Kamis, 18 Oktober  2007

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5726

 

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Bentrokan di Mimika, 8 Korban Tewas



Oleh
Soehendarto/Odeodata H Julia

Jakarta-Bentrokan yang terjadi antarkampung Kimbeli dengan Banti-Waa di Kabupaten Mimika, Papua, sampai Kamis (18/10) siang ini masih terus berlanjut.

Dari laporan lapangan, korban tewas delapan orang, dan puluhan orang lainnya luka-luka.
Sementara itu, menurut laporan pihak kepolisian, korban tewas empat orang yang terdiri dari satu orang dari kampung Banti dan tiga orang kampung Kimbeli, sedangkan yang luka-luka seluruhnya 45 orang.
Wakapolda Papua Brigjen Andi Lolo ketika dihubungi SH per telepon, mengatakan tadi pagi sekitar pukul 10.00 terjadi lagi bentrokan antara warga masyarakat dari kedua kampung tersebut. Belum diketahui jumlah korban yang jatuh. Pada pukul 11.00 mereka menghentikan pertikaian, beristirahat untuk makan, dan kemudian masih dalam suasana yang tegang dan panas, dikhawatirkan akan terjadi bentrokan lagi.
“Kebiasaan mereka, kalau sudah bentrok seperti ini selalu menginginkan score tewas jumlahnya sama, baru ditempuh upaya perdamaian,” ujar Andi Lolo.
Menurut Andi, bentrokan terjadi Selasa (15/10), sejak kemarin Kapolres Mimika AKBP Kapolres Mimika AKBP Godhelp C Mansnembra bersama Ketua DPRD Mimika Yopi Kilangin, dan Komandan Kodim Mimika Letkol Inf. Tri Suseno telah berada di lokasi pertikaian bersama aparat keamanan dari satuan Brimob, Dalmas Polres Mimika dan Satgas Amule, untuk melerai bentrokan tersebut, tapi para pelaku tidak mau didamaikan dan suasana memanas.
Andi Lolo mengatakan pemicu bentrokan adalah adanya seorang warga dari Kampung Kimbeli yang meninggal pada 5 Oktober lalu di Tembagapura. Kejadiannya, warga tersebut dalam keadaan mabuk dan membuat keributan masuk ke lokasi Tembagapura, oleh karyawan yang melihat kejadian itu dilaporkan kepada securiti. Melihat securiti datang, warga tersebut berlari ketakutan ke ujung bangunan yang bertingkat itu dan melompat setinggi enam meter ke tanah sehingga lehernya patah dan meninggal.
Akibat kejadian itu pihak Tembagapura memberikan santunan untuk penguburan Masalahnya berbuntut panjang, karena ada isu yang dilansir oleh warga, santunan itu pembagiannya tidak adil dan dihabiskan oleh Kepala Perang Suku, dengan tuduhan uang santunan itu dibawa ke Timika untuk foya-foya. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003