko juga membuka pusat
pelatihan mengecat untuk masyarakat, gratis pula. Hal inilah
yang membuat distributor Danapaint nomor wahid se- Indonesia
ini punya nilai lebih di mata konsumen.
“Saya bisa mengusir tamu yang datang ke rumah tanpa harus
mengatakannya. Cukup dengan mengecat merah ruang tamu, dijamin
si tamu tak akan betah,” kata Handoko tanpa berniat bercanda.
Dengan cat pula, Handoko bisa membuat pasangan suami-istri
cekcok, bahkan berujung ke perceraian. Kuncinya, lanjut dia,
ada di kamar tidur. “Jangan sekali-kali mengecat dinding kamar
untuk beristirahat dengan warna-warna gelap dan usahakan
memberi warna berbeda di tiap dindingnya,” terang Handoko
sambil memamerkan peranti lunak (software-red) simulasi cat
yang ada di laptop-nya kepada SH.
Debitor Sentra Kredit Kecil (SKC) BNI Banjarmasin ini sudah
sejak 1988 menjadi distributor Danapaint untuk Wilayah
Kalimantan Selatan dan Tengah. Pertama kali, Handoko mengaku
omzetnya paling kecil di antara distributor Danapaint lainnya.
“Sedikit demi sedikit, kami mulai mengevaluasi kelemahan,
karena pekerjaan distributor pada prinsipnya adalah
mendistribusikan barang. Dengan begitu saya harus ikut
memikirkan bagaimana agar barang di toko bisa terjual ke end
user,” kata pria kelahiran Banjarmasin 11 Juli 1956 yang
mengaku belajar seluk-beluk cat secara otodidak dengan membaca
buku.
Baru pada 1992 Sumber Tanjung Jaya naik menjadi nomor satu dan
bertahan hingga sekarang. Kini, 60 persen produksi Danapaint
di Indonesia dijual oleh Sumber Tanjung Jaya.
Di 1995, Handoko merambah menjadi distributor cat mobil
bertaraf internasional, Sikkens dari Akzo Nobel Belanda untuk
wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur. Selanjutnya pada
2005, Handoko memegang hak distribusi cat Jotun dari Norwegia
untuk Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah dan hanya dalam
kurun satu tahun Sumber Tanjung Jaya sudah menjadi distributor
nomor satu di Indonesia.
Belajar Bisnis
Tidak hanya merek cat kelas atas, Sumber Tanjung Jaya juga
menyediakan cat untuk kelas bawah dan menengah. Pasalnya,
Sumber Tanjung Jaya tercatat pula sebagai distributor berbagai
merek cat lokal untuk mebel, bangunan.
Handoko mengaku mulai belajar berbisnis sejak usia 10 tahun
dengan berjualan rokok asongan di dekat pangkalan becak.
Konsumennya tidak lain tukang-tukang becak. Seusai 12 tahun,
Handoko kecil berjualan es mambo di sekolah, kemudian
berkembang dengan mendistribusikannya ke desa-desa.
Pukul 5 pagi Handoko sudah mengantarkan es mambo menggunakan
boks besar ke para pedagang keliling. “Sore harinya saya
tinggal mengambil setoran dari mereka,” kata Handoko yang
hanya mengenyam pendidikan hingga SMP.
Baru pada 1980-an akhir, ayah dua anak ini memutuskan untuk
membuka toko cat dengan modal awal pemberian dari sang ayah.
Meski mendapat dukungan dari orang tua, bisnis Handoko tidak
mungkin mampu bertahan dalam waktu cukup lama, bahkan mampu
bertahan di masa krisis, jika tidak dengan menjaga kualitas
layanan dan kepercayaan baik konsumen maupun kreditor.
“Kuncinya, jangan adu harga dengan pesaing tetapi kualitas.
Tugas kita pula untuk mengedukasi konsumen untuk mengenali
kualitas cat. Jangan berpatokan pada harga per kaleng cat
semata,” katanya.
Interaksi Handoko dengan BNI dimulai pada tahun 1989, ketika
ia mengajukan kredit Rp 50 juta. Entah mengapa permohonannya
ditolak. “Saya justru diberi kredit oleh bank lain sebesar Rp
150 juta. Bagaimana tidak, omzet saya waktu itu Rp 500 juta
per bulan,” katanya.
Barulah pada 1995, Handoko memanfaatkan kredit dari BNI Rp 350
juta untuk ekspansi usaha. Waktu itu, omzet Sumber Tanjung
Jaya sudah mencapai Rp 2 miliar. Tahun ini, dengan omzet Rp 5
miliar Handoko menambah kreditnya hingga Rp 2,5 miliar yang
akan dipakai untuk membeli gudang di tujuh tempat. n |
|