|
RESENSI BUKU
Epistem(ologi) Naisbitt Meraba Masa Depan
Oleh
Nur Mursidi
Judul Buku : Mind Set!
Penulis : John Naisbitt
Penerbit : Daras Books, Jakarta
Cetakan : Pertama, Juni 2007
Tebal Buku : 348 halaman
(termasuk indeks)
Ketika John Naisbitt meluncurkan buku Megatrends (1982), orang di
seluruh dunia pun seakan tersentak dengan pemikiran brilian lelaki
kelahiran Utah, 15 Januari 1929, itu yang bisa jeli melihat masa
depan dunia. Apalagi prediksi yang dicanangkan Naisbitt luar biasa
tepat. Mendadak, nama Naisbitt pun menjadi terkenal karena selama
lebih 2 tahun Megatrends menduduki daftar New York Time Bestseller,
dan terjual lebih dari sembilan juta kopi di 52 negara. Selain itu,
Naisbitt dijuluki sebagai "sang futuris dan filsuf global terkemuka"
era modern.
Tapi buah pemikiran Naisbitt itu tak serta-merta lepas dari risiko
bias interpretasi dan bahkan disalahpahami. Kenapa? Lantaran dalam
Megatrends itu, Naisbitt menggambarkan masa depan dunia tak diikuti
pendekatan dan bingkai pola pikir yang mengantarkan Naisbitt dapat
mengambil kesimpulan.
Dua puluh empat tahun kemudian, Naisbitt menjawab rahasia "pola
pikir" (epistemologi) di balik kesimpulan Megatrends itu lewat buku
yang berjudul Mind Set! Reset Your Thingking and See the Future
(2006) yang diterjemahkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh Penerbit
Daras books pada tahun ini dengan judul yang masih sama; Mind Set.
Secara gamblang, buku ini mengupas 11 pola pikir (pada bagian I)
yang membeberkan rahasia di balik kesimpulan Naisbitt meraba dunia
dan (bagian II) menjelaskan “apa yang terjadi” di masa depan. Karena
itu di bagian pendahuluan, Naisbitt menulis "Tanpa pola pikir ini,
saya tidak mungkin menelurkan Megatrends dan Megatrends 2000" (hal.
20).
PADA bagian I buku ini, Naisbitt menjelaskan; mengapa dia bisa
meraba dunia? Kunci jawaban itu ada pada pendekatan, pikiran, dan
pengalaman Naisbitt yang terangkum dalam 11 pola pikir ini. Pola
pikir pertama, meski banyak hal berubah, kebanyakan hal tetap
konstans. Itu dibuktikan Naisbitt --yang sejak kecil melihat petani
tak banyak berubah. Jika ada yang berubah, perubahan itu terletak
pada "apa" yang dilakukan bukan pada "bagaimana" mereka melakukan.
Pola pikir kedua, masa depan tertanam di masa kini. Pola pikir
ketiga, fokus pada skor pertandingan. Dua pola pikir itu bisa
dijelaskan, saat pertandingan sepak bola berakhir dengan skor 3-2
maka itu hasil akhir yang tak bisa dirubah. Skor itu, juga jadi alat
bantu memahani masa kini yang merupakan langkah awal memahami masa
depan. Pola pikir keempat, memahami betapa menguntungkannya bila
Anda tidak harus benar.
Di mata Naisbitt, Einstein bisa jadi tokoh besar dunia bidang fisika,
karena ia tak mencari siapa yang benar, tapi apa yang benar.
Pola pikir kelima melihat masa depan sebagai potongan teka-teki.
Menurut Naisbitt, "masa depan" itu kumpulan kemungkinan, arah
peristiwa, perubahan dan kejutan. Pola pikir keenam, jangan berada
terlalu jauh di depan sampai-sampai orang menganggap Anda tidak
bagian mereka. Karena ketika Anda berlari kencang dengan visi
sendiri meninggalkan kelompok Anda terlalu jauh di belakang, Anda
tak akan mendapatkan apa-apa.
Pola pikir ketujuh, resistensi terhadap perubahan berhenti jika ada
manfaat nyata. Jelasnya, orang ingin maju biasanya tak menolak
perubahan karena tidak tahan terhadap perubahan tapi karena melihat
perubahan itu menawarkan manfaat (hal. 96). Pola pikir kedelapan,
apa yang kita pikirkan akan terjadi, selalu terjadi lebih lambat.
Penemuaan di bidang teknologi, "mengajarkan" Naisbitt melihat
perubahan terjadi secara evolusioner bukan revolusioner.
Pola kesembilan, hasil diperoleh bukan dari memecahkan masalah,
tetapi memanfaatkan peluang. Jika mau merengkuh masa depan jangan
berpegang pada cara menyelesaikan masalah melainkan pada usaha
memanfaatkan peluang. Pola pikir kesepuluh, jangan menambah tanpa
mengurangi. Ini seperti "pertandingan" basket dengan aturan batasan
tim yang main di lapangan. Karena itu, jika ingin menambah pemain
lagi untuk memperkuat tim, tak ada cara lain kecuali harus mengganti
pemain (mengurangi). Pola pikir kesebelas, jangan lupakan ekologi
teknologi. Sebab kemajuan di bidang teknologi seringkali membawa
konsekuensi yang tak terelakkan.
BERPIJAK 11 pola pikir itu, Naisbitt (di bagian II buku ini)
menggambarkan "seperti apa" masa depan dunia? Pertama, budaya visual
akan mengambil alih dunia. Pengambilalihan itu digambarkan John
Nasibitt dengan kematian novel (setelah diadaptasi jadi film),
kematian koran (diganti tv atau internet) dan kematian iklan baris.
Kedua, "perluasan wilayah ekonomi" tidak lagi ditentukan berdasarkan
negara melainkan domain ekonomi. Naisbitt melihat dunia akan
ditentukan "ilmu ekonomi" bukan cengkraman ilmu politik.
Ketiga, meskipun banyak kalangan memprediksi (dalam waktu dekat)
China akan mengungguli Amerika, tapi di mata Naisbitt masih butuh 'waktu
lama'. Alasan Naisbitt, PDB China (tahun 2004) masih lebih rendah
dari posisi keseratus di dunia. Basis ekonomi China masih rendah
dibanding basis ekonomi Amerika.
"Segala hal yang kita perkirakan akan terjadi selalu terjadi secara
lebih lambat (pola pikir #8). Seperti tahun 1957, orang meramalkan
Uni Soviet tidak lama lagi akan menjadi hegemoni teknologi dan
ekonomi dunia. Tapi ramalan itu tak pernah terjadi," sanggah
Naisbitt.
Keempat, Eropa akan mengalami kemerosotan bersama. Memang Eropa
telah tergabung dalam wadah Uni Eropa dan bercita-cita jadi "pengendali
ekonomi" dunia (liberal). Tapi, perubahan itu ternyata tidak
dirintangi revolusi meninggalkan pola pikir (memilih mengatasi
masalah daripada mengeksploitasi peluang) melainkan masih tetap
mempertahankan "negara kesejahteraan" (sosialis) sehingga Uni Eropa
akan mengalami kemorosotan bersama lantaran perlambatan pertumbuhan
ekonomi dan pengangguran. Kelima, dunia memasuki era evolusi.
Naisbitt melihat masa kini merupakan lumbung inovasi karena kita
tinggal mengembangkan berbagai teknologi yang sudah dikembangkan
sebelumnya.
BUKU Mind Set! ini tak dapat disangkal adalah buku luar biasa.
Karena gambaran tentang masa depan yang dijelaskan Naisbitt dalam
buku ini akan memberikan 'pemikiran baru' bagi pembaca tentang wajah
dunia.
Selain itu, 11 pola pikir yang dijelaskan Naisbitt di buku ini tidak
mustahil akan mengeset pola pikir lama yang selama ini menghalangi
penglihatan pembaca. Meski buku ini mengulas pola pikir secara umum,
bukan berarti tidak dapat ditarik dalam ruang lingkup kecil dalam
kehidupan pribadi.
Karena itu, setelah membaca buku ini, bisa dipastikan pembaca akan
terlahir jadi "manusia baru". Setiap pola pikir buku ini seperti
menyingkirkan rintangan di depan mata dan membuat masa depan
terpampang di depan mata Anda. n
Penulis adalah alumnus Filsafat UIN, Sunan Kalijaga Yogyakarta.
|
|