|
Bawaslu Sebaiknya
dari Berbagai Latar Belakang
Jakarta--Tim seleksi (Timsel) calon anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)
akan berusaha menjaring figur yang memahami proses politik dan
pekerja demokrasi bukan hanya mencari kerja. Untuk itu, sebaiknya
berasal dari berbagai latar belakang, seperti ahli hukum, politik,
keuangan, media massa, dan dekat dengan kalangan masyarakat.
Demikian Ketua Timsel Bawaslu Komaruddin Hidayat dalam diskusi untuk
meminta masukan mengenai proses seleksi calon anggota Bawaslu di
Jakarta, Jumat (14/12). Narasumber dalam diskusi yang dipandu Didik
Supriyanto itu, Idrus Marham (Wakil Ketua Komisi II DPR), dan Jeirry
Sumampow (Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat atau JPPR).
“Meski banyak yang dapat menjadi anggota Bawaslu, tapi proses
penjaringan akan gampang-gampang susah, karena harus mencari format,
model dan menjaring orang,” kata Komaruddin.
Dia mengharapkan keberadaan Bawaslu ke depan seperti Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Kalau KPK lebih fokus ke korupsi
keuangan, Bawaslu harus fokus kepada korupsi politik. Untuk itu,
Bawaslu harus diisi orang yang berintegritas dan berwibawa, karena
hal itu akan mempengaruhi lembaga.
Menurutnya, Timsel akan memperhatikan track record, administrasi dan
referensi dari berbagai pihak atau institusi. Dia menambahkan Timsel
akan tetap melakukan tes tertulis yang berkaitan dengan kompetensi
dan tes psikologi. “Tapi, tes psikologi hanya sekian persen. Itu
hanya untuk mengetahui kecenderungan,” ujarnya.
Senada dengan Komaruddin, Idrus Marham mengatakan anggota Bawaslu
harus berkompeten. Menurutnya, figur yang berkompeten akan percaya
diri, independen dan struktur hanya sebagai tiket. “Orang yang
mengandalkan struktur, cenderung otoriter karena tidak percaya diri.
Aku ini bawaslu jangan macam-macam, nanti saya pecat, bisa seperti
itu,” ujar Idrus.
Bawaslu ke depan, katanya, tidak lagi seperti Panwaslu dalam pemilu
2004. Bawaslu bersifat permanen selama lima tahun. Selain itu,
Bawaslu bekerja independen dan hubungan dengan KPU lebih sebagai
mitra. “Anggota Bawaslu, selain berintegritas, jujur, juga harus
memiliki sikap mental yang kuat untuk menghadapi tekanan,” katanya.
Jeirry Sumampow mengatakan proses seleksi calon anggota Bawaslu ini
harus lebih cermat, sehingga tidak mengulangi proses seleksi anggota
KPU. Dia mengharapkan, Timsel membuka kesempatan yang lebih luas dan
aktif untuk mendapatkan masukan dari publik. “Masyarakat cenderung
pasif, sehingga Timsel yang harus aktif mengecek rekam jejak dari
calon,” katanya.
Menurut Jeirry, kesempatan yang diberikan untuk mengecek track
record setiap calon tidak memadai, sehingga persoalan kandidat
sering muncul setelah calon kian mengerucut.
(daniel tagukawi)
|
|