|
UTM, Malaysia,
dan ITB
Oleh
Marzuki Usman
Awal tahun 1960-an, Malaysia masih berada dalam tahap embrio
pembangunan sumber daya manusianya. Kekurangan tenaga-tenaga
manusia yang terampil dan profesional, menyebabkan Malaysia
mengundang guru-guru dan dosen-dosen Indonesia untuk mendidik
dan mengajar di sana.
Mahasiswa-mahasiswa Malaysia juga dikirim untuk belajar dan
menuntut ilmu pengetahuan di perguruan tinggi terkenal di
Indonesia, seperti di Universitas Gadjah Mada, Universitas
Indonesia, termasuk juga ke Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tidak lupa juga, Malaysia menggalakkan program penerjemahan buku
literatur dari bahasa asing ke dalam bahasa Malaysia. Dan
Malaysia lalu juga mendirikan Universiti Teknologi Malaysia (UTM)
di Johor, dengan berguru dan mengambil model dari ITB.
Selama dekade-dekade berikutnya, yakni 1970-an, hingga 2000-an,
bahkan hingga kini Malaysia sangat rajin dan "tajam sekali"
mengasah kualitas sumber daya manusianya. Pengiriman tenaga
dosen dan mahasiswa ke Amerika Utara dan Eropa sangat diutamakan.
Ketika tenaga-tenaga terampil dan profesional itu sudah kembali
dari pelatihan dan pendidikan dari luar negeri, di Malaysia
dimulailah pembangunan sarana pelatihan dan pendidikan.
Khusus untuk UTM, dibangun lah kampus di lahan yang luasnya
hingga 2.000 hektare, dengan bidang-bidang studi yang lebih
terspesialis. Akibatnya, UTM menjadi lebih maju, lebih modern,
dan kampusnya lebih luas dari ITB, yang dulu menjadi gurunya.
Maka tidak heran lagi, akhirnya pembangunan ekonomi Malaysia
bisa menyalib ekonomi Indonesia. Rakyat Malaysia semakin kaya
dan semakin cerdas.
Dewasa ini banyak mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di UTM di
Johor, demikian juga tenaga pengajar dari pelbagai universitas
atau perguruan tinggi di Indonesia pada berdatangan ke UTM. Di
samping itu, kualitas pendidikannya juga sudah bertaraf dunia.
Biaya pendidikan dan hidup di Kota Johor, Malaysia pun relatif
lebih murah dibandingkan dengan Kota Bandung.
Sangat Dibutuhkan
Sekadar contoh, di UTM, sudah dikembangkan pelatihan dan
pendidikan untuk tenaga-tenaga Quantity Surveyor, yang sangat
dibutuhkan oleh industri konstruksi, industri perbankan,
asuransi, pasar modal, dan sebagainya. Bagi industri perbankan
misalnya, keberadaan profesi Quantity Surveyor ini, akan memacu
peningkatan kualitas kredit dari bank yang bersangkutan, dengan
semakin dapat ditekannya angka kredit yang macet.
Tentu, kita akan bertanya, apa yang terjadi dengan ITB? Dahulu,
ITB dilirik dan dikagumi UTM, tapi sekarang harus berguru ke UTM.
Ada yang ingin menghibur, "begitulah kehidupan, seperti roda
pedati". Dahulu ITB di atas pada era 1960-an, dan sekarang di
era 2000-an dan seterusnya, gilirannya UTM -lah yang berada di
atas. ITB haruslah ikhlas menerimanya. Begitukah kira-kira
jawabnya? Atau hal-hal seperti ini salah siapa? Biasanya kita
lalu menjawab salah kita semua. Saya hanya ingin memberi
peringatan, jangan sampai ITB lalu menjadi seperti lagunya
Gesang, "ITB..... riwayatmu dulu?" n
|
|