Sabtu, 29 Desember  2007

E K O N O M I    &    B I S N I S

No.  5785

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

  UKM

Handoko Konsultan Cat dari Banjarmasin 

Oleh
Danang J Murdono

Banjarmasin-Toko yang menyediakan aneka cat tidak terhitung jumlahnya di Indonesia, dari kota besar hingga pelosok bisa dengan mudah kita jumpai. Tanpa kita sadari cat telah menjadi kebutuhan vital manusia.
Pendek kata, seluruh permukaan benda di muka bumi ini bisa dicat, terkecuali api. Tetapi, Sumber Tanjung Jaya yang beralamat di Jalan Haryono MT No 12-14 Banjarmasin Kalimantan Selatan berbeda dengan toko-toko sejenis lainnya.
Selain membeli cat, konsumen juga bisa mendapatkan konsultasi gratis mengenai cat, langsung dari si pemilik A Handoko T secara gratis. Tak hanya itu, Handoko juga membuka pusat pelatihan mengecat untuk masyarakat, gratis pula. Hal inilah yang membuat distributor Danapaint nomor wahid se- Indonesia ini punya nilai lebih di mata konsumen.
“Saya bisa mengusir tamu yang datang ke rumah tanpa harus mengatakannya. Cukup dengan mengecat merah ruang tamu, dijamin si tamu tak akan betah,” kata Handoko tanpa berniat bercanda.
Dengan cat pula, Handoko bisa membuat pasangan suami-istri cekcok, bahkan berujung ke perceraian. Kuncinya, lanjut dia, ada di kamar tidur. “Jangan sekali-kali mengecat dinding kamar untuk beristirahat dengan warna-warna gelap dan usahakan memberi warna berbeda di tiap dindingnya,” terang Handoko sambil memamerkan peranti lunak (software-red) simulasi cat yang ada di laptop-nya kepada SH.
Debitor Sentra Kredit Kecil (SKC) BNI Banjarmasin ini sudah sejak 1988 menjadi distributor Danapaint untuk Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah. Pertama kali, Handoko mengaku omzetnya paling kecil di antara distributor Danapaint lainnya.
“Sedikit demi sedikit, kami mulai mengevaluasi kelemahan, karena pekerjaan distributor pada prinsipnya adalah mendistribusikan barang. Dengan begitu saya harus ikut memikirkan bagaimana agar barang di toko bisa terjual ke end user,” kata pria kelahiran Banjarmasin 11 Juli 1956 yang mengaku belajar seluk-beluk cat secara otodidak dengan membaca buku.
Baru pada 1992 Sumber Tanjung Jaya naik menjadi nomor satu dan bertahan hingga sekarang. Kini, 60 persen produksi Danapaint di Indonesia dijual oleh Sumber Tanjung Jaya.
Di 1995, Handoko merambah menjadi distributor cat mobil bertaraf internasional, Sikkens dari Akzo Nobel Belanda untuk wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur. Selanjutnya pada 2005, Handoko memegang hak distribusi cat Jotun dari Norwegia untuk Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah dan hanya dalam kurun satu tahun Sumber Tanjung Jaya sudah menjadi distributor nomor satu di Indonesia.

Belajar Bisnis
Tidak hanya merek cat kelas atas, Sumber Tanjung Jaya juga menyediakan cat untuk kelas bawah dan menengah. Pasalnya, Sumber Tanjung Jaya tercatat pula sebagai distributor berbagai merek cat lokal untuk mebel, bangunan.
Handoko mengaku mulai belajar berbisnis sejak usia 10 tahun dengan berjualan rokok asongan di dekat pangkalan becak. Konsumennya tidak lain tukang-tukang becak. Seusai 12 tahun, Handoko kecil berjualan es mambo di sekolah, kemudian berkembang dengan mendistribusikannya ke desa-desa.
Pukul 5 pagi Handoko sudah mengantarkan es mambo menggunakan boks besar ke para pedagang keliling. “Sore harinya saya tinggal mengambil setoran dari mereka,” kata Handoko yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMP.
Baru pada 1980-an akhir, ayah dua anak ini memutuskan untuk membuka toko cat dengan modal awal pemberian dari sang ayah. Meski mendapat dukungan dari orang tua, bisnis Handoko tidak mungkin mampu bertahan dalam waktu cukup lama, bahkan mampu bertahan di masa krisis, jika tidak dengan menjaga kualitas layanan dan kepercayaan baik konsumen maupun kreditor.
“Kuncinya, jangan adu harga dengan pesaing tetapi kualitas. Tugas kita pula untuk mengedukasi konsumen untuk mengenali kualitas cat. Jangan berpatokan pada harga per kaleng cat semata,” katanya.
Interaksi Handoko dengan BNI dimulai pada tahun 1989, ketika ia mengajukan kredit Rp 50 juta. Entah mengapa permohonannya ditolak. “Saya justru diberi kredit oleh bank lain sebesar Rp 150 juta. Bagaimana tidak, omzet saya waktu itu Rp 500 juta per bulan,” katanya.
Barulah pada 1995, Handoko memanfaatkan kredit dari BNI Rp 350 juta untuk ekspansi usaha. Waktu itu, omzet Sumber Tanjung Jaya sudah mencapai Rp 2 miliar. Tahun ini, dengan omzet Rp 5 miliar Handoko menambah kreditnya hingga Rp 2,5 miliar yang akan dipakai untuk membeli gudang di tujuh tempat. n

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003