Senin, 03 Desember  2007

E K O N O M I    &    B I S N I S

No.  5765

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

UTM, Malaysia, dan ITB



Oleh
Marzuki Usman

Awal tahun 1960-an, Malaysia masih berada dalam tahap embrio pembangunan sumber daya manusianya. Kekurangan tenaga-tenaga manusia yang terampil dan profesional, menyebabkan Malaysia mengundang guru-guru dan dosen-dosen Indonesia untuk mendidik dan mengajar di sana.
Mahasiswa-mahasiswa Malaysia juga dikirim untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan di perguruan tinggi terkenal di Indonesia, seperti di Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, termasuk juga ke Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tidak lupa juga, Malaysia menggalakkan program penerjemahan buku literatur dari bahasa asing ke dalam bahasa Malaysia. Dan Malaysia lalu juga mendirikan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di Johor, dengan berguru dan mengambil model dari ITB.
Selama dekade-dekade berikutnya, yakni 1970-an, hingga 2000-an, bahkan hingga kini Malaysia sangat rajin dan "tajam sekali" mengasah kualitas sumber daya manusianya. Pengiriman tenaga dosen dan mahasiswa ke Amerika Utara dan Eropa sangat diutamakan. Ketika tenaga-tenaga terampil dan profesional itu sudah kembali dari pelatihan dan pendidikan dari luar negeri, di Malaysia dimulailah pembangunan sarana pelatihan dan pendidikan.
Khusus untuk UTM, dibangun lah kampus di lahan yang luasnya hingga 2.000 hektare, dengan bidang-bidang studi yang lebih terspesialis. Akibatnya, UTM menjadi lebih maju, lebih modern, dan kampusnya lebih luas dari ITB, yang dulu menjadi gurunya.
Maka tidak heran lagi, akhirnya pembangunan ekonomi Malaysia bisa menyalib ekonomi Indonesia. Rakyat Malaysia semakin kaya dan semakin cerdas.
Dewasa ini banyak mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di UTM di Johor, demikian juga tenaga pengajar dari pelbagai universitas atau perguruan tinggi di Indonesia pada berdatangan ke UTM. Di samping itu, kualitas pendidikannya juga sudah bertaraf dunia. Biaya pendidikan dan hidup di Kota Johor, Malaysia pun relatif lebih murah dibandingkan dengan Kota Bandung.

Sangat Dibutuhkan
Sekadar contoh, di UTM, sudah dikembangkan pelatihan dan pendidikan untuk tenaga-tenaga Quantity Surveyor, yang sangat dibutuhkan oleh industri konstruksi, industri perbankan, asuransi, pasar modal, dan sebagainya. Bagi industri perbankan misalnya, keberadaan profesi Quantity Surveyor ini, akan memacu peningkatan kualitas kredit dari bank yang bersangkutan, dengan semakin dapat ditekannya angka kredit yang macet.
Tentu, kita akan bertanya, apa yang terjadi dengan ITB? Dahulu, ITB dilirik dan dikagumi UTM, tapi sekarang harus berguru ke UTM.
Ada yang ingin menghibur, "begitulah kehidupan, seperti roda pedati". Dahulu ITB di atas pada era 1960-an, dan sekarang di era 2000-an dan seterusnya, gilirannya UTM -lah yang berada di atas. ITB haruslah ikhlas menerimanya. Begitukah kira-kira jawabnya? Atau hal-hal seperti ini salah siapa? Biasanya kita lalu menjawab salah kita semua. Saya hanya ingin memberi peringatan, jangan sampai ITB lalu menjadi seperti lagunya Gesang, "ITB..... riwayatmu dulu?" n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003