Kamis, 25 Oktober  2007

S E N I   &   H I B U R A N

No.  5732

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Suster N: Dendam Suster Ngesot
Sekali Lagi, Teror Suster Ngesot



Oleh
Mila Novita

Jakarta - Suster Ngesot identik dengan film horor Indonesia. Sejak pertama kali genre horor muncul, hantu yang satu ini paling sering muncul lantaran menjadi hantu yang paling menakutkan ketika muncul di film Jelangkung, tujuh tahun silam.
Dua tahun lalu muncul lagi film yang mengetengahkan hantu serupa, Bangsal 13. Baru lima bulan lalu, akhirnya muncul juga film yang secara eksklusif mengambil judul Suster Ngesot. Seakan tiada matinya, Suster Ngesot kembali muncul di film terbaru, Suster N: Dendam Suster Ngesot, arahan Viva Westi yang akan beredar mulai 25 Oktober.
Viva yang pernah menjadi asisten Garin Nugroho di film Izinkan Aku Menciummu Sekali Saja (2002) serta menjadi salah seorang sutradara di film Serambi (2005) ini mencoba memperkenalkan Suster Ngesot dengan cara yang lebih misterius.
Lihat saja judulnya yang hanya menggunakan huruf N, yang bisa berarti Ngesot atau Norah, salah seorang perawat yang menjadi objek cerita di film produksi PT Virgo Putra Film.
Legenda Suster Ngesot yang beredar di Jawa Barat dikembalikan Viva dengan menonjolkan unsur kebelanda-belandaan film ini. Konon, si hantu Suster Ngesot itu memang keturunan Belanda. Tokoh perempuannya, Wulan (Wulan Guritno) yang menjadi si suster serta Sarah (Atiqah Hasiholan) yang menjadi pemilik vila, adalah dua perempuan keturunan Belanda.
Latar tempat pun tidak banyak berpindah, hanya di sebuah vila tua peninggalan bergaya Belanda yang terdapat di Subang, Jawa Barat.
Sarah yang baru kembali ke Indonesia mengunjungi vila peninggalan neneknya, Rose (Dominique Sanda), seorang nyai (perempuan pribumi yang menikah dengan laki-laki Belanda). Vila yang sudah lama tidak berpenghuni itu sebelumnya dijadikan panti jompo bagi keturunan Belanda. Bersama suaminya, Jonathan (Bob Seven), ia berniat kembali menjadikan vila itu sebagai panti jompo, sekaligus tempat tinggal mereka.
Keanehan pun mulai berdatangan. Tiba-tiba seorang perempuan muda indo datang untuk melamar menjadi pengurus vila itu. Perempuan itu, Wulan, muncul dengan keanehan. Sarah sebelumnya sekelebat melihat sesosok makhluk menyeramkan menempel di kaca pintu. Kemunculan Wulan yang diawali oleh makhluk menyeramkan itu kembali terulang ketika Sarah dan Jonathan mengunjungi kompleks makam tua di samping vila.
Namun, sebagai manusia modern yang berpikir cara Eropa, Sarah tidak curiga. Keanehan tetap terjadi, tapi Sarah dan suaminya tetap menjalankan kehidupan seperti biasa.

Misterius
Kemunculan Maya (Ardina Rasti) mempertegas kemisteriusan karakter-karakter di film ini. Apalagi, ia juga muncul tiba-tiba dan selalu mengatakan, “Vila ini tempat yang tepat untuk mati.” Ia juga menjadi tokoh perantara karena memiliki indra keenam.
Efek misterius itu dimunculkan seperti di film The Others (2001) yang dibintangi Nicole Kidman, hanya dengan suara tetesan air, langkah manusia, atau sekadar suara derit kayu, tanpa memperlihatkan sang hantu secara vulgar, namun sang tokoh hidup bersama hantu-hantu itu tanpa disadari.
Viva yang baru pertama kali menggarap film layar lebarnya sendiri ini tidak memunculkan banyak gambar seram seperti di film horor pada umumnya karena ia ingin membuat film yang terkesan “dingin”. Mencoba menimbulkan efek seram dengan pendekatan gambar natural, Viva sedikit-sedikit masih membuat kecerobohan.
Lihat saja ketika Sarah baru tiba di vila Rose, ia disambut dengan dedaunan tanaman rambat yang sudah layu, yang seharusnya menimbulkan efek menyeramkan karena lama tidak tersentuh.
Bahkan, pencahayaan pun ia biarkan berjalan apa adanya, tidak ada yang kontras meskipun ketika sosok menyeramkan itu muncul. Bagi Viva, ini yang membuat filmnya berbeda dari film-film horor pada umumnya. n
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003