Senin, 17 Desember  2007

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5777

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 PROFIL

Bambang Sadono
Pecahkan Masalah di Jawa Tengah Lewat Pendekatan Budaya




Oleh
Sjarifuddin


JAKARTA - Hobi beratnya adalah menonton wayang kulit. Pernah selama 35 malam berturut-turut ia menyaksikan wayang kulit di berbagai kota/kabupaten di Jawa Tengah.
etapi tokoh yang dinantinya bukan raja atau kesatria, melainkan Semar yang tak pernah jadi raja. Mengapa Semar? “Saya tidak ingin menjadi raja, hanya ingin menjadi teman atau pamong masyarakat seperti yang dilakukan Semar,” kata Bambang Sadono.
Begitu mendalam kecintaan Bambang Sadono kepada wayang kulit, sampai saat ini ia masih sering pergi ke desa-desa untuk menonton wayang kulit di dua atau tiga tempat dalam semalam. Maka tak heran jika ia kenal dengan semua dalang, baik yang profesional maupun amatir, baik yang bergaya Yogya, Solo, Semarang, maupun Banyumas.
Perhatian Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Tengah ini kepada wayang kulit bukan tanpa alasan. Ia ingin menjadikan budaya umumnya, wayang kulit khususnya, sebagai perekat masyarakat Jawa Tengah sekaligus menggunakannya sebagai alat untuk menyampaikan pesan. “Persis seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga,” tambahnya.
Bambang Sadono (50) cenderung mau mendengarkan pernyataan atau pendapat orang lebih dahulu hingga terkesan berkepribadian tertutup. Namun kesan itu bakal lumer karena mantan wartawan ini punya pengetahuan luas hingga berbagai topik pembicaraan mengalir begitu saja.
Menurutnya, cita-cita masyarakat Jawa Tengah adalah cukup sandang-pangan hingga bisa mengekspresikan dirinya. “Saya bermaksud mendampingi masyarakat buat mencapai cita-citanya itu. Saya menggunakan pendekatan budaya Jawa dalam membuat maupun melaksanakan kebijaksanaan,” tuturnya dengan kalem.
Bambang juga mengemukakan bahwa lahan di Provinsi Jawa Tengah umumnya subur. Mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Produksi padinya surplus, namun pada waktu tertentu malah kekurangan karena padi dikirim ke daerah lain. Selain itu, tingkat kemiskinan di kalangan penduduk tinggi, sebab margin laba petani rendah.
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini juga menyatakan prihatin dengan rusaknya sarana penunjang produksi padi. Saluran irigasi rusak dan tak ada perbaikan, hutan juga rusak hingga daya simpan air menurun. Harga gabah kering yang dijual petani tak standar, terkadang petani menjualnya ke tengkulak dengan harga rendah.
Petani sekalipun dianggap penting, kerap dijadikan objek oleh kekuatan pasar. Mereka kerap terpukul harga pupuk yang tak stabil atau pengiriman yang tak tepat waktu, tambah magister Fakultas Hukum UI ini.
Atas dasar itu, Bambang yang juga anggota Komisi III DPR ini menilai perlu ada pemecahan yang menyeluruh supaya penduduk lebih sejahtera. Ini bisa dimulai dari penggunaan bibit unggul, pembuatan skema kredit, pembenahan tata niaga, membangun cadangan penyangga, serta membangun industri yang terkait dengan pertanian. Perlu juga ditinjau kaitan antara pendidikan dengan pertanian, serta bagaimana membuat orang bangga menjadi petani.
Sejauh ini, petani susah memperoleh kredit sebab bank menganggap tidak layak. Padahal kredit ini perlu sebagai dana operasional sampai petani memperoleh pendapatan dari hasil panen. Dengan kredit ini juga, petani bisa terlepas dari jerat para pengijon atau tengkulak, lanjut politisi kelahiran Blora, Jawa Tengah 30 Januari 1957 ini.
Alumnus termuda Lemhannas KRA XXVIII tahun 1995 ini juga menyebut pentingnya pengkaitan pendidikan dengan potensi daerah yang tersedia, seperti memprioritaskan pendidikan untuk ahli pertanian, pupuk, dan irigasi. Di samping itu, perlu memantapkan Universitas Diponegoro yang menjadikan wilayah pantai sebagai pola ilmiah pokok.
Pria beristrikan Restu Lanjari dengan empat anak ini, dipilih Partai Golongan Karya sebagai calon gubernur Jawa Tengah berpasangan dengan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Muhammad Adnan, untuk Pilkada Juli 2008 mendatang. Mereka memiliki semboyan “Menuju Jawa Tengah Sejahtera”.
Dewasa ini Partai Golkar menguaai 17 kursi (2,8 juta pemilih) di DPRD Tingkat I, dan NU 70% dari total pemberi suara. Dalam survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Haji Bambang Sadono SH-Mohammad Adnan unggul dalam survei pendapat memilih di antara sepuluh calon hingga dua calon gubernur.
Dalam survei atas memilih sepuluh calon, Bambang-Adnan meraih 24,8 suara dengan pesaing terdekatnya 11,8%. Bila survei atas dua calon, Bambang memperoleh 42,2%, sedangkan pesaing terdekatnya 19%-21,1%. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003