Sabtu, 15 Desember  2007

N A S I O N A L

No.  5776

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Bawaslu Sebaiknya dari Berbagai Latar Belakang



Jakarta--Tim seleksi (Timsel) calon anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) akan berusaha menjaring figur yang memahami proses politik dan pekerja demokrasi bukan hanya mencari kerja. Untuk itu, sebaiknya berasal dari berbagai latar belakang, seperti ahli hukum, politik, keuangan, media massa, dan dekat dengan kalangan masyarakat.
Demikian Ketua Timsel Bawaslu Komaruddin Hidayat dalam diskusi untuk meminta masukan mengenai proses seleksi calon anggota Bawaslu di Jakarta, Jumat (14/12). Narasumber dalam diskusi yang dipandu Didik Supriyanto itu, Idrus Marham (Wakil Ketua Komisi II DPR), dan Jeirry Sumampow (Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat atau JPPR).
“Meski banyak yang dapat menjadi anggota Bawaslu, tapi proses penjaringan akan gampang-gampang susah, karena harus mencari format, model dan menjaring orang,” kata Komaruddin.
Dia mengharapkan keberadaan Bawaslu ke depan seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kalau KPK lebih fokus ke korupsi keuangan, Bawaslu harus fokus kepada korupsi politik. Untuk itu, Bawaslu harus diisi orang yang berintegritas dan berwibawa, karena hal itu akan mempengaruhi lembaga.
Menurutnya, Timsel akan memperhatikan track record, administrasi dan referensi dari berbagai pihak atau institusi. Dia menambahkan Timsel akan tetap melakukan tes tertulis yang berkaitan dengan kompetensi dan tes psikologi. “Tapi, tes psikologi hanya sekian persen. Itu hanya untuk mengetahui kecenderungan,” ujarnya.
Senada dengan Komaruddin, Idrus Marham mengatakan anggota Bawaslu harus berkompeten. Menurutnya, figur yang berkompeten akan percaya diri, independen dan struktur hanya sebagai tiket. “Orang yang mengandalkan struktur, cenderung otoriter karena tidak percaya diri. Aku ini bawaslu jangan macam-macam, nanti saya pecat, bisa seperti itu,” ujar Idrus.
Bawaslu ke depan, katanya, tidak lagi seperti Panwaslu dalam pemilu 2004. Bawaslu bersifat permanen selama lima tahun. Selain itu, Bawaslu bekerja independen dan hubungan dengan KPU lebih sebagai mitra. “Anggota Bawaslu, selain berintegritas, jujur, juga harus memiliki sikap mental yang kuat untuk menghadapi tekanan,” katanya.
Jeirry Sumampow mengatakan proses seleksi calon anggota Bawaslu ini harus lebih cermat, sehingga tidak mengulangi proses seleksi anggota KPU. Dia mengharapkan, Timsel membuka kesempatan yang lebih luas dan aktif untuk mendapatkan masukan dari publik. “Masyarakat cenderung pasif, sehingga Timsel yang harus aktif mengecek rekam jejak dari calon,” katanya.
Menurut Jeirry, kesempatan yang diberikan untuk mengecek track record setiap calon tidak memadai, sehingga persoalan kandidat sering muncul setelah calon kian mengerucut.
(daniel tagukawi)

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003