|
Suster N: Dendam
Suster Ngesot
Sekali Lagi, Teror Suster Ngesot
Oleh
Mila Novita
Jakarta - Suster Ngesot identik dengan film horor Indonesia.
Sejak pertama kali genre horor muncul, hantu yang satu ini paling
sering muncul lantaran menjadi hantu yang paling menakutkan ketika
muncul di film Jelangkung, tujuh tahun silam.
Dua tahun lalu muncul lagi film yang mengetengahkan hantu serupa,
Bangsal 13. Baru lima bulan lalu, akhirnya muncul juga film yang
secara eksklusif mengambil judul Suster Ngesot. Seakan tiada matinya,
Suster Ngesot kembali muncul di film terbaru, Suster N: Dendam
Suster Ngesot, arahan Viva Westi yang akan beredar mulai 25 Oktober.
Viva yang pernah menjadi asisten Garin Nugroho di film Izinkan Aku
Menciummu Sekali Saja (2002) serta menjadi salah seorang sutradara
di film Serambi (2005) ini mencoba memperkenalkan Suster Ngesot
dengan cara yang lebih misterius.
Lihat saja judulnya yang hanya menggunakan huruf N, yang bisa
berarti Ngesot atau Norah, salah seorang perawat yang menjadi objek
cerita di film produksi PT Virgo Putra Film.
Legenda Suster Ngesot yang beredar di Jawa Barat dikembalikan Viva
dengan menonjolkan unsur kebelanda-belandaan film ini. Konon, si
hantu Suster Ngesot itu memang keturunan Belanda. Tokoh perempuannya,
Wulan (Wulan Guritno) yang menjadi si suster serta Sarah (Atiqah
Hasiholan) yang menjadi pemilik vila, adalah dua perempuan keturunan
Belanda.
Latar tempat pun tidak banyak berpindah, hanya di sebuah vila tua
peninggalan bergaya Belanda yang terdapat di Subang, Jawa Barat.
Sarah yang baru kembali ke Indonesia mengunjungi vila peninggalan
neneknya, Rose (Dominique Sanda), seorang nyai (perempuan pribumi
yang menikah dengan laki-laki Belanda). Vila yang sudah lama tidak
berpenghuni itu sebelumnya dijadikan panti jompo bagi keturunan
Belanda. Bersama suaminya, Jonathan (Bob Seven), ia berniat kembali
menjadikan vila itu sebagai panti jompo, sekaligus tempat tinggal
mereka.
Keanehan pun mulai berdatangan. Tiba-tiba seorang perempuan muda
indo datang untuk melamar menjadi pengurus vila itu. Perempuan itu,
Wulan, muncul dengan keanehan. Sarah sebelumnya sekelebat melihat
sesosok makhluk menyeramkan menempel di kaca pintu. Kemunculan Wulan
yang diawali oleh makhluk menyeramkan itu kembali terulang ketika
Sarah dan Jonathan mengunjungi kompleks makam tua di samping vila.
Namun, sebagai manusia modern yang berpikir cara Eropa, Sarah tidak
curiga. Keanehan tetap terjadi, tapi Sarah dan suaminya tetap
menjalankan kehidupan seperti biasa.
Misterius
Kemunculan Maya (Ardina Rasti) mempertegas kemisteriusan
karakter-karakter di film ini. Apalagi, ia juga muncul tiba-tiba dan
selalu mengatakan, “Vila ini tempat yang tepat untuk mati.” Ia juga
menjadi tokoh perantara karena memiliki indra keenam.
Efek misterius itu dimunculkan seperti di film The Others (2001)
yang dibintangi Nicole Kidman, hanya dengan suara tetesan air,
langkah manusia, atau sekadar suara derit kayu, tanpa memperlihatkan
sang hantu secara vulgar, namun sang tokoh hidup bersama hantu-hantu
itu tanpa disadari.
Viva yang baru pertama kali menggarap film layar lebarnya sendiri
ini tidak memunculkan banyak gambar seram seperti di film horor pada
umumnya karena ia ingin membuat film yang terkesan “dingin”. Mencoba
menimbulkan efek seram dengan pendekatan gambar natural, Viva
sedikit-sedikit masih membuat kecerobohan.
Lihat saja ketika Sarah baru tiba di vila Rose, ia disambut dengan
dedaunan tanaman rambat yang sudah layu, yang seharusnya menimbulkan
efek menyeramkan karena lama tidak tersentuh.
Bahkan, pencahayaan pun ia biarkan berjalan apa adanya, tidak ada
yang kontras meskipun ketika sosok menyeramkan itu muncul. Bagi
Viva, ini yang membuat filmnya berbeda dari film-film horor pada
umumnya. n
|
|