|
Bentrokan di Mimika,
8 Korban Tewas
Oleh
Soehendarto/Odeodata H Julia
Jakarta-Bentrokan yang terjadi antarkampung Kimbeli dengan Banti-Waa
di Kabupaten Mimika, Papua, sampai Kamis (18/10) siang ini masih
terus berlanjut.
Dari laporan lapangan, korban tewas delapan orang, dan puluhan orang
lainnya luka-luka.
Sementara itu, menurut laporan pihak kepolisian, korban tewas empat
orang yang terdiri dari satu orang dari kampung Banti dan tiga orang
kampung Kimbeli, sedangkan yang luka-luka seluruhnya 45 orang.
Wakapolda Papua Brigjen Andi Lolo ketika dihubungi SH per telepon,
mengatakan tadi pagi sekitar pukul 10.00 terjadi lagi bentrokan
antara warga masyarakat dari kedua kampung tersebut. Belum diketahui
jumlah korban yang jatuh. Pada pukul 11.00 mereka menghentikan
pertikaian, beristirahat untuk makan, dan kemudian masih dalam
suasana yang tegang dan panas, dikhawatirkan akan terjadi bentrokan
lagi.
“Kebiasaan mereka, kalau sudah bentrok seperti ini selalu
menginginkan score tewas jumlahnya sama, baru ditempuh upaya
perdamaian,” ujar Andi Lolo.
Menurut Andi, bentrokan terjadi Selasa (15/10), sejak kemarin
Kapolres Mimika AKBP Kapolres Mimika AKBP Godhelp C Mansnembra
bersama Ketua DPRD Mimika Yopi Kilangin, dan Komandan Kodim Mimika
Letkol Inf. Tri Suseno telah berada di lokasi pertikaian bersama
aparat keamanan dari satuan Brimob, Dalmas Polres Mimika dan Satgas
Amule, untuk melerai bentrokan tersebut, tapi para pelaku tidak mau
didamaikan dan suasana memanas.
Andi Lolo mengatakan pemicu bentrokan adalah adanya seorang warga
dari Kampung Kimbeli yang meninggal pada 5 Oktober lalu di
Tembagapura. Kejadiannya, warga tersebut dalam keadaan mabuk dan
membuat keributan masuk ke lokasi Tembagapura, oleh karyawan yang
melihat kejadian itu dilaporkan kepada securiti. Melihat securiti
datang, warga tersebut berlari ketakutan ke ujung bangunan yang
bertingkat itu dan melompat setinggi enam meter ke tanah sehingga
lehernya patah dan meninggal.
Akibat kejadian itu pihak Tembagapura memberikan santunan untuk
penguburan Masalahnya berbuntut panjang, karena ada isu yang
dilansir oleh warga, santunan itu pembagiannya tidak adil dan
dihabiskan oleh Kepala Perang Suku, dengan tuduhan uang santunan itu
dibawa ke Timika untuk foya-foya. n
|
|