|
PROFIL
Bambang Sadono
Pecahkan Masalah di Jawa Tengah Lewat Pendekatan
Budaya
Oleh
Sjarifuddin
JAKARTA - Hobi beratnya adalah menonton wayang kulit. Pernah
selama 35 malam berturut-turut ia menyaksikan wayang kulit di
berbagai kota/kabupaten di Jawa Tengah.
etapi tokoh yang dinantinya bukan raja atau kesatria, melainkan
Semar yang tak pernah jadi raja. Mengapa Semar? “Saya tidak
ingin menjadi raja, hanya ingin menjadi teman atau pamong
masyarakat seperti yang dilakukan Semar,” kata Bambang Sadono.
Begitu mendalam kecintaan Bambang Sadono kepada wayang kulit,
sampai saat ini ia masih sering pergi ke desa-desa untuk
menonton wayang kulit di dua atau tiga tempat dalam semalam.
Maka tak heran jika ia kenal dengan semua dalang, baik yang
profesional maupun amatir, baik yang bergaya Yogya, Solo,
Semarang, maupun Banyumas.
Perhatian Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa
Tengah ini kepada wayang kulit bukan tanpa alasan. Ia ingin
menjadikan budaya umumnya, wayang kulit khususnya, sebagai
perekat masyarakat Jawa Tengah sekaligus menggunakannya sebagai
alat untuk menyampaikan pesan. “Persis seperti yang dilakukan
Sunan Kalijaga,” tambahnya.
Bambang Sadono (50) cenderung mau mendengarkan pernyataan atau
pendapat orang lebih dahulu hingga terkesan berkepribadian
tertutup. Namun kesan itu bakal lumer karena mantan wartawan ini
punya pengetahuan luas hingga berbagai topik pembicaraan
mengalir begitu saja.
Menurutnya, cita-cita masyarakat Jawa Tengah adalah cukup
sandang-pangan hingga bisa mengekspresikan dirinya. “Saya
bermaksud mendampingi masyarakat buat mencapai cita-citanya itu.
Saya menggunakan pendekatan budaya Jawa dalam membuat maupun
melaksanakan kebijaksanaan,” tuturnya dengan kalem.
Bambang juga mengemukakan bahwa lahan di Provinsi Jawa Tengah
umumnya subur. Mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian
pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan.
Produksi padinya surplus, namun pada waktu tertentu malah
kekurangan karena padi dikirim ke daerah lain. Selain itu,
tingkat kemiskinan di kalangan penduduk tinggi, sebab margin
laba petani rendah.
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini juga
menyatakan prihatin dengan rusaknya sarana penunjang produksi
padi. Saluran irigasi rusak dan tak ada perbaikan, hutan juga
rusak hingga daya simpan air menurun. Harga gabah kering yang
dijual petani tak standar, terkadang petani menjualnya ke
tengkulak dengan harga rendah.
Petani sekalipun dianggap penting, kerap dijadikan objek oleh
kekuatan pasar. Mereka kerap terpukul harga pupuk yang tak
stabil atau pengiriman yang tak tepat waktu, tambah magister
Fakultas Hukum UI ini.
Atas dasar itu, Bambang yang juga anggota Komisi III DPR ini
menilai perlu ada pemecahan yang menyeluruh supaya penduduk
lebih sejahtera. Ini bisa dimulai dari penggunaan bibit unggul,
pembuatan skema kredit, pembenahan tata niaga, membangun
cadangan penyangga, serta membangun industri yang terkait dengan
pertanian. Perlu juga ditinjau kaitan antara pendidikan dengan
pertanian, serta bagaimana membuat orang bangga menjadi petani.
Sejauh ini, petani susah memperoleh kredit sebab bank menganggap
tidak layak. Padahal kredit ini perlu sebagai dana operasional
sampai petani memperoleh pendapatan dari hasil panen. Dengan
kredit ini juga, petani bisa terlepas dari jerat para pengijon
atau tengkulak, lanjut politisi kelahiran Blora, Jawa Tengah 30
Januari 1957 ini.
Alumnus termuda Lemhannas KRA XXVIII tahun 1995 ini juga
menyebut pentingnya pengkaitan pendidikan dengan potensi daerah
yang tersedia, seperti memprioritaskan pendidikan untuk ahli
pertanian, pupuk, dan irigasi. Di samping itu, perlu memantapkan
Universitas Diponegoro yang menjadikan wilayah pantai sebagai
pola ilmiah pokok.
Pria beristrikan Restu Lanjari dengan empat anak ini, dipilih
Partai Golongan Karya sebagai calon gubernur Jawa Tengah
berpasangan dengan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU)
Jawa Tengah Muhammad Adnan, untuk Pilkada Juli 2008 mendatang.
Mereka memiliki semboyan “Menuju Jawa Tengah Sejahtera”.
Dewasa ini Partai Golkar menguaai 17 kursi (2,8 juta pemilih) di
DPRD Tingkat I, dan NU 70% dari total pemberi suara. Dalam
survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Haji
Bambang Sadono SH-Mohammad Adnan unggul dalam survei pendapat
memilih di antara sepuluh calon hingga dua calon gubernur.
Dalam survei atas memilih sepuluh calon, Bambang-Adnan meraih
24,8 suara dengan pesaing terdekatnya 11,8%. Bila survei atas
dua calon, Bambang memperoleh 42,2%, sedangkan pesaing
terdekatnya 19%-21,1%. n |
|